ROPINGI
ROPINGI Guru

Ketika semua dimulai jangan pernah segera diakhiri

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Cermin | Anakku, Batal Jadi Presiden

12 Februari 2019   20:11 Diperbarui: 14 Februari 2019   17:12 205 30 15
Cermin  | Anakku, Batal Jadi Presiden
Pendidikan Karakter

Oleh ROPINGI

Hari ini kesedihanku bertubi-tubi. Temanku datang, "Kang, aku dapat musibah." Sambil memeluk erat tubuhku. Biasanya jika bertemu kami hanya salaman. Aku mengira pasti dia sedang mendapat musibah besar. Kubiarkan lama pelukan berlangsung. Akhirnya lepas juga. Kami duduk di teras.

"Aku dapat musibah. Anakku satu-satunya telah membuatku malu," dia memulai ceritanya.

Aku hanya menyaksikan raut wajah orang tua yang masgul tak terkira. Sendu sorot matanya. Dia menunduk. Air matanya jatuh. Lalu cepat-cepat diseka.

"Anaku yang SMA. Tadi baru selesai dipanggil gurunya. Disidang di ruang BK. Pulang ke rumah juga tidak bercerita," lanjutnya.

"Memangnya ada apa?" ucapku lirih menyelami kesusahan yang dideritanya.

"Aku malah tau dari tetangga," suaranya parau menahan sesak di dada.

Tak kuasa melanjutkan ceritanya. Suasana jadi hening.  Diam. Menarik napas dalam. Seakan rongga dadanya sakit terhimpit batu besar. Aku biarkan. Sambil memainkan gawai kunanti ceritanya berlanjut.

Setelah beberapa kali menarik napas dalam. Kemudian menyeka air mata yang mengalir pelan. Membetulkan duduknya. Sepertinya keberaniannya sudah bangkit.

"Anakku, Kang. Anakku satu-satunya telah membuatku malu. Padahal dulu, ketika kecil cita-citanya mau jadi Presiden. Namau kini semua sudah sudah hancur. Pupus seketika. Dia, Kang. Dia menghamili teman sekelasnya," ucapnya melanjutkan ceritanya.

Langsung isak tangisnya tak kuasa ditahan. Lama. Aku diam tak bersuara. Kaget tak terkira, kupendam kuat. Dalam hati hanya mampu terucap. Astaghfirullah ya Allah. Sesak napasku seketika. Terbayang, bagaimana jika yang melakukan itu anakku.

"Aku harus bagaimana, Kang?" lanjutnya.

"Datangi saja keluarga perempuannya, Kang." pelan suaraku menenangkan.

"Terus." ucapnya melanjutkan ceritanya.

"Lamar baik-baik. Sudah suratan takdir. Mau seperti apalagi. Kita orang tua kadang menyesal setelah kejadian." suaraku ikut serak.

"Tapi, yang melakukan itu bukan anakku saja. Berlima. Aku harus bagaimana?" keluhnya.

"Gak papa. Semua sudah terjadi. Memang harus ada yang bertanggung jawab. Lapangkan dada saja," lanjutku menguatkan semangatnya.

Cerita lanjutannya adalah tentang teknis pelaksanaan pernikahan. Tentang rasa malu yang diderita seluruh anggota keluarga. Dan kecemasan pekerjaan yang layak dikerjakan anaknya setelah nanti berkeluarga. Hanya satu, rejeki setiap manusia sudah tertulis rapi dalam catatan Yang Maha Kuasa.

Kesedihanku berlanjut, ketika kuingat rekanku yang lain pernah bercerita. Beberapa bulan yang lalu. Anak gadisnya juga mengalami nasib yang sama. Dihamili teman sekelasnya. Berhenti sekolah juga. Nikah. Kini sudah hamil tua.

Bayang wajah kesedihan yang sama. Anak laki-laki yang menghamili  dan anak perempuan yang dihamili. Menyisakan kesedihan yang mendalam bagi kedua orang tua dan seluruh anggota keluarga.

Ibarat nasi sudah jadi bubur. Setiap kejadian pasti ada asal muasalnya. Perhatian orang tua terhadap putra putrinya memang menjadi yang terpenting. Agar kejadian tidak terulang lagi. Pada orang tua mana pun.

Dalam hati aku berdoa. Semoga anak laki-lakiku satu-satu bisa menjaga diri dalam pergaulan. Ponakanku beberapa orang perempuan juga sudah menginjak remaja. Semoga semua mampu melewati dengan waspada.

Tanah Bumbu, 12 Februari 2019