ROPINGI
ROPINGI Pendidik

Ketika semua dimulai jangan pernah segera diakhiri

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Arakan Orang-orangan, Jadi Pejantan

12 Februari 2019   13:43 Diperbarui: 12 Februari 2019   13:59 163 38 8
Arakan Orang-orangan, Jadi Pejantan
Dok: Unik BaBe

Oleh ROPINGI

Kulihat arakan orang-orangan sawah digiring ke kiri ke kanan jalan. Sontak berubah haluan. Burung pipit bergerombol mentertawakan. Orang-orangan berubah jadi alat kemenangan. Bebaris di jalan simpang-simpang. Tidak menakuti burung pipit terbang.

Orang-orangan tak perlu diberi makan. Nasi sebungkus sudah mengenyangkan untuk empat tahunan. Tak punya malu tak ada kata ragu atau kasihan. Mati pun tak bakal kau hiraukan.  Angkat bendera simbol gantungan takkan lelah berdiri seharian.

Berbaris di pagi hari ketika sebelum tidur sudah ikat janji. Yang penting bisa angkat jari, mulut bau keluar caci maki. Padahal kami tidak peduli.

Dua tangan diangkat tinggi berdiri tegap kram kaki tak terasa lagi. Mencium bau ketek tidak terasa ngeri asal teriakan terdengar di sana sini. Aku melihat geleng-geleng kepala sendiri. Padahal, orang-orangan tak punya tangan dan kaki.

Kulihat arakan orang-orangan. Merasa paling benar dengan semua ucapan. Semua media engkau jadikan lahan kebencianmu tidak beralasan. Harusnya malu jika esok lusa mungkin akan kau perjuangkan. Asal amplop tebal diselipkan. Pada baju bekas robek-robekan.

Ibarat orang-orangan adalah ayam. Antri berbaris di pelataran rumah majikan. Berteriak nyaring meminta umpan. Tak lama kemudian digiring masuk ke dalam kandang kematian. Dimasak sedikit jadi bekakak nikmat sebentar lagi tersaji di atas meja makan.

Ketika saat itu tiba, kau hanya jadi santapan makan siang. Setelah itu, tempatmu adalah jamban.

Tanah Bumbu, 12 Februari 2019