ROPINGI
ROPINGI Guru

Ketika semua dimulai jangan pernah segera diakhiri

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Puisi | Sengaja Lupa

7 Februari 2019   22:46 Diperbarui: 8 Februari 2019   00:02 194 37 15
Puisi  |  Sengaja Lupa
Pixabay.com

Oleh ROPINGI

Jangan berkata, kalau kau sedang lupa. Untuk sebuah alasan, banyak kenangan indah dibiarkan menganga. Ucapan terlontar sederas panah melesat mengenai siapa saja. Lalu, kau bilang: maaf aku sudah lupa.

Ketika pagi, amarah medelak hancurkan hati. Babak belur kelembutan terkubur. Senyum manis luntur. Tawa renyah remuk jadi remah-remah berserak. Semangat lebur dalam kubangan lumpur.

Padahal, berlimpah air suci siap mengucur. Basahi kening-kening kabur. Meresap menusuk hingga relung terdalam berkubur. Siap sirami jiwa mati kemudian tumbuh dan subur kembali.

Lihatlah, anak TK pulang sekolah riuh asyik bercanda dengan temannya. Tak ada duka meski secuil saja. Hanya satu ada di kepala. Setelah ini kita bermain apa?

Lihatlah kita -- aku, kamu, dia, mereka -- tidak akan sama. Beban berat menindih punggung retak. Mencari yang sudah ada. Meminta, padahal berlimpah ruah diberikan.

Matahari sepenggalah pagi isaratkan emosi tak pernah mati. Tak pernah ingkar janji. Tak pernah berteriak menyerah, meski awan gelap menyelimuti. Terus berotasi lupa berhenti.

Setelah semua terbentang di depan mata kepala. Derita menyiksa tetap dinikmati dengan tertawa. Padahal perih, ditanggung juga. Dihamparkan jalan lebar terbuka. Lalu, tetap lupa.

Sebenarnya yang kau inginkan apa?

Tanah Bumbu, 7 Februari 2019