ROPINGI
ROPINGI Guru

Ketika semua dimulai jangan pernah segera diakhiri

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Prosais | Beliung Dalam

4 Februari 2019   23:06 Diperbarui: 5 Februari 2019   07:28 131 39 14
Prosais  |  Beliung Dalam
Pixabay.com

Dalam penantian panjang, aku di sini. 

Dalam perahu kecil nelayan pulau Sembilan. Antar laut Jawa dan selat Makasar. Arus merah dan biru menyatu hingga Beliung Dalam. Siap memangsa kapal besar para pesiar.

Basah kuyup, setelah semalaman diguyur hujan badai angin tenggara menjelang pagi. Angin utara tadi malam tinggalkan luka menganga. Keluargaku semua telah tiada. Dimakan angin dingin Beliung Dalam.

Dalam penantian panjang, aku di sini. 

Bimbang pada dua pilihan. Makasar dengan pantai yang lebar. Atau ke Jawa menjemput tongkang-tongkang besar kubawa pulang ke Kalimantan. Untuk dipenuhi batubara bertumpuk lalu kumakankan pada Beliung Dalam.

Dalam penantian panjang, aku di sini. 

Ketika aku selamat. Akan kusebrangkan sawit dan karet semuanya untuk makanan Beliung Dalam. Persembahan kemakmuran penghuni lautan.

Kami orang Kalimantan tak kenyang dengan sawit bertebaran di tengah jalan. Tercekik leher kehausan dengan sawit larut dalam sungai-sungai pedalaman. Keruhkan air, biawak mati kelaparan. Ikan mati kehausan.

Dalam penantian panjang, aku di sini. 

Kini aku di Jakarta. Gedung pencakar langit rebutan menggapai dan berdansa dengan awan. Aku lihat, tanda tangan pada lembar kertas terjadi dalam bilik-biliknya. Sambil pesta minuman merah tua. Salaman dan tertawa. Semua milik kita, begitu katanya.

Dalam penantian panjang, aku di sini. 

Di sebuah desa pedalaman Bukit Meratus. Bertelabang dada telanjang. Parang panjang terikat di pinggang. Berjalan susuri hutan-hutan yang bertuan. Bekantan jantan bersautan minta diberi makan. Jerit pilu kelaparan.

Kawanan belatuk menangis tak ada dahan dipatuk, menanti musim buah datang, lalu meringis. Hutan lapang bukan padang ilalang. Bukan pula tanah gersang.

Dalam penantian panjang, aku di sini. 

Malu pada diri sendiri. Merah padam pada kapling-kapling bertuan. Gunung kami tiada lagi. Anak cucu akan bertanya ketika ajalku tiba.

Kami semua, Kakek sisakan apa? (Tebal isi dompet Beliung Dalam)

Tanah Bumbu, 4 Februari 2019