Mohon tunggu...
Ropingi Surobledhek
Ropingi Surobledhek Mohon Tunggu... Belajar hidup

Cukup ini saja

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Puisi | "Of"

25 Januari 2019   08:57 Diperbarui: 25 Januari 2019   10:28 0 44 19 Mohon Tunggu...
Puisi | "Of"
Pixabay.com

Kereta reguler, kelas eksekutif sediakan falisitas menarik. Harga mahal sedikit. Tidak mengapa. Meski mahal semua gerbong terisi penuh.

Kereta reguler, kelas bisnis duduk berderet. Kursi empuk. Enak tidur. Perjalanan tak terasa.

Kereta reguler, kelas ekonomi untuk mereka berpendapatan menengah ke bawah. Fasilitas seadanya. Tetap nyaman hingga sampai tujuan.

Kereta baru, kereta ekspres dengan rel istimewa. Rekayasa lalulintas kereta yang aku buat sangat terencana dengan seluruh keahlian bertahun lamanya. Sementara jabatanku saat ini adalah tukang parkirnya.

Berikut ceritanya:
Menanti adegan, kereta melaju pada relnya. Sekedar bersenang-senang kucoba buat rel baru. Rel ekspres. Cepat. Kilat. Melekat. Erat. Banyak yang naik. Mencari nikmat yang lain.

Secarik pesan tertinggal mirip spanduk besar, lebih besar dari baliho wajah anggota dewan berebut kursi pemilihan di pintu depan stasiun: jika nanti kereta reguler tak bisa membuatku tertidur, jemput aku temani hingga aku pulas.

Aku tukang parkir kereta nakal. Aku pintar. Kukumpulkan penumpang sendirian yang kesepian dengan beban berat yang sulit dilepaskan. Tujuan perjalanan sudah tertulis di tiket keberangkatan. Memotong jalan pintas. Kuberi nama kereta ekspres.

Kelana insomnia, pedagang asongan, penjahat kambuhan, pencuri kaleng susu, pencerah kewalahan, dan banyak jenis lain lupa apa saja namanya. Semua minta bantuan. Sekedar sisa waktu. Gerbong sempit kubuat memanjang. Jika berdesak dan mulai sarat, kuturunkan sebagian.

Ada keringat kelelahan. Keringat kebosanan. Keringat kesepian. Keringat minta pembelajaran. Keringat kesombongan.

Kupilah berdasar keperluan. Berkelompok sesuai kebutuhan.  Berderet. Kugilir sesuai antrian. Siapa yang paling memberikan kenikmatan. Dialah yang paling dahulu berdiri di depan pintu. Dipersilakan masuk dan menikmati hidangan persembahan.

Tidak cukup sampai di sini. Pertengkaran sering terjadi. Antrian minta didahulukan. Cemburu, merasa kurang perhatian. Kurang pengertian. Kurang kemesraan. Padahal aku hanya tukang parkir kereta ekspres. Tugasku hanya membuat penumpang nyaman.

Rekomendasi untuk mencicipi tidak banyak aku punyai. Mereka semua percaya. Aku pasti bisa. Selamat hingga tujuan akhirnya. Bukan tipu muslihat. Padahal semua sia-sia.

Untuk sebuah alasan. Kereta ekspres eksis bukan untuk debat-debatan. Hanya untuk asyik-asyikan. Diantar riuh bosan dan kebosanan. Diantara sibuk dan kesibukan.

Jika suka, silakan merapat ke gerbong pertama. Gerbong para pemburu cinta. Ada nikmat tersaji. Tapi hanya sementara.

Jika suka, silakan masuk gerbong ke dua. Gerbong para pemburu cita-cita. Tak peduli tua atau muda. Nenek-nenek tidak mengapa.

Jika suka, silakan masuk gerbong ke tiga. Gerbong para penikmat cinta. Padahal hanya imajinasi belaka. Semua suka.

Gerbong ke empat. Hanya untuk mereka yang merasa terhormat. Mereka yang merasa nikmat berdiri di depan cermin.

Berlama memandangi wajah. Memoles bibir tipis, alis mata palsu. Merah jambu pipi merona. Bukan itu saja. Juga bagi yang lama bergoyang pamerkan pinggang ramping. Dada besar. Bokong besar. Padahal cermin marah. Jengah si cantik yang terlalu ponggah.

Dalam gerbong berdesak. Di mataku mereka sama. Hanya kata tak bermakna. Bangga dengan penampilan menyala. Padahal tujuan sama: buat aku puas segera.

Gila!
Rel kereta ekspres rawan kecelakaan. Rawan patah hancur berserakan. Dengan sebuah ketukan kecil.

Of...,

Kereta ekspres akan menghilang. Kemudian sulit ditemukan. Jamak diketahui. Mereka tidak peduli. Yang penting telah ditemani.

Aku, tukang parkir kereta ekspres. Harta berhargaku: dua jempol, satu gawai jadul, dan kuota satu giga sebulan. Apa yang bisa kamu harapkan?

Tanah Bumbu, 25 Januari 2019

KONTEN MENARIK LAINNYA
x