Mohon tunggu...
ROPINGI
ROPINGI Mohon Tunggu... Guru

Jika sudah dimulai jangan pernah segera diakhiri

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Kakek

12 Januari 2019   19:21 Diperbarui: 13 Januari 2019   16:49 0 38 18 Mohon Tunggu...
Cerpen | Kakek
Pixabay.com

Tadi di pinggir jalan ada kejadian menggelitik. Aku duduk di sebelah pedagang buah. Kelelahan setelah keliling menjajakan ikan hasil pancingan. Ibu muda pedagang buah kaki lima bertemu pembeli yang menggemaskan. Kakek-kakek padahal.

"Pilih, Kek. Pilih saja, Kakek mau beli yang mana?"

Kakek melirik sebentar tak menjawab. Asyik memilih buah-buah yang ada. Bila ketemu buah yang beraroma, buah itu diciumnya. Terlihat sangat menikmati aroma buah itu. Jika buah yang dipegang bulat, dielus-elus lama. Didekatkan ke wajahnya diamati dengan seksama. Lalu ditaruh lagi.

Pedagang buah mengamati kelakuan Kakek. Mencurigakan. Takut berkomentar. Kadang berteriak menawarkan buah pada calon pembeli yang lewat.

"Nak, minta kresek boleh?" ucap kakek tiba-tiba.

"Yang besar dan tebal ya." timpalnya.

Merasa akan dibeli buahnya pedagan itu semangat memilihkan plastik besar dan kuat. Disodorkan dan diterima.

"Mau beli yang mana, Kek."

"Saya pilih sendiri ya. Nanti jika sudah terkumpul dalam kresek baru itung harganya berapa. Mohon maaf. Tapi saya tidak akan menawar koq." sahut kakek lirih sambil membolak balik bauh dari tumpukannya.

Aku juga heran. Setiap tumpukan buah dipilih satu persatu. Dicium. Ditaruh lagi. Diperhatikan setiap detail kulit buahnya. Ditaruh lagi dipilih lagi.

"Kek, jangan dibolak-balik seperti itu." celetuk pedagang.

Kakek tersenyum, "Nanti saya kembalikan ke tempat semula."

Hampir 20 macam buah yang dijual berderet dalam setiap kotaknya dibongkar satu persatu.

"Sudah belum, Kek?" celetuk pedagang buah mulai marah.

"Sedikit lagi. Masih banyak yang akan dibeli ini." sahut kakek pelan tenang saja tidak menoleh sedikit pun.

Singatku. Hampir satu jam kakek berdiri membolak-balik tumpukan buah. Dari buah yang satu ke buah lainnya. Dalam setiap jenis tumpukan diambil satu atau dua biji saja.

Kresek yang diberikan pedagang tadi belum juga separo isinya. Sepertinya baru mangga dua biji, alpukat sebiji. Jambu biji dua biji. Apel merah sebiji. Apel hijau 3 biji.

"Masih lama, Kek?" kata pedagang mulai marah.

Para pembeli datang dan pergi tidak ada yang jadi membeli. Hanya melihat menawar memilih lalu berlalu.

Cemberut wajah pedagang terlihat jelas. Sementara kakek gigih memilih satu persatu buah tak kenal lelah.

"Sudah belum, Kek? suaranya nyaring.

"Belum, Nak. Sedikit lagi."

"Aduh, Kek! Gara-gara Kakek pembeli saya pada gak jadi beli."

"Maaf, Nak."

"Cepetan, Kek!"

"Iya. Ini juga lagi milih."

"Kakek pilih-pilih buahnya di tempat lain aja, Kek."

"Sedikit lagi."

"Buah saya buat dibeli, Kek. Bukan buat dipilih saja. Rugi saya kalau begini."

"Sabar, Nak."

"Sejak tadi Kakek datang. Tak seorang pun yang mau belanja ke sini jadi beli buah saya. Kakek sih!" teriaknya nyaring.

"Maaf."

Mendengar keributan itu beberapa orang yang lalu berhenti dan mendekat. Kakek malu. Kemudian menyelesaikan pilih-pilih buah itu. Bergegas mengikat kresek buah yang sudah dipilihnya tadi.

"Ada apa, Bu? Tanya salah seorang dari kerumunan itu.

"Kakek ini. Sejak pagi tadi memilih-milih buah saya. Lama. Belinya tidak seberapa juga. Tapi beberapa pembeli lain tidak jadi beli gara-gara Kakek ini ada di sini. Kan, saya jadi rugi. Harusnya beli itu pilih trus timbang trus bayar. Ini tidak! Beli sedikit. Pilih-pilihnya berjam-jam. Kan, saya rugi!" ngomel menarik perhatian.

Kerumunan kian banyak. Pedagang buah merasa mendapat dukungan. Banyak yang menyaksikan. Omelannya kian tidak beraturan.

Sementara selesai mengemas buah ditangan, Kakek pergi. Meninggalkan amplop putih. Dan menghilang diantara kerumunan orang.

Aku tercengang. Tak tau cara menenangkan ibu pedagang tadi. Lalu kuikuti Kakek tadi dari belakang.

"Maaf, Kek," ucapanku dari belakang mengagetkan Kakek.

"Iya," sahutnya menghentikan langkah dan menoleh ke belakang.

"Memang buah ini untuk siapa, Kek?"

"Untuk anak tetangga. Dia sakit. Tidak ada ayah. Hanya bersama Ibunya di rumah. Kebetulan Ibunya itu biasa mbantuin cuci masak di rumah kami. Sering cerita kalau anaknya ingin sekali makan buah. Tapi tidak bisa membelikan."

"Trus."

"Kata Ibunya, kadang sepulang sekolah sering berdiri dan memperhatikan deretan buah dari seberang jalan. Aku kasian. Sekarang Dia lagi sakit. Jadi aku akan berikan buah terbaik yang bisa aku pilih. Sebagai hadiah untuknya. Siapa tau sembuh setelah makan buah terbaik dariku. Tadi aku pulang ambil gaji pensiunanku. Hanya untuk beli buah terbaik itu." cerita kakek selesai sambil menepuk pundakku berkali-kali kemudian pergi.

Berlalu meninggalkan aku yang masih diam terpaku. Apa yang bisa aku lakukan agar anak dan istriku bisa senang?