ROPINGI
ROPINGI Guru

Ketika semua dimulai jangan pernah segera mengakhiri

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Prosais | Seumpama Wijaya Kusuma

11 Januari 2019   10:49 Diperbarui: 11 Januari 2019   12:45 293 37 18
Prosais  | Seumpama Wijaya Kusuma
Pixabay.com


Oleh ROPINGI

Ketika mimpi terjaga panggilan mesra di balik pembaringan kuberdiri mematung memeriksa diri:

Seumpama penghambaan -- ketika pesta malam tiba. Di ruang yang diisi tak terhingga pembesar dunia. Konglomerat kumpul semua. Sang tuan rumah adalah raja segala pembesar. Bosnya konglomerat. Gurunya segala guru. Dan aku hanya manusia biasa tidak punya apa-apa. Anak buah terendah.

Tuan rumah kita beri nama Wijaya Kusuma.

Duduk di singgasana megah. Kursi emas berlian bercahaya terang tidak menyilaukan mata. Lampu gemerlap warna ungu. Indah menggoda membuat takjub undangan yang ada. Langit ruang luas terbentang. Kerlap kerlip bintang, bulan lari-lari berkejaran.

Dengan gemetar. Pakaian kusut kumal. Bau keringat penuh daki. Mencoba mendekat menuju Wijaya Kusuma. Keringat bercucuran. Harapan kecil diaucahkan. Diusir dari ruang gemerlapan. Diejek seluruh undangan. Dilempar paksa diseret algojo perkasa wajah garang menyeramkan.

Dalam hati kupikir. Aku adalah tamu undangan. Wajar jika kesempatanku sama. Maka dengan seluruh kekuatan kuseret kakiku mendekat. Membungkuk malu jalan tegak.

Lalu terjadilah percakapan:

"Duhai Wijaya Kusuma, dengan seluruh keadaanku. Kotor badan daki tebal lengket susah dibersihkan. Malam ini aku ingin menyebut namamu." ucapku terbata tak kuasa menatap.

Tak kuasa menatap. Cemas menanti telunjuk mengangkat. Perintahkan algojo penggal kepala. Diriku tak pantas ada dihadapannya.

Tiba-tiba, menggelegar suara indah kumandangkan pemberitahuan.

"Hai..., kalian para undangan. Hentikan semua kegiatan. Lihat sini. Redam suara riuh sekarang. Tatap siapa orang yang ada dihadapanku. Dengarkan. Lirih suara panggilannya menyebut namaku. Maka aku bangga sudah disebut namaku. Ikuti apa yang dia kerjakan."

"Duhai Wijaya Kusuma, engkau begitu ramah. Engkau begitu pengasih tak pilih kasih. Engkau penyayang tak pandang sayang." lirih terbata suaraku terdengar samar-samar.

"Kalian semua lihat sini, perhatikan orang ini saat ini sedang memujiku. Aku cinta dia memujiku begitu rupa."

Deras air mata jatuh luruh tak terbendung. Basah baju kumal selana rombeng oleh air mata. Lantai tempat kuberdiri basah.

"Duhai Wijaya Kusuma, engkau adalah raja segala raja. Raja dari semua penguasa raja menembus ruang dan waktu."

"Duhai para undangan. Dia sudah menyaksikan betapa luas kuasaku. Kalian semua yang merasa berkuasa. Ketahuilah. Akulah penguasamu."

Lunglai seluruh sendi. Kupaksa tetap berdiri. Dengan seluruh kekuatan kusampaikan kata penghabisan.

"Duhai Wijaya Kusuma. Mulai malam ini aku akan sujud mengakui kau adalah sembahanku. Tiada yang lain yang layak disembah. Hidup dan matiku hanya untukmu." ucap lirih tak kuasa kulanjutkan.

Tersungkur jatuh kepalaku.

"Wahai kalian semua. Saksikan! Ini adalah perjanjian aku dengan hambaku. Apapun yang dia minta semua kesalahannya aku hapuskan. Bajunya akan aku ganti dengan kebesaran. Rejeki berlimpah aku curahkan padanya. Bahkan sebelum permintaan diucapkan. Saksikan! Saksikan! Dan aku tidak pernah ingkar janji" --- pesta tak pernah berakhir.


Lalu....

Ketika sumpah pengabdian menguak gegap, adalah perjanjian denganmu maka camkanlah sumpah ini: semua ingatanmu dalam genggam-Ku

Jalan lurus terbentang -- kiri kanan pohon rimbun dedauan sejuk menawan; bunga aneka warna harum semerbak menggoda; buah beribu macam mengenyangkan; air mancur dingin legakan kerongkongan; air mengalir kilaukan lupa derita;  nikmat tak terbayangkan -- tak berujung,

jalan berliku -- binatang kelaparan siap terkam mangsa remuk sekejap utuh sediakala; bangkai orang hari-hari kau cela gibahkan; darah nanah bau amis siram untuk hidangan; panas menyengat pengap bakar hingga tulang belulang -- entah berakhir kapan.

Dan aku mendekat hanya mampu berucap lirih hati mendidih bersama riuh suara undangan: Aamin.

Ada yang tersungkur terjatuh lalu sujud menyesali diri. Ada yang tersenyum getir. Kemudian berkata, "Akh... itu dongen belaka."

Tanah Bumbu, 11 Januari 2019