ROPINGI
ROPINGI Guru

Ketika semua dimulai jangan pernah segera diakhiri

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Prosais | Kumandang

11 Januari 2019   00:53 Diperbarui: 11 Januari 2019   02:01 276 34 16
Prosais  |  Kumandang
Kompasiana.com

Oleh : ROPINGI

Mengapa setiap hari ada duka. Gelisah panas hujan istri suami tersayang berangkat banting tulang peras keringat masih mengeluh keluh luruh lesuh.

Tangisan anak kehausan kelaparan minta recehan di jalan ikuti sela lampu merah tunggu belas kasih perut buncit cemberut terganggu dalam mobil mewah kemudian umpat mengapa mereka tidak mati saja sekalian?

Lihatlah betapa ikan di tengah laut setiap hari berjuta ton kau ambil dengan kapal besar penuhi perut laparmu lapar perusahaanmu, siapa pemberi makan mereka?

Dengarkan ketika nenek menjelang tidurmu bercerita tentang Hajar yang ditinggalkan suami di tengah gurun pasir, anak masih dalam susuan tidak ada apapun di sana. Air minum tidak seteguk pun tersisa, siapa yang penjaga dahaga mereka?

Sejarah usang, Khalid bin Walid panglima perang selau menang di medan perang tak pernah kalah tak pernah mati bertempur di atas ranjang wafat dengan tenang. Tak ada kulit tersisa selain sayatan pedang. Lalu siapa yang membuat menang?

Dan ketika hati rintih tangis duka tengah malam buta istri ditinggal suami padu kasih dengan istri kedua tiga dan selebihnya pada siapa meminta gembira angkat duka?

Bukan itu saja, jutaan cerita pilu belalakan mata tak kuasa terpejam untuk sebuah akuan kekayaan atau kemiskinan. Tergaris jelas langit turunkan hujan banjir porak porandakan kering kerontang belahkan lapangan kematian kehausan siapa yang datangkan tegukan menyegarkan?

Padahal semua manusia punya rasa tak pernah kuasa ubah secuil juga lalu pada siapa sembahan diberikan hanya kita yang tau mau apa setelah semua berlalu dan keputusan besar ada di tanganmu juga di tanganku. Selebihnya nikmat mana yang kita dustakan?

Tanah Bumbu, 11 Jan 2019