ROPINGI
ROPINGI Guru

Ketika semua dimulai jangan pernah segera mengakhiri

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Menyerah

10 Januari 2019   19:38 Diperbarui: 10 Januari 2019   21:14 183 22 9
Menyerah
Parenting - Dream

"Yah... Temani makan dong."

"Ya...."

"Sini. Duduk sini jangan jauh-jauh."

"Iyaa."

"Minumnya dekatin dong."

"Hmm."

"Ikh... Ayah. Jangan yang itu. Yang merah itu gelasnya lho...."

"Ini."

"Duh. Cepetan dong."

"Ya."

Istriku hamil tua. Manjanya tidak terkira. Tidak habis pikir aku dibuatnya. Selalu ada salah setiap yang aku kerjakan. Kurang apalagi. Semua yang diminta terpenuhi.

Suatu ketika, minta dibelikan mangga. Kupikir nyidam kedua. Hamil besar masih pengen minta mangga. Kubelikan tiga. Gede. Mateng. Manis kira-kira. Penjualnya bilang mangga terbaik. Pasti manis dan paling mahal diantara semua jenis mangga yang dijual.

"Yah.... kupasin dong."

"Ya."

"Jangan lupa lho cuci dulu mangganya."

"Iya sayang."

"Oh iya, Yah. Gula merahnya sekalian ya jangan lupa."

"Masya Allah!" gumamku. 

"Sabar ya Allah," sautku lirih agar tak terdengar olehnya. 

Jika terdengsar pasti panjang omelannya.

"Iya...," jawabku seadanya.

"Tuh kan! Piringnya kecil banget. Kembalikan, Yah."

"Iya," sahutku kembali ke rak piring ambil nampan besar.

"Cepat, Yah," teriaknya mulai tak sabar. 

Duduk bersandar. Remote TV di tangan sambil ganti-ganti cannel. Selonjoran, ujung kali ditupang tak henti gerak-gerak. Mulut nyerocos tak komat-kamit komentari siaran tak ada yang menarik hatinya.

Kukupas mangga sesuai pandauan. Kedap-kedip matanya menatap potongan mangga yang aku lakukan. Aku sangat hati-hati hingga tak ada komentar lagi. Tetap saja salah.

"Yah, jangan tebal-tebal kulitnya. Sayang banyak yang terbuang."

"Iya."

"Tuh kan, gula merahnya belum diuleg. Gimana ini, Yah."

"Iya. Sebentar. Selesaikan ini dulu ya."

"Yah, kenapa lama. Baru satu. Masih dua lagi. Kapan selesainya itu."

"Iya. Sabar, Sayang. Sebentar lagi."

"Bawa sini, Ibu mau coba."

Kusodorkan kupasan mangga ke dekatnya. Kemudian mengambil cobek, air, bawang putih dan garam.

"Yah, koq asem. Aduh gak enak ini. Gimana sih, Ayah."

"Kata penjualnya manis, Ibu."

"Harusnya dicoba," ucapnya.

Tak lepas-lepas tangan keluar masuk mulut mengambil.mangga yang ada di piring. Separo mangga sudah masuk mulut semua sekejap.

"Sudah belum, Yah," teriaknya minta sambel segera tiba.

"Sedikit lagi. Belum kalis ini."

"Cepetan, Yah."

Hilang kesabaranku. Ku lepas uleg dan cobeknya. Berdiri sambil menjauh keluar rumah tanpa berkata.

Jika tau begini pasti akan aku isap itunya supaya jera. Dulu waktu dalam perut ibunya nyidam apa. Baru hamil saja sudah sedemikan manjanya. Apalagi nanti lahir anak kami. Kurang apa. Ibunya manja. Anaknya juga. Menyerah sudah aku pokoknya.