ROPINGI
ROPINGI Guru

Ketika semua dimulai jangan pernah segera mengakhiri

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Puisi | Tikus dan Kampret Bersaudara

7 November 2018   18:35 Diperbarui: 7 November 2018   18:44 236 4 1

Kampret berteriak memanggil penjaga. Tikus nyinyir sambil kentut, "Prajuridku ambil jika masih kurang, nanti tak seret kesini."

Kampret tertawa.

Betul juga, belakangan ini makin banyak saja yang mengincar menggantikan kita.

Sekalian tuh para penyadap, gelandang ke sini juga.

Tikus menyisir tepi lorong siang malam. Mencicit mengintip brangkas terkunci. Menciumi lembaran kertas merah biru sambil tertawa. Menggigit pelan menunggu penjaga lupa. Mengobrak-abrik tatanan yang ada. Bertengger di gedung pencakar langit berteriak ke seluruh negeri. Berak berhamburan menutup muka. Bersembunyi, aroma menyebar kemana-mana.

Suatu ketika tikus mulai berakhir kekuasaannya. Dipanggil saudaranya, kampret. "Aku pinjam kunci brangkas mu. Sebentar ku buat kenyang hari ini saja."  Mereka akan jadi tiang kursiku. "Bah, ingat lho nanti kembalikan segera." Kontainer, batubara, sawit, emas, nikel, tembaga dan semuanya pasti jadi milikmu juga.

Kampret bergantung di plafon menanti mangsa. Mengumpulkan sembako dalam gudang-gudang bertingkat. Menutup muka berjubah perhiasan dunia. Mengepak memamerkan harta kepada kita. Menggigit yang sakit mengunyah yang sengsara. Menciumi bangkai meringis bahagia.

Tikus dan kampret mereka memang bersaudara. Menyebarkan virus kemana-mana. Sampai lupa apa yang mereka punya mau ditaruh dimana?