Mohon tunggu...
Rono Digdoyo
Rono Digdoyo Mohon Tunggu... -

gusti allah ora sare, "nanduro sing jero" mengko "dipikul duwur", sak bejo-bejo ne wong edan isih bejo wong eling

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Matinya Empati Biang Anarki

10 Oktober 2012   06:09 Diperbarui: 24 Juni 2015   22:59 98
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Mungkin saya yang sudah out of date, sehingga kadang-kadang merasa kurang nyaman dengan gaya anak-anak muda sekarang.  Beberapa tahun yang lalu ketika di Jakarta ketemu saudara yang usia nya berapa belas tahun lebih muda dan bertanya tentang sesuatu, dijawab dengan idiom baru buat saya “tau ah gelap”. Saya jadi merasa kurang dihargai tapi berbaik sangka saja mungkin sudah kebiasaan dan dimaksudkan untuk menambah keakraban.

Sekarang kalau melihat status FB para ABG dan bahkan mahasiswa, rasanya kok malah lebih mengerikan. Saya agak sulit membayangkan bagaimana rasanya ketika sedang galau dan perlu curhat untuk mencari empati dari teman dijawab dengan emang dah DL (derita loe), EGP(emang gue pikirin), SWGTL (so what gitu lhoh) atau emang gue harus koprol sambil bilang wow gitu! Celakanya istilah itu sangat ngetrend dan selalu menghiasi beranda FB dan bahkan berbagai mass media baik cetak maupun elektronika.

Mungkin terlalu berlebihan menyimpulkan budaya pop tersebut dengan matinya empati anak muda zaman sekarang. Tetapi jika itu terus diulang-ulang bahkan sebagai tanda gaul atau tidaknya seseorang mungkin bisa berakibat menurunnya rasa simpati dan empati seseorang. Tanpa rasa simpati dan empati maka manusia menjadi sangat egois dan tak pernah berpikir merasakan penderitaan orang lain. Jadi ya nggak heran jika aremania bisa memukuli seorang tukang tambal ban gara-gara ada motor dengan plat L didepan kiosnya atau pelajar dengan ringannya menyabetkan clurit ke pelajar yang lain karena emosi sesaat. Pasti mereka tidak pernah membayangkan jika mereka di posisi korban.

Ditambah saat ini semuanya diukur dengan uang, jadi orang tua juga hanya disibukkan dengan mencari uang dan lupa uang saja tidak cukup untuk mendidik anaknya. Suasana kehangatan dan damai di keluarga pasti sudah pergi entah kemana.  Ditambah lagi para pemuka masyarakat dan pejabat juga tidak bisa memberi teladan. Jadinya ya sakarepmu EGP, kalau jadi korban ya emang dah DL. Terus kalau begini ya SWGTL emangnya gue harus koprol sambil bilang wow gitu!

Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun