Mohon tunggu...
Ronald Anthony
Ronald Anthony Mohon Tunggu... Dosen - Penulis Lepas

Hanya seorang pembelajar yang masih terus belajar. Masih aktif berbagi cerita dan inspirasi kepada sahabat dan para mahasiswa. Serta saat ini masih aktif berceloteh ria di podcast Talk With Ronald Anthony on spotify.

Selanjutnya

Tutup

Diary

Saturday Morning #67 - "Silent Killer (1)"

11 September 2021   09:35 Diperbarui: 11 September 2021   09:38 29 1 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun

Hari-hari kebelakang banyak yang mengejutkan di media sosial saya, dimulai dari ada salah satu teman saya jaman kuliah yang berpulang karena sakit, sampai ada beberapa dari teman-teman seangkatan dan adik kelas saya yang memutuskan untuk melepaskan masa lajangnya. Mulai dari yang sederhana sunyi dalam senyap tahu-tahu sudah ada pengumuman nkahnya di gereja sampai ada juga yang kemudian baru di propose oleh pasangannya dengan dinner yang romantis.

Kalau kata mama saya, memang sudah masuk musim kawin, dan mungkin angkatan kalian sudah rata-rata siap untuk berumah tangga, kan lumayan anaknya nanti umurnya nggak jauh beda dengan orang tuanya Ujar Mama Saya. Benarkah demikian? Tentu itu murni pendapat mama saya saja, tapi pada dasarnya siap atau tidak siapnya anda sendiri lah yang lebih tahu ketimbang orang lain.

Yang jelas, soal kawin mengawini saya dengar langsung dari mulut sahabat saya yang juga siap akan melaksanakan pernikahannya dalam 2 bulan kedepan, "Ini masa bagus bro" Musim Corona, tidak perlu mengundang banyak orang, bisa "Ciak Tok" beberapa meja saja sudah hemat banyak. (Ciak Tok :Makan Besar bukan prasmanan). Ini kesempatan emas bro, hanya tinggal pemberkatan nikah di gereja kemudian ke restoran makan besar, sudah selesai. Langsung Gass Malam Pertama.. Wkwkwk

Mungkin ada benarnya, apa yang disampaikan oleh teman saya tersebut, tapi sayangnya hari ini media sosial menjadi sesuatu yang amat sangat mengerikan, bisa membuat orang terpana dan bahkan menjurus pada insecure, wah kok pernikahannya megah ya?, wah teman saya menikah, kok saya belum ya?. Kalau anda ingat beberapa bulan yang lalu di saturday morning saya pernah menulis soal privilege dalam hidup. Sekarang yang kita liat sekarang kan bisa jadi adalah salah satu dari privilege yang ia miliki, entah dimiliki oleh ia sendiri atau karena pengaruh dari orang tuanya. 

Gara-gara ini saya ingin membahas salah satu buku, yang saya ingat betul merupakan buku terlaris dan best seller dalam beberapa tahun terakhir, bahkan seingat saya di jajaran rak buku gramedia ini juga masih bertengger.  Judulnya The Gifts Of Imperfection. Buku ini sendiri membahas bagaimana kita bisa menerima diri kita apa adanya dan belajar melepaskan pandangan buruk orang lain terhadap diri kita sendiri. Tidak masalah apabila kamu tidak sempurna, ini adalah indahnya kehidupan. Banyak dari kita berusaha menjalani hidup sesuai dengan apa yang dikatakan oleh orang lain.

Kita sadari seringkali berusaha keras untuk menyesuaikan diri melakukan apa yang menurut orang lain baik. Apa yang terjadi bila kita terus menerus hidup seperti ini? Tentu saja, kita tidak akan bahagia. Brene penulis buku ini menekankan pentingnya untuk menerima dirimu apa adanya dan segala ketidaksempurnaan yang kamu miliki. Harapannya tentu saja, agar kamu bisa hidup dengan lebih bahagia. Apakah kamu mau ketika saatnya kamu mendekati kematian, kamu baru sadar kalau selama ini kamu hidup dalam kepalsuan?

Kamu tidak bisa menjadi dirimu sendiri dan selalu berusaha hidup sesuai dengan pandangan orang lain. Jika kamu ingin berubah kamu harus berhenti mempercayai kalau kamu harus menjadi sesuatu yang bukan dirimu, dan kamu harus mulai berpikir kalau diri kamu sekarang baik-baik saja apa adanya. 

Sebetulnya ada tiga poin yang ingin saya sampaikan, tapi karena akan menjadi panjang tulisan ini maka saya akan coba bahas juga dalam 2 tulisan saya kedepan, saya mau mengatakan poin pertama ini adalah poin pentingnya yaitu menjadi diri kita apa adanya, tanpa harus mendengarkan seperti apa masyarakat pikirkan tentang kita tentu saja tidak mudah. Apalagi di era media sosial sekarang, di mana ada tekanan sosial untuk terlihat keren, menjalani hidup yang sempurna dan bahagia.

Makanya, kita sering dengar, kok di media sosial dan ketemu aslinya, beda ya? Mungkin saja, hal ini terjadi karena, orang tersebut tidak percaya diri akan dirinya sendiri dan berusaha untuk menyesuaikan dengan pandangan orang lain. Pertanyaanya, mau sampai kapan seperti ini? Sampai kapan hidup dalam kepalsuan? 

Menjadi dirimu yang sesungguhnya adalah sebuah pilihan yang harus kamu buat setiap hari.  Saya setuju, ini merupakan pilihan untuk jujur bagi setiap orang. Pilihan untuk membiarkan dirimu yang sebenarnya untuk terlihat. Menjadi dirimu yang sesungguhnya dan seutuhnya berarti kamu punya kendali untuk menceritakan kisah hidupmu seperti apa.

Orang seringkali, membiarkan orang lain menilai dirimu, padahal penilaian itu sendiri munculnya karena interaksi antara anda dengan dia. Namun, penilaian orang itu seringkali menjadi patokan anda dalam menjalani hidupmu.  Pertanyaanya, apakah itu diri anda yang sebenarnya?. Sebagai contoh orang menilai kita pelit, hanya karena jarang traktir, padahal kita sedang berhemat untuk membeli sesuatu. Atau misalnya orang yang tidak suka keluar rumah atau nongkrong dianggap sebagai kuper atau tidak gaul, padahal bisa jadi ada alasan khusus mengapa ia begitu. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan