Mohon tunggu...
Ronald Anthony
Ronald Anthony Mohon Tunggu... Dosen - Penulis Lepas

Hanya seorang pembelajar yang masih terus belajar. Masih aktif berbagi cerita dan inspirasi kepada sahabat dan para mahasiswa. Serta saat ini masih aktif berceloteh ria di podcast Talk With Ronald Anthony on spotify.

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Saturday Morning #62 - "Mendadak Vaksin?"

31 Juli 2021   11:00 Diperbarui: 31 Juli 2021   20:55 80 4 1 Mohon Tunggu...

Orang Indonesia rasanya orang yang memang senang berdiskusi dan berdebat, apa saja didebatkan, mau divaksin atau tidak? kita debat. Vaksin tidak merata? kita berdebat lagi. Kemarin, saat pemerintah mengumumkan boleh vaksin berbayar? lagi-lagi berdebat. Rasa-rasanya di negeri kita ini, tak ada satupun yang tidak dilalui dengan debat. Sedikit sedikit didebatkan. Mau ke kanan debat. Mau ke kiri debat. (baca debat = ribut)

Padahal saat kita berdebat,di belahan bumi lain sudah banyak pencapaian-pencapaian baru yang orang dapatkan, keluar angkasa, robotik, dan penemuan-penemuan lainnya. Dan semuanya dilakukan "Tanpa Berdebat". 

Waktu pagelaran Euro kemarin digelar, teman-teman saya protes wah ini pasti konspirasi, masa di luar negeri bisa nggak pakai masker, dan nonton pertandingan langsung di stadion. Sedangkan kita yang mau beribadah saja susahnya setengah mati. Tentu teman saya ini menyampaikan hal itu dengan setengah bercanda, sambil sedikit-sedikit ke arah sarkas. Karena sebetulnya, ilmu paling penting dalam menghadapi pandemi ini harus dengan jernih, dan juga harus diinterpetasikannya secara logis, jangan sampai salah tafsir karena ujung-ujungnya anda nanti menganggap ini sebagai konspirasi. 

Apalagi, di masa-masa saat ini, di tengah kekhawatiran kita yang belum nampak kapan ujung dari pandemi ini, perang sesungguhnya sedang kita mulai bahkan mungkin sedang kita jalani. Yang jelas bukan perang melawan virus corona dengan varian-varian baru dan penyebarannya. Ada perang yang lebih bisa bikin anda frustrasi: Yaitu perang melawan pemahaman masyarakat, perang melawan kebijakan-kebijakan yang dibuat berdasarkan pertimbangan sosmed atau politik. 

Ironisnya, beberapa bulan sebelum second wave ini diumumkan, stok vaksin di Kota Pontianak melimpah, setidaknya itu yang disampaikan oleh tetangga saya yang perawat. Bahkan, Gencaran Vaksinasi terus dilakukan beberapa bulan terakhir, ada yang menggunakan nama Serbuan Vaksinasi, Gencaran Vaksinasi, dan sebagainya. Bahkan, tiap minggu hampir pasti saya akan selalu melihat orang mempromosikan vaksinasi seperti kacang goreng. 

Vaksinasi di Ayani Mega Mall Pontianak dokumen: shando safela
Vaksinasi di Ayani Mega Mall Pontianak dokumen: shando safela

Sejujurnya, saya hampir ikut bersalah jadi manusia Indonesia yang ribut soal ini. Beberapa bulan yang lalu, saya benar-benar tidak habis pikir, di saat PPKM Darurat, malah ada pemusatan vaksin di sebuah rumah adat, ramainya bukan main, puluhan ribu orang harus berkumpul disitu untuk antre vaksin. Iya kalau dapat, kalau tidak?.

Meskipun saya sadari maksudnya sangat baik, agar secepatnya sebanyak mungkin orang divaksin, minimal yang pertama. Tapi di saat PPKM darurat di Kota Potnianak diberlakukan, dan berkumpul tidak diperbolehkan, ini malah mengumpulkan puluhan ribu orang di satu tempat. Mungkin proses di dalamnya juga bisa ditata. Tapi di luarnya? Ampunnn!. Jalan padat macet. Parkir padat di mana-mana. Saya saja mau ke kantor harus mutar jalan 2 kali karena ad ajalan yang ditutup sebagai akibat penggunaan jalan untuk parkir.'

Tapi ya sudahlah. "NASBUR", nasi sudah menjadi bubur. Sentra Vaksinasi itu pun sudah berakhir. Semoga tidak terulang lagi kejadi-kejadian seperti ini. Toh, di sisi lain, masih banyak krisis lain yang perlu energi untuk mengatasinya. Karena masih banyak masyarakat yang menolak vaksin, dan masih banyak pula yang menolak langkah-langkah drastis penting untuk meredakan dampak buruk pandemi. Semoga krisis akal sehat ini juga kelak akan berakhir, walau mungkin akan lebih lama dari pandeminya...

Salah seorang teman di kantor saya terkena Covid, alasannya karena dia baru saja divaksinasi, lalu jadi positif. Saya kemarin menyampaikan ke dia via DM ya. Kalau seandainya positif itu bukan karena vaksin, pasti karena sebelumnya sudah ada virus covidnya. Teman saya di kantor yang terkena covid ini memang agak sedikit mengesalkan saya secara pribadi, Mau Ikut vaksin sudah mutar-mutar dan antri pulang lagi balik ke kantor. Karena takut ramai katanya, okelah saya bisa pahami. Tak lama kemudian, dia dm saya lagi minta dicarikan info soal vaksinasi di dekat rumah dia di siantan. Biar nggak jauh katanya, saya ketemu di tanjung raya tapi, masih jauh katanya. Agak shock saya mendengarnya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x