Mohon tunggu...
Ronald Anthony
Ronald Anthony Mohon Tunggu... Penulis Lepas

Hanya seorang pembelajar yang masih terus belajar. Masih aktif berbagi cerita dan inspirasi kepada sahabat dan para mahasiswa. Serta saat ini masih aktif berceloteh ria di podcast Talk With Ronald Anthony on spotify.

Selanjutnya

Tutup

Foodie Pilihan

Saturday Morning #50-"Menyelingkuhi Babi (Daging)"

15 Mei 2021   09:00 Diperbarui: 15 Mei 2021   09:47 83 1 0 Mohon Tunggu...

Hal ini masih viral, tentu akan viral, entah sampai kapan, mungkin akan reda sebulan ataupun tiga bulan lagi. Sekitar Empat hari yang lalu teman saya dari Jogja tiba-tiba menelepon saya. Tanpa Basa-basi langsung menanyakan makanan khas yang sedang menghebohkan jagat se-Indonesia. Saking Hebohnya ia sampai menanyakan apakah itu bisa dikirim kesana. Tentu saya harus jujur, saya pernah mencoba tapi bukan di tempat itu, di tempat lain maju kurang lebih 1 km lagi dari tempat yang viral itu.

Tentu anda sudah bisa menebak, yaps "BIPANG AMBAWANG". Bipang Ambawang sendiri adalah sebuah brand dari sebuah rumah makan, maka karena sudah disebut para pembesar, otomatis warung makan dengan nama itu yang dicari, brand itu semakin besar, meskipun di sekitar sana masih banyak yang juga menjual jenis makanan yang sama dengan nama yang berbeda, BIPANG GOLE, RAJA BIPANG, BIPANG NERIUS, dan sebagainya. Ia terlanjur viral, dibully, namun di sebagian kalangan masih tetap ada yang mencari dan merindukannya. Bahkan, berniat selingkuh dari restoran lainnya yang sejenis.

Proses Pemanggangan bipang-dokpri
Proses Pemanggangan bipang-dokpri
Kan itu binatang lucu, kenapa harus dibully dimana-mana, tetapi memang dasar, semakin dibully malah semakin banyak dicari. tumpah ruah, sampai kabarnya stock anak babi saja semakin menipis. "DEFISIT". Iya, Menipis karena mereka tidak menggunakan babi yang besar tapi anak babi yang masih kecil, lebih empuk dan lebih terasa katanya.

Minggu ini, dua hari yang lalu saya kesana, Sambil "THURSMORI", adiknya "SUNMORI" ceritanya, bermotor kesana, perjalanan cukup jauh, sekitar 20 kilometer dari Pontianak. Sekarang sudah pindah lebih besar tempatnya dibanding dulu pertama kali buka, Syukurnya sampai sana, sudah ramai, namun tidak membludak sampai harus nunggu antrian duduk seperti di berita-berita. Ramai sekali, bahkan untuk makan saja masih harus menunggu 45 menit dari pemesanan barulah diantar bipang itu ke meja kami. 

Brand Bipang Ambawang-dokpri
Brand Bipang Ambawang-dokpri
Namun, waktu menunggu juga tak terasa lama, kami memang tak salah memilih tempat duduk, persis berada di samping tempat pemanggang babi itu berada, hari itu kurang lebih ada 15an anak babi yang sedang dipanggang, bukan hanya panggang seperti sate dibolak balik saja, waktu yang dibutuhkan cukup lama 4-5 jam, itupun kalau sudah benar-benar matang, jika belum masih harus ditambah lagi proses pemanggangan-nya. Kipasnya bukan kipas sate, kipas khusus  semacam hair dryer besar digunakan. Yang Panggang pun tak hanya satu orang, bahkan bisa beberapa orang.

dokpri
dokpri
45 Menit kemudian, datanglah yang ditunggu, Makanan viral yang disbeut pembesar sudah ada, lengkap dengan sajian daun pucuk ubi, serta lalapan, dan sup perut si babi tadi. Kalau soal rasa, behhh, gigitan pertama saya mau menangis, yang kalau netizen-netizen bilang rasanya enak sampai mau meninggoy. Hmmmm. Saya tipikal orang yang makan terbiasa cepat, tapi untuk kali ini saya ingin pelan saja, semakin pelan semakin nikmat, tulang kulit, daging, samcan semuanya enak, dari bumbu, asin, pedasnya semuanya pas.

Meskipun bukan reviewer makanan, tapi kalau saya memberi rating, saya akan beri rating 9,5/10. Tidak berelebihan, saya termasuk orang yang jarang makan daging babi, lebih banyak ayam dan sapi, tetapi sekali-kali ketika menyelingkuhi daging ayam dan sapi, lalu makan bipang yang joss seperti ini, rasanya tak karu-karuan. Apalagi sambal terasinya, behhh, saya saja menulis ini sambil menahan air liur membayangkan sambal terasinya. 

dokpri
dokpri
Kalau anda berkesempatan kesana, saran saya coba mampir barangkali cocok, dan kalau ingin memesan bungkus untuk pulang, lebih baik pesanlah saat anda makan, kalau sesudah anda makan baru pesan, waktu menunggu-nya akan tetap sama 45 Menit, itupun karena ramai. Beruntungnya kami adalah datang di saat yang tepat, karena jika telat sedikit maka sudah dapat dipastikan kami tak akan mendapatkan tempat duduk alias harus antri hanya karena ingin duduk dan dapat meja saja. Maka saran saya biuat anda yang mau kesana datang sepagi mungkin, agar bisa mendapatkan tempat duduk yang pas dan tidak perlu mengantri.

Ramai Membludak Pengunjung Bipang-dokpri
Ramai Membludak Pengunjung Bipang-dokpri
Diliputi rasa penasaran, saya tanya ke kasir, biasa ramai seperti ini?, Ia menjawab "tidak juga bang", semenjak viral baru ramai seperti ini, tapi ia tak berani menyebutkan viralnya karena presiden, saya bisa menangkap ketakutan itu, karena setahu saya tak lama setelah video itu keluar dan kemudian Instagram restoran ini, juga memposting video Presiden yang mempromosikan makanan "Bipang Ambawang" tersebut, walaupun setelah itu hal itu menjadi viral, restoran tersebut kemudian menghapus postingannya. 

Yang meskipun demikian, orang terdekat presiden juga kemudian ramai-ramai meralat dan menyamakan bipang dengan jipang. Mungkin memang benar ada beberapa daerah yang menyebutkan Jipang sama dengan Bipang. Tetapi, setahu saya di daerah ambawang-Kalimantan Barat, tidak ada yang menjual namanya bipang atau jipang seperti panganan kue dari beras atau kacang tersebut. Saya sering kesana, dan memang belum pernah bertemu dengan kue itu di daerah ambawang. Wkwkwk. Apa saya yang kurang jauh mainnya? tapi serius saya ke ambawang itu diibaratkan seperti medical check up, setahun sekali atau beberapa bulan sekali ketika ada kegiatan di sekitar sana. Namun, biarlah jadi perdebatan, kita cukup jadi penikmat saja.

dokpri
dokpri
Apapun itu, ia sudah terlanjur viral, dan dibully meskipun tak ada salah, padahal binatang yang lucu dan menggemaskan, bahkan beberapa kali ketika wisuda saya selalu dapat boneka wisuda dengan motif babi. Wkwkwk. 

VIDEO PILIHAN