Mohon tunggu...
Ronald Anthony
Ronald Anthony Mohon Tunggu... Penulis Lepas

Hanya seorang pembelajar yang masih terus belajar. Masih aktif berbagi cerita dan inspirasi kepada sahabat dan para mahasiswa. Serta saat ini masih aktif berceloteh ria di podcast Talk With Ronald Anthony on spotify.

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup Pilihan

Saturday Morning #46-"Perang Ayam Geprek"

17 April 2021   09:00 Diperbarui: 17 April 2021   09:03 123 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Saturday Morning #46-"Perang Ayam Geprek"
Saturday Morning - Ilustrasi Pribadi

Beberapa tahun kebelakang Pontianak sedang punya trend baru, "Ayam Geprek". Rasanya hampir setiap jalan pasti ada yang berjualan ayam geprek. Jika anda merupakan pembaca yang sekarang berada di Pontianak apakah anda merasakan yang sama juga ?. Ini terbukti, jagat media social dan juga para reviewer makan juga sibuk memberitakan tentang ayam geprek Pontianak mulai dari ayam geprek pak min sampai ayam geprek bu nyoto atau roemah eyang, ayam geprek bu ada, ayam geprek bawang, ayam geprek bu reza. Karena saya adalah  pecinta ayam geprek alhasil semuanya sudah saya coba. Jika anda mau tahu pandangan saya tentang ayam geprek Pontianak jawaban saya cuma satu “tak ada yang bisa menandingi kelezatan ayam geprek jogja”. 

Tullisan ini maka saya beri nama "Perang Ayam Geprek" agar sesuai dengan jargo raditya dika dalam video-videonya ketika berusaha mencari terenak dari sekian yang ada.  Perang ayam geprek ternyata tidak hanya dilakono oleh saya saja, beberapa bulan yang lalu pernah ada guyonan dalam bentuk story Instagram yang disampaikan oleh teman saya dari Jogjakarta Resanora Ayu namanya,  "Ayam Geprek itu DIgeprek bukan Dioles". Sontak membaca story itu saya ngakak setengah mati bacanya. Yaps, begitulah ayam geprek terjadi di Pontianak, hanya ditumbuk kemudian sambalnya dari sebuah wadah kemudian dioles diatasnya. Mungkin ada yang bingung, kenapa saya dan ayu membanding-bandingkan itu. Jadi ceritanya ayu juga sudah berkelana mencari ayam geprek terenak di kota ini, namun sayangnya ia masih belum menemukannya yang cocok. Ayu sendiri yang orang jogja asli serta kebetulah keterima jadi salah satu PNS di Kalbar ini mengatakan "Saya masih lebih cocok yang di Jogja e". Ujarnya.

Kalau disini ayam gepreknya terkesan ala kadarnya, sambalnya sudah dibikin di rumah terlebih dahulu Campuran sambal dan tomat yang juga sudah ditumbuk  atau diulek dan ditaruh dalam sebuah wadah. sudah itu ditambah campuran banyak minyaknya, agar lebih awet katanya. Semakin hari semakin banyak yang melakukan seperti ini, jadi orang pontianak tahunya ayam geprek itu dioles, bahkan teman saya ketika saya ceritakan tidak percaya kalau ayam geprek itu cabenya bisa 10, 20, bahkan kalau mampu bisa 30. Tentu ini tak dapat kita pungkiri, kan semakin banyak penjual yang membuat sesuatu agar mudah dan cepat, jadi terkesan tidak niat dalam berjualan. Bisa dibayangkan kalau satu ornag cabenya 10, 20, atayu 30 akan semakin banyak biaya yang dikeluarkan oleh seornag penjual. Semakin tinggi jadinya. 

Dari hasil tanya kiri dan kanan, ya ayam geprek jogja memang tidak ada tandingannya. Bahkan konon katanya ayam geprek ini bermula juga dari kota gudeg ini dan sebagai pelopornya tidak lain dan tidak bukan “Ibu Ruminah” atau yang akrab disapa “Ibu Rum” yang terkenal dengan menu ayam gepreknya. Saya ingat makanan jogja yang saya santap pertama kali bukanlah gudeg khas Yogyakarta  atau pizza mie dan oseng mercon sejenisnya tetapi yang saya makan pertama kali adalah “Ayam Geprek Bu Rum”. Alasannya waktu itu makan di ayam geprek bu rum sangatlah sederhana karena dekat dengan kost yang telah saya tempati di Jalan Wulung dan sepertinya waktu itu saya nyasar karena ingin mengeksplor makanan sekitar kost sehingga mampirlah kami ke “Warung Ayam Geprek Bu Rum 1” yang terletak di Jalan Wulung Lor Papringan.

Tapi saya disini sedang tidak promosi ya, Wkwkwk. Karena saya ingin sedikit nostalgia dengan masa kuliah dulu. Seingat saya dulu ada karyawan yang sudah lama sekali disana  namanya mas dede lah yang melayani kami. Kenapa saya tahu namanya mas dede? Jawabannya adalah karena saya sering makan kesitu dan lama kelamaan saya jadi mengenal mas dede salah satu karyawan di warung bu rum 1. Di Warung Ayam Geprek Bu Rum 1 ini sudah pasti yang utama adalah Ayam Geprek di tambah dengan cabe yang bisa kita pilih jumlahnya mau 5, 10, atau 20 itu semua terserah anda. Kalau saya pribadi suka dengan cabe 10 dan diulek dengan irisan bawang putih. The best dan sungguh sangat menggugah selera.

Orang yang pertama kali makan pasti agaknya merasa aneh, apa iya cabe 10? nggak pedes? awalnya pun saya merasa takut pedas, tetapi ternyata cabe di jawa dengan biji yang jarang-jarang membuat cabe 10, 20 atau 30 pun menjadi tak ada rasa pedasnya. Ini tentu berbeda dengan di Pontianak, karena panas biji cabenya padat-padat, kalau 8 saja sudah pasti bikin mendidih tak karu-karuan.

Ngomong-ngomong soal bu rum, meskipun banyak cabang, tetapi ternyata rasanya tidak ada yang bisa menandingi ayam geprek Bu rum 1 ini. Kalau di Pontianak, beli ayam geprek plus bonus ditambah dengan tempe goreng, kalau disana tentu tidak hanya Ayam Geprek ada juga sup sayur, oseng-oseng labu dan gorengan mendoan seperti tempe, tahu dan lain sebagainya. Kalau sudah jam makan siang atau menjelang-jelang jam 3 sore ramainya tidak karu-karuan. Jangankan mau pesan, mau ngantri duduk saja susah. Tapi yang penting ayam geprek disini betulan digeprek ya bukan dioles Wkwkwk.

Memang banyak ayam geprek lain seperti ayam geprek Mbak Is ataupun Ayam Geprek Bu Made yang juga saya senangi. Sama-sama digeprek bukan dioles. Walaupun, secara pribadi saya memang sudah kesengsem berat pada ayam geprek bu rum dan sulit pindah ke lain hati.

*)Ronald Anthony

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x