Ronald Wan
Ronald Wan Trader and Freelancer

@Pseudonym | Love to Read | Try to Write

Selanjutnya

Tutup

Olahraga Pilihan

Belajar dari Bulu Tangkis tentang Pembinaan Berjenjang

8 September 2017   07:11 Diperbarui: 8 September 2017   09:46 1705 25 19
Belajar dari Bulu Tangkis tentang Pembinaan Berjenjang
Liliyana/Tontowi (Kompas.com)

Kegagalan Indonesia di Sea Games 2017 untuk menjadi juara umum, memang mengecewakan. Mudah sekali untuk mencari kambing hitam dan menyalahkan semua pihak yang bertanggung jawab. Tetapi yang saya lihat sekarang ini adalah semua berharap hanya dengan pelatnas bahwa Indonesia bisa berprestasi. Suatu hal yang kurang tepat.

Bulutangkis telah lama menjadi andalan Indonesia dalam mengharumkan nama bangsa di level dunia, bukan hanya sekedar Asia Tenggara.

Apakah ini karena keberhasilan PBSI dalam menangani pelatnas?

Bulu tangkis di Indonesia, tidak lepas dari banyaknya perkumpulan-perkumpulan bulu tangkis amatir yang terus melakukan pembinaan kepada pebulutangkis muda. Sebelum akhirnya pada tahun 1951 tepatnya tanggal 5 Mei hasil perjuangan Sudirman. Bergabung dalam wadah Persatuan Bulutangkis Indonesia (PBSI) yang diketuai oleh A. Rochdi Partaatmajda.

Peranan Persatuan Bulutangkis (PB) dalam membina pebulutangkis tidaklah kecil. PB Djarum bulan ini mulai melakukan kegiatan tahunan mereka untuk mencari pemain bulu tangkis berbakat guna diberikan beasiswa. Pemain yang diaudisi adalah yang berusia 11-13 tahun. Relatif sangat muda.

PB Djarum telah menghasilkan beberapa pemain tingkat dunia seperti Liem Swie King, Christian Hadinata, Ivana Lie, Ade Chandra, Johan Wahyudi dan masih banyak lagi.

PB Suryanaga Surabaya telah berdiri sejak tahun 1908, data tahun 2008 membina sekitar 70 pemain dari anak-anak, remaja, taruna dan dewasa. Alan Budi Kusuma, Rudi Hartono dan Sony Dwi Kuncoro adalah beberapa hasil didikan PB Suryanaga.

PB Tangkas Jakarta, salah satu persatuan bulutangkis yang cukup tua. Berdiri sejak tahun 1951, telah berhasil mengharumkan nama Indonesia, melalui beberapa atletnya. Icuk Sugiarto, Verawaty Fadjrin, Rexy Mainaky adalah beberapa contoh hasil pembinaan PB Tangkas. Tahun 2017 PB Tangkas membina 40 atlit, mulai dari usia 9 tahun sampai dengan usia 18 tahun.

Kalau diperhatikan usia atlet bulutangkis yang dibina oleh PB, dimulai dari usia yang sangat muda. Sehingga begitu pebulutangkis terpilih untuk masuk Pelatnas, pelatih tinggal mematangkan atau menggali potensi pemain serta diarahkan mau ke mana. Pemain Tunggal, Ganda atau Ganda Campuran?

Tidak ada cerita bahwa pelatih pelatnas, harus melatih dasar-dasar permainan bulutangkis.

Inilah yang saya lihat menjadi kunci keberhasilan bulutangkis yang sampai saat ini masih menjadi andalan Indonesia untuk mengharumkan nama bangsa di tingkat dunia.

Pembinaan berjenjang!

Saya melihat ini terjadi secara natural, dalam arti tidak ada yang membuat sebuah rencana besar tentang pembinaan. Mungkin saja saya salah, namun dukungan dari swasta atau masyarakat seperti Djarum untuk PB Djarum, Intiland untuk PB Tangkas dan Gudang Garam untuk PB Suryanaga menjadi salah satu hal yang menyebabkan pembinaan berjenjang bisa berlanjut.

Ungkapan Aji Susanto Pelatih Kepala PB Suryanaga (Kompas.com 2008) menarik, dikatakan bahwa salah satu kelemahan pembinaan bulutangkis Indonesia adalah metode kepelatihan. Dimana belum memanfaatkan teknologi secara maksimal (baru 25%) dibandingkan dengan negara lain.

Kurangnya pemanfaatan sport science juga diungkap oleh beberapa pelatih cabang olahraga pasca kekalahan Indonesia di SEA Games 2017.

Saya tidak tahu apakah sekarang ini  teknologi atau sport science sudah digunakan secara optimal di pembinaan bulutangkis Indonesia atau belum.

Jika belum, bayangkan hanya dengan pembinaan berjenjang dan berkelanjutan, bulutangkis Indonesia bisa berprestasi di tingkat dunia. Apalagi jika penggunaan sport science sudah optimal.

Referensi



Salam

Hanya Sekadar Berbagi