Mohon tunggu...
Ronald Wan
Ronald Wan Mohon Tunggu... Pemerhati Ekonomi dan Teknologi

Love to Read | Try to Write | Twitter: @ronaldwan88 | Diarysaham.com | email: ronaldwan@diarysaham.com

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Artikel Utama

Belajar dari Venezuela tentang Komoditas dan Subsidi

6 Agustus 2017   10:11 Diperbarui: 6 Agustus 2017   21:54 0 23 12 Mohon Tunggu...
Belajar dari Venezuela tentang Komoditas dan Subsidi
Ilustrasi Supermarket di Venezuela (http://www.businessinsider.com)

Venezuela adalah sebuah negara di benua Amerika, berbatasan dengan Colombia di barat, Brazil di Selatan dan Guyana di Timur. Luas negara Venezuela adalah sekitar 916 ribu Km persegi dengan jumlah penduduk sekitar 31 juta orang.

Pada saat Hugo Chaves sebagai presiden, harga minyak beranjak naik. Mencapai puncaknya sekitar tahun 2008 di mana harga minyak menembus USD 150 per barrel. Venezuela adalah salah satu negara yang memiliki cadangan minyak terbesar di dunia.

Pada tahun 1980-an dan 1990-an tingkat kesehatan dan nutrisi masyarakat Venezuela sangat rendah. Chaves bertekad untuk meningkatkan tingkat kesehatan dan nutrisi. Cara yang dipilih adalah dengan menentukan harga eceran tertinggi (HET) yang menimbulkan kontoversi. Karena HET ditentukan sangat rendah bahkan di bawah biaya produksi.

Di satu sisi penentuan HET berhasil meningkatkan tingkat nutrisi. Tingkat kematian akibat mal nutrisi antara tahun 1998 sampai dengan 2006 menurun sekitar 50%. Tetapi di sisi lain penentuan HET yang terlalu rendah menyebabkan banyak industri yang tutup. Karena tidak mungkin untuk melanjutkan usaha jika dipaksa untuk menjual dengan harga di bawah harga modal.

Harga yang terlalu rendah juga menyebabkan kelangkaan barang karena selain industri yang tutup, importir juga tidak mau mengimpor barang karena harga jual di bawah harga modal. Untuk mengatasi kelangkaan ini pemerintah Venezuela menasionalisasi perusahaan makanan dan mendirikan jaringan supermarket The Mercal Network yang menjual barang dengan harga yang sangat rendah.

Sebanyak 95% hasil ekspor Venezuela berasal dari minyak. Dengan nasionalisasi perusahaan minyak asing pada tahun 2003 dan harga minyak yang tinggi. Pemerintah Venezuela mampu untuk menjual bahan makanan dengan harga yang rendah atau dengan kata lain melakukan subsidi. Bahkan di bawah harga pembelian atau jual rugi. Akibat turunnya harga minyak bumi, saat ini Venezuela mengalami krisis ekonomi. Harga barang naik tinggi dan bahan makanan menjadi langka.

Harga komoditas tidak bisa dikendalikan oleh suatu negara. Turunnya harga minyak juga menyebabkan Arab Saudi untuk mengubah pola investasinya. Terlebih lagi bila komoditas andalan suatu negara adalah komoditas tambang yang kalau sudah habis tidak bisa digantikan.

Negara dalam menggunakan uang yang diperoleh dari penjualan kekayaan alam haruslah bijaksana. Tindakan Venezuela yang menggunakannya untuk memberikan harga murah bagi rakyat tidaklah salah dan rakyat senang. Tetapi bagaimana jika terjadi penurunan harga atau habisnya hasil tambang?

Jika pada saat harga minyak tinggi, Venezuela menggunakan penghasilan negara untuk meningkatkan penghasilan rakyat. Misalnya dengan mendirikan industri, meningkatkan hasil pertanian, pendidikan dan lainnya. Bukankah akan berbeda hasilnya?

Rakyat terbiasa dengan harga yang wajar, tetap mampu membelinya karena penghasilannya meningkat. Ekonomi tetap bergerak, walaupun akan melambat karena turunnya harga minyak.

Komoditas memang bisa menjadi penggerak ekonomi. Indonesia juga merasakannya pada era awal tahun 2000 sampai dengan 2014 yang di mana harga komoditas menurun mengikuti penurunan ekonomi dunia. Namun sangat riskan, karena naik turunnya tidak bisa dikendalikan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2