Mohon tunggu...
Ronald Wan
Ronald Wan Mohon Tunggu... Freelancer - Pemerhati Ekonomi dan Teknologi

Love to Read | Try to Write | Twitter: @ronaldwan88

Selanjutnya

Tutup

Money Artikel Utama

Crowdfunding, Alternatif Pembiayaan Pembangunan Infrastruktur

3 Agustus 2017   11:51 Diperbarui: 5 Agustus 2017   08:03 4610
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi Crowdfunding(techcrunch.com)

Indonesia tertinggal dalam pembangunan infrastruktur, fakta yang sulit untuk dibantah. Pembangunan infrastruktur membutuhkan biaya yang tidak sedikit.  Pemerintah saat ini mencoba mempercepat pembangunan infrastruktur sehingga utang Indonesia meningkat untuk membiayainya.

Banyak pihak yang tidak setuju dan mengkritisi peningkatan utang tersebut. Tetapi terus terang saya tidak melihat adanya usaha untuk memberikan sebuah solusi alternatif bagaimana membiayai pembangunan  infrastruktur tanpa utang.

Indonesia akan mengalami bonus demografi pada tahun 2020 sekitar 3 tahun lagi yang akan berakhir pada sekitar tahun 2030 atau hanya sekitar 10 tahun. Bonus demografi terjadi pada saat jumlah penduduk usia produktif lebih banyak dibanding dengan usia non produktif. Untuk lebih lengkapnya bisa baca di sini.

Jika infrastruktur tidak cepat dibangun dan juga pendidikan tidak segera diperbaiki maka menurut saya bonus demografi akan berlalu tanpa memberikan efek yang maksimal bagi kemakmuran Indonesia.

Menurut Investopedia, Crowdfunding adalah penggunaan dana dalam jumlah kecil dari sejumlah besar individu untuk membiayai suatu bisnis ventura. Crowdfunding memanfaatkan internet dan media sosial yang sudah semakin umum digunakan untuk mempertemukan investor dan wirausaha di dalam satu platform.

Crowdfunding biasanya digunakan untuk membiayai suatu ide agar bisa diwujudkan. Nilai investasi yang ditanamkan bisa mulai dari USD 10. Keuntungan bagi investor bisa berupa barang yang dikembangkan seperti video game ataupun saham dari perusahaan yang mengembangkan produk tersebut.

Pemerintah mungkin juga bisa menggunakan metode crowdfunding untuk membiayai pembangunan infrastruktur. Sekarang ini sangat sedikit masyarakat yang tahu bagaimana cara membeli Surat Utang Negara (SUN), yang notabene adalah utang.

Skema yang ingin saya usulkan adalah menjual penerimaan masa depan BUMN di beberapa infrastruktur yang sudah jadi. Misalnya jalan tol yang dimiliki Jasa Marga. Rakyat bisa menginvestasikan uangnya ke dalam platform crowdfunding dan akan memperoleh pendapatan dari jalan tol tersebut.

Uang ini bukan dipinjamkan tetapi diinvestasikan, sehingga bukan mendapatkan bunga tetapi pembagian pendapatan. Berapa lama akan balik modal dan berapa persen keuntungannya, tergantung dari potensi pendapatan yang bisa didapat dari yang tadi misalnya jalan tol.

Dalam investasi ada dua hal yang biasanya menjadi perhatian utama investor. Hal yang pertama adalah pengembalian modal.  Misalnya anda membuka warung dengan modal Rp 1 Juta untuk renovasi ditambah modal kerja sebanyak Rp 1juta sehingga total modal adalah Rp 2juta dan anda memperoleh keuntungan bersih dalam satu bulan adalah Rp 100 rb maka bisa dibilang modal anda sudah kembali dalam waktu 10 bulan. Atau jika memperhitungkan modal kerja 20 bulan sudah balik modal.

Hal yang kedua adalah tingkat keuntungan, menggunakan contoh yang sama membuka warung. Investasi untuk merenovasi adalah Rp 1 juta, misalnya kita asumsikan bahwa renovasi itu bisa tahan selama 3 tahun. Maka keuntungan anda dalam 3 tahun adalah Rp. 2,6 juta (dengan asumsi untung bersih per bulan Rp 100 rb) setelah dipotong pengembalian modal.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun