Mohon tunggu...
Romi Febriyanto Saputro
Romi Febriyanto Saputro Mohon Tunggu...

Bekerja di Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Sragen sebagai Kasi Pembinaan Arsip dan Perpustakaan. Juara 1 Lomba Penulisan Artikel Tentap ng Kepustakawanan Indonesia Tahun 2008. Email : romifebri@gmail.com. Blog : www.romifebri.blogspot.com.

Selanjutnya

Tutup

Olahraga

Asian Games dan Sistem Pembinaan Keolahragaan Nasional

15 Juli 2018   15:58 Diperbarui: 15 Juli 2018   16:46 1109 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Asian Games dan Sistem Pembinaan Keolahragaan Nasional
kompas.com

Dewan Olimpiade Asia meresmikan Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 2018 setelah Vietnam menyerahkan haknya karena alasan keuangan. Vietnam pada mulanya diberikan kesempatan menjadi tuan rumah pada tahun 2019, tetapi kemudian mengundurkan diri karena kekurangan dana, Pengelola Asian Games menginginkan acara tetap dilakukan pada tahun 2019, tetapi Indonesia meminta perhelatan dilakukan tahun 2018 agar tidak bersamaan dengan pemilihan presiden (bbc.com, 20 September 2014).

 Menurut situs resmi Asian Games (asiangames2018.id), Indonesia telah mengikuti pesta olah raga terbesar di Benua Asia ini sejak pertama kali diselenggarakan pada tahun 1951, dan pulang dengan membawa 5 medali yang kesemuanya adalah perunggu dari cabang olahraga atletik.  

Prestasi Indonesia di Asian Games yang paling membanggakan adalah pada tahun 1962, di mana Indonesia berhasil menduduki posisi runner up dengan perolehan medali sebanyak 77 medali (21 emas 26 perak, 30 perunggu). Saat itu Indonesia mendapat giliran menjadi tuan rumah dan diselenggarakan di Jakarta (tanggal 24 Agustus 1962 - 4 September 1962) dengan jumlah 1.460 atlet yang bertanding, datang dari 16 negara, dengan 15 cabang olahraga.

Prestasi Indonesia di Asian Games cukup dinamis. Indonesia pernah masuk 5 besar jajaran negara paling berprestasi di Asia dalam bidang olah raga. Prestasi ini diraih pada Asian Games 1970 dengan meraih 23 medali yakni 2 emas, 5 perak, dan 17 perunggu. Indonesia menduduki peringkat ke-4 dari 18 negara yang ikut serta. Pada Asian Games ke-7 digelar di Teheran, Iran, pada 1 -- 16 September 1974 Indonesia berhasil meraih 3 emas, 4 perak, dan 4 perunggu, yang mengantarkan Indonesia bertengger di posisi ke-5.

Hanya di tiga tahun (1962, 1970, dan 1974) prestasi Indonesia di Asian Games ada dideretan 5 besar. Pada beberapa tahun ini Indonesia berhasil bertengger di deretan 10 besar. Tahun-tahun tersebut yakni 1951 di New Delhi, India, duduk di peringkat ke-7 memperoleh 5 perunggu; Tahun 1966 di Bangkok, Thailand, Indonesia duduk di peringkat ke- 6 dengan perolehan 7 emas, 4 perak, dan 10 perunggu.

 Tahun 1978 di Bangkok, Thailand, Indonesia berada di posisi ke -7 dengan perolehan 8 emas, 7 perak, dan 18 perunggu; Tahun 1982 New Delhi, India, menduduki peringkat 6 dengan 4 emas, 4 perak, dan 7 perunggu; Tahun 1986 di Seoul, Korea, Indonesia meraih posisi ke-9 dengan 1 emas, 5 perak, dan 4 perunggu; Asian Games 1990 di Beijing, Cina, Indonesia meraih peringkat ke-7 dengan 3 emas, 6 perak, dan 21 perunggu.

Untuk prestasi Indonesia di Asian Games 2014, tim merah putih berhasil meraih 20 medali yang terdiri dari 4 emas, 5 perak, dan 11 perunggu dari 23 cabang yang diikuti (total 37 cabang yang dipertandingkan). Dengan hasil tersebut membuat Indonesia menduduki posisi ke-17. Kendati tidak masuk ke 10 besar pada Asian Games 2014, pada penyelenggaraan Asian Games ke 18 di Indonesia diharapkan menjadi momentum untuk melakukan revolusi pembangunan dunia olah raga di tanah air.

Tirto
Tirto
Revolusi ini dimulai dengan membangun infrastruktur olah raga yang memadai dengan biaya triliunan rupiah. Bappenas mengasumsikan dampak dari perhelatan akbar ini mencapai Rp45,1 triliun. Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang P.S. Brodjonegoro seperti dikutip bisnis.com, 26 April 2018, mengatakan persiapan Asian Games menghabiskan sekitar pembangunan infrastruktur sarana dan prasarana pendukung Rp34 triliun dengan biaya operasional Rp7,2 triliun. Total biaya sebesar Rp45 triliun dipakai untuk perbaikan Gelora Bung Karno dan Stadion Jakabaring serta pembangunan Wisma Atlet dan light rapid transit (LRT).

Menurut Biro Komunikasi Publik Kementerian PUPR dan Tim Komunikasi Pemerintah Kemkominfo (2018), berkaca dari pengalaman negara lain yang pernah menjadi tuan rumah Asian Games, keuntungan yang didapat memang tidak kecil. Thailand, misalnya, meraup surplus Rp 300 miliar setelah penyelenggaraan Asian Games XIII di Bangkok. Sementara Korea Selatan berhasil mengantongi surplus Rp.670 miliar pasca- Asean Games XIV di Busan.

Nilai ini belum ditambah dengan keuntungan lain seperti pertumbuhan pariwisata dan pemanfaatan infrastruktur. Kita dapat pula menengok sejumlah bangunan ikonik yang disiapkan untuk penyelenggaraan Asian Games IV tahun 1962 yang hingga saat ini dapat terus dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. 

Selain Kompleks Olahraga dan Stadion Senayan (sekarang Gelora Bung Karno), Indonesia juga saat itu membangun jalan baru yang saat ini dikenal Jalan Thamrin, Jalan Gatot Subroto, dan Jembatan Semanggi. Selain itu, Patung Selamat Datang (Bundaran HI) dan Hotel Indonesia (sekarang Hotel Kempinski) juga menyambut para duta olahraga dari berbagai negara. Bahkan TVRI mengudara untuk pertama kalinya untuk meliput kegiatan Asian Games saat itu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x