Mohon tunggu...
Romi Hardhika
Romi Hardhika Mohon Tunggu... Praktisi hukum

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. ― Pramoedya Ananta Toer

Selanjutnya

Tutup

Otomotif

Knalpot Bising Adalah Wujud Kesombongan yang Nyata

6 Januari 2021   10:03 Diperbarui: 6 Januari 2021   11:56 29 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Knalpot Bising Adalah Wujud Kesombongan yang Nyata
Sumber: https://otomotif.kompas.com/

Saya sekarang menghuni rumah yang persis berada di pinggir jalan penghubung dari kota saya menuju ke luar kota. Kelebihan tinggal di lokasi seperti ini antara lain adalah mudah dicari. Saya cukup bilang: “Jalan Notosunardi, di seberang rumah makan pecel Madiun, yang pagar rumahnya hancur.” Berbeda sekali dengan rumah orang tua saya di Jawa yang berada di kompleks perumahan karena apabila memesan ojek online patokan arahnya agak panjang: “Masuk gang di samping SD dan jalan lurus. Nah, di kanan jalan di samping Indomaret ada gang, masuk. Jalan lagi lurus sedikit ada rumah pertama di kanan jalan dengan pagar bergambar Garuda.” Kelihatan bukan bedanya?

Namun, tinggal di rumah persis di pinggir jalan juga ternyata tak selamanya nyaman. Faktor utamanya adalah banyaknya pengemudi-motor-tak-tahu-diri-berknalpot-bising melintas di depan rumah saya paling tidak sepuluh kali dalam sehari. Apalagi apabila malam, suasana yang syahdu ketika saya tengah membaca atau mengetik benar-benar terusik. Itulah sebabnya saya sangat paham dengan perasaan masyarakat di berita ini yang main hakim merusak knalpot-knalpot bising yang melintas di kawasan tinggal mereka. Walaupun tindakan itu tidak bisa dibenarkan, pengguna knalpot bising memang harus dilenyapkan! Menurut hipotesis saya, penggunaan knalpot bising sepertinya meningkat karena sejak wabah Covid-19 polisi menjadi segan untuk menjalankan operasi razia.

Yang saya tidak mengerti, apa sih kerennya pakai knalpot bising?? Saya punya analisis kejiwaan bagi mereka. Hipotesis saya, kemungkinan para pengguna knalpot bising ini lahir pada keluarga yang memiliki anak lebih dari tiga atau lahir sebagai anak tengah yang kurang mendapat perhatian dari lingkungan keluarganya. Ketika mereka dewasa, alam bawah sadar mereka “mengompensasi” kurangnya perhatian pada masa kecil dalam wujud penggunaan knalpot bising agar mereka diperhatikan, disaksikan, ditilik, ditengok, disimak, diacuhkan, dihiraukan, dan di-notice. Hipotesis selanjutnya, karena sehari-hari mereka berkendara dengan knalpot bising maka saya tidak heran apabila telinga mereka jadi bebal terhadap teguran. Suara knalpot 100 desibel saja mental oleh kuping mereka apalagi suara manusia yang intensitasnya cuma sekitar 40 desibel? Orang-orang seperti ini sungguh menyedihkan: ingin mendapatkan perhatian dengan merusak telinga orang lain.

Menurut saya, knalpot bising adalah wujud kesombongan yang sesungguhnya. Apabila bertemu dengan orang yang masih berdebat mengenai hukum halal/haram isbal―menjulurkan celana di bawah mata kaki―baik mengenakan dengan atau tanpa rasa sombong maka saya berpendapat bahwa knalpot bising adalah wujud kesombongan yang paling nyata. Paling tidak, apabila saya tidak menyukai cara seseorang berpakaian maka saya cukup mengalihkan pandangan dan masalahnya selesai. Namun dalam kasus knalpot bising, rentetan suara 100 desibel akan masuk ke telinga tanpa permisi dan mengakibatkan saya bad mood.

Kemungkinan terburuk, apabila yang mendengar knalpot bising adalah penderita penyakit jantung maka bisa saja ia meninggal dunia di tempat karena kaget. Apabila hal tersebut terjadi, para pengguna knalpot bising menurut saya bisa saja didakwa dengan pasal pembunuhan dengan ancaman pidana 15 tahun. Penyebabnya, mereka sadar sepenuhnya bahwa knalpot bising dapat membahayakan orang lain, bahkan mengakibatkan orang meninggal (sengaja sebagai sadar kemungkinan/dolus eventualis).

VIDEO PILIHAN