Mohon tunggu...
Romi Hardhika
Romi Hardhika Mohon Tunggu... Praktisi hukum

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. ― Pramoedya Ananta Toer

Selanjutnya

Tutup

Hukum

Penghitungan Tenggang Waktu Panggilan dalam Acara Perdata

28 Oktober 2020   21:12 Diperbarui: 28 Oktober 2020   21:18 10 3 0 Mohon Tunggu...

Pasal 15 RV

"Hari untuk menyampaikan surat panggilan dan hari untuk menghadap di pengadilan, tidak diperhitungkan dalam tenggang waktu umum, yang ditentukan untuk mengurus gugatan, peringatan, dan untuk memberikan tanda tangan terhadap surat resmi dari pengadilan yang disampaikan oleh juru sita. (KUHD 135 dst., 172, Rv. 82, 94, 297, 479, 550, 731; Sy. 424; IR. 391; RBg. 719.)

(S.d.u. dg. S. 1908-522.) Dalam hal yang ditentukan dalam pasal 3 maka hari yang dicantumkan pejabat yang menerima surat itu dianggap sebagai hari disampaikannya surat panggilan. (Rv. 94.)"

Pasal 391 HIR

"Hari mulai berjalannya tempo itu tidak turut dihitung pada waktu menghitung tempo, yang disebutkan dalam reglemen ini."

Dari dua ketentuan hukum di atas dapat diambil kesimpulan:

  • Hari panggilan adalah hari ketika pihak menerima relaas panggilan dari jurusita;
  • Hari untuk menghadap di pengadilan adalah hari ditentukannya persidangan dalam penetapan hakim;
  • Hari mulai berjalannya tempo adalah hari dihitungnya tempo;
  • Hari panggilan dan hari untuk menghadap di pengadilan tidak dihitung sebagai tempo.

Contoh:

Relaas diterima oleh pihak pada hari panggilan adalah hari Senin. Sesuai ketentuan Pasal 122 HIR/146 RBg, antara hari panggilan dan hari sidang tidak diperbolehkan kurang dari tiga hari kerja kecuali dalam keadaan sangat mendesak. Selanjutnya, hari mulai berjalanannya tempo dihitung pada hari Selasa, Rabu, dan Kamis sedangkan hari persidangan paling cepat adalah hari Jumat.

VIDEO PILIHAN