romensy augustino
romensy augustino Mahasiswa

Etnomusikologi 2014, sekolah di jurusan musik tapi nggak ahli main musik. prespektifku mengatakan musik tidak harus menuntut kamu bermain dengan alat musik atau kecanduan mendengarkannya.

Selanjutnya

Tutup

Musik

Dangdut yang Membuat Rendah

13 Juni 2018   07:53 Diperbarui: 13 Juni 2018   08:37 339 0 0

saya tertarik untuk menanggapi sebuah artikel yang ditulis oleh Wijatnika Ika berjudul,"Apakah Artis Dangdut Boleh Dilecehkan Secara Visual?". esai yang saya tulis akan sedikit menambahkan sudut pandang perihal pelecahan yang diterima penyanyi dangdut Via Vallen.

memang sangat disayangkan atas apa yang terjadi dengan kasus yang menimpa Via Vallen. kasus pelecehan seksual  yang sebenarnya sering terjadi terhadap biduan-biduan dangdut. kita bisa cek di youtube begitu banyak aksi-aksi pelecehan terhadap penyanyi dangdut dengan sangat ekstrem. bukan lagi hanya dengan menggunakan pesan singkat, tetapi sudah berlanjut dalam tatanan bahasa tubuh seperti; menempelkan kemaluan, meremas payudara, atau memsukkan saweran pada tengah-tengah dada. dan perilaku ini adalah bagian dalam sebuah konteks hiburan "dangdutan".

tidak bisa dibandingkan fenomena pertunjukan dangdut televisi dan pertunjukan dangdut daerah. dua ruang pentas ini memiliki sekmen pasar, serta aturan norma yang berlaku dan itu menentukan kemasan. di daerah, konsep pertunjukan dangdut lebih vulgar dari sisi aransemen musik dan goyangan biduan tentunya. senggakan kendang amat sangat nikmat sebagai iringan goyang. pola-pola atraktif dengan tempo cepat sangat mendominasi hingga kita kenal istilah "hae-hae, atau buka titik jos" yang sebenarnya diambil dari pola-pola permainan kendang.

melintas jauh di tahun 2000-an ketika seorang Inul Daratista menjadi "populer nasional" karena "goyang ngebor"nya. goyangan yang telah dikenal sejak ia belum manggung di TV. di tahun itu, masih sangat diperbolehkan menampilkan goyangan-goyangan yang menggugah hasrat seksual laki-laki di TV. hingga akhirnya sempat meledak kasus besar antara Inul dan Rhoma Irama waktu itu, hingga melibatkan MUI serta organisasi-organisasi masyarakat membahas masalah "goyang mengumbar aurat".

pasca itu justru banyak muncul pedangdut-pedangdut dengan identitas goyangan. kita kenal Nita Thalia dengan goyang kayang, Annisa Bahar denga goyang patah-patah dan dewi persik dengan Goyang Gergaji. anehnya, pola identitas goyangan menjadi salah satu senjata ampuh pendongkrak kepopuleran. fenomena 7 tahun belakangan  menunjukkan itu. tahun 2011 muncul Zaskia "Goyang Itik", tak lama berselang muncul juga Duo Serigala dengan "Goyang Barbel". dan kalau diperhatikan semua goyangan ini berfokus pada bagian-bagian pengoyak birahi semisal: pinggul dan dada.

kepopuleran Via Vallen tidak dikaitkan dengan isilah goyangan. jika dipilahkan dia masuk dalam kategori biduan dangdut "beradab" dalam konteks aksi pang, berbarengan dengan ayu ting-ting dan penyanyi laln yang sejenis. meskipun tekhnik yang ia gunakan dalam bernyanyi masih dalam kategori biasa-biasa saja. jika dibandingkan dengan Ayu ting-ting tkhnik vokal via masih di bawahnya. bisa dilihat dalam lagu sayang, secara rasa itu adalah lagu dangdut. tetapi tekhnik vokal yang diguanakan Via Vallen cenderung mengarah pop, meskipun ada sedikit cengkok-cengkok dangdut yang sifatnya tidak dominan. berbeda dengan lagu alamat palsu yang di awal kata "kemana" yang sudah terasa cengkok dangdutnya. 

meskipun bukan penyanyi dengan tekhnik tinggi Via masih mampu membius penonton dan pendengar. banyak faktor yang menenukan ia bisa sampai pada posisi ini. salah satunya karena grup orkes "Om Sera", dan dari situlah Via Vallen mendapatkan banyak Vianisty yangjuga merupakan salah satu faktor kepopulerannya.

Strata Dangdut

dibandingkan dengan genre musik lain dangdut berada pada strata di bawah pop, rock, jazz atau bahkan rap. satu alasan yang jelas karena musik ini merepresentasikan kebudayaan masyarakat menengeh ke bawah. identitas yang mungkin akan selalu melekat dengan dangdut.

Indonesian Choise Award 5.0 NET 2018, meberikan sedikit kejutan dengan mendatangkan Via Vallen sebagai pengisi acara. yang akhirnya mendapat ruang bagi penyanyi dangdut bersanding dengan penyanyi-penyanyi dan musisi-musisi lain. tetapi ada yang menarik dari acara itu. anji dalam sebuah video yang diunggahnya pada chanel youtube "Manji" sempat membuka sebuah fakta tentang kritikan terhadap tim penyelenggara. sebuah pertanyaan, "kenapa harus ada dangdut dalam acara Indonesian Choise Award?"mencoba anji jawab dan memberikan sedikit komentar tentang penampilan Via Vallen.

penampilan Via Vallen ketika itu cukup berbedai. mulai dari pakaian, lighting, hingga bentuk musik dikemas dengan estetika-estetika seni pertunjukan barat. berfokus pada musik, aransemen yang mengiringi lagu sayang dibuat "bukan dangdut". kendang yang menjadi ciri khas dangdut, mencoba dhilangkan tetapi tidak seluruhnya, masih terdengar pola-pola suara kendang yang terdengar meski porsi suaranya hampir tidak terdengar. meski masih bisa dibilang lagu dangdut, namun musik sayang malam itu sedikit dipaksa agar bisa diterima sejajar. pasalnya, Boy Wiliam masuk di tengah-tengah lagu dan bernyanyi rap. pemaksaan itu pun cukup untuk membuat seorang anji  memuji aransemen pengiring sayang.

 dibalik suksesnya penampilan Via di Indonesian Choise award. ada sebuah indikasi bahwa dangdut hingga kini masih dianggap sebagai musik norak ataupun rendah. presepsi yang akhirnya berdampak pada biduan-biduan yang juga dianggap rendah. hubungannya dengan goyang, semua penyanyi dangdut selalu menggoyangkan pinggulnya ketika ia bernyanyi dangdut, mungkin bisa dikecualikan oleh penampilan Via Vallen di Indonesia Choise Award. lagi-lagi karena konsep goyang yang dipaksa menjadi konsep tarian kolektif