Mohon tunggu...
Romanus Remigius CCH
Romanus Remigius CCH Mohon Tunggu... Administrasi - Praktisi Hipnoterapis Klinis

Seorang praktisi Hipnoterapi Klinis, lulusan Adi W Gunawan Institite of Mind Technology, pernah berkecimpung dalam dunia pendidikan lebih dari 18 tahun, memilih menjadi Mind Navigator agar semakin banyak orang mencapai hidup yang lebih sehat, sukses dan bahagia dalam berbagai aspek dan level kehidupannya.

Selanjutnya

Tutup

Healthy

Sering Marah dan Kesal Terhadap Anak, Ternyata Ini Penyebabnya

23 Februari 2020   21:13 Diperbarui: 24 Februari 2020   05:57 270
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
https://tuturma.ma/hati-hati-trauma-masa-kecil-bisa-membekas-hingga-dewasa/

"Anak ini benar-benar kebangetan. Dia membuat saya marah, kesal, bahkan pusing tujuh keliling", ungkap bu Ana, bukan nama yang sebenarnya, dengan wajah gusar, nada tinggi dan suara gemetaran sambil menunjuk-nunjuk anaknya yang duduk di sampingnya. Sementara Lala, sekedar nama samaran, diam dan tertunduk malu dengan wajah yang pucat pasi mendengar tudingan telak ibunya. Ibu Ana memang terlihat agak emosian saat mengungkap masalah yang hendak diatasi dalam sesi hipnoterapi pagi ini. Menyadari ini, ibu Ana memohon maaf kalau nada suaranya agak meninggi tadinya. Itulah yang sering terjadi di rumah sehari-hari, nada kesal dan meninggi, ada saja kesempatan untuk perang urat syaraf dengan anak sulungnya ini.

Setelah menenangkan diri, ibu Ana mulai mengisahkan apa yang terjadi dengan Lala, anak perempuan sulungnya yang baru berusia 9 tahun ini. Ibu Ana merasa sudah melakukan dan memberikan yang terbaik untuk anaknya, tapi mengapa Lala selalu bermasalah. Lala tidak mau menuruti apa diminta atau dikatakan ibunya. Suka iri dan membuat adiknya menangis. Malas dan tidak mau mengerjakan PR sekolah, membereskan mainannya atau buku-buku sekolahnya. Ini saja, sudah membuat Ibu Ana pusing dan kesal.

Padahal masih ada sederetan masalahnya lainnya yang kian hari kian jadi. Lala juga sering mengalami takut dan panik. Ia bahkan cemas dengan hal-hal yang belum terjadi. Takut akan tempat gelap, takut sendirian ke toilet, padahal ia juga sering kebelet dan harus ke toilet,  takut menyapa dan memberi salam kepada gurunya, takut pergi ke dokter gigi, bahkan takut menyapa temannya terlebih dahulu merupakan serentetan ketakutan yang selalu menghantui Lala. Yang lebih luar biasa lagi, bila ada teman kelas yang pusing, mual, dan muntah, Lala juga ikut-ikutan pusing, mual, dan muntah. Saat menjawab pertanyaan guru di kelas pun, suara Lala nyaris tak terdengar.     

Menghadapi perilaku Lala seperti ini, Ibu Ana mengaku tak tahan lagi. Ia sering merasa marah dan kesal, bahkan sudah membuncah emosinya sampai ke ubun-ubun. Aneka perasaan berkecamuk dalam hatinya, antara kecewa, terluka, dendam, benci, menyesal, frustasi, sedih, merasa tidak mampu, dan emosi tak jelas lainnya bercampur aduk dan saling bergantian tak menentu. Bahkan intensitas emosi yang tinggi ini menyebabkan bu Ana mengalami migraine, perut sembelit, kram atau kaku pada persendian, dan asam lambung berlebih. Ibu Ana sampai pada titik puncak frustasinya, merasa gagal sebagai ibu. Padahal ia merasa sudah berusaha sejauh mungkin untuk mengatasi masalah ini. Ia juga sudah mencoba menenangkan dan mengintrospeksi diri. Tapi semua jalan seakan buntu dan gelap, belum juga ada titik terangnya.

Dalam keputus-asaan ini, ibu Ana menghubungi saya untuk membantumengatasi masalahnya dengan hipnoterapi. Ibu Ana menyadari bahwa sebelum anaknya diterapi, ia yang perlu diterapi terlebih dahulu. Maka pada pertemuan kali ini, ibu Ana yang akan menjalani sesi hipnoterapi.

Setelah mendengarkan penjelasan secara legkap dan detail tentang permasalahan yang dihadapi, saya memberikan penjelasan tentang bagaimana proses yang akan dilalui oleh ibu Ana. Selanjutnya dalam sesi rileksasi nanti, bu Ana dibantu untuk menggali dan menemukan akar masalah untuk mengatasi persoalan yang dihadapinya sesuai prosedur yang berlaku bagi hipnoterapis lulusan Adi W Gunawan Institue of Mind Technology (AWGI) dan anggota Asosiasi Hipnoterapi Klinis Indonesia (AHKI).   

Semua proses berjalan lancar dan mudah. Di samping karena kompetensi dan pengalaman terapis, semua itu terjadi karena ibu Ana selaku klien benar-benar menyadari masalahnya, dengan niat yang tulus dan penuh kesadaran mau mengatasi masalahnya, serta bersedia mengikuti bimbingan terapis yang dipercayainya dalam sesi hipnoterapi ini.

Upaya terakhir ibu Ana berbuah manis. Ia merasa begitu lega, plong dan nyaman yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Ia bahkan menangis terharu, tenggelam dalam lautan kegembiraan yang tak terduga sebelumnya. Di puncak kegembiraannya usai terapi, ibu Ana segera merangkul dan memeluk Lala dengan begitu eratnya, seakan menyatu dan larut dalam samudera kasih sayang yang begitu dalam. Suami dan putranya, anak kedua, menyaksikan adegan sukacita ini dengan penuh kagum bercampur haru. Alam seakan turut bahagia, cahaya mentari di luar sana pun memancarkan senyum penuh kehangatan, sembari diiringi angin sepoi-sepoi meniupkan kedamaian.  

Tentu semua ini bukan sekedar euforia sesaat. Sukacita dan kebahagiaan yang dialami terpancar dari dalam, dari lubuk hati yang paling dalam. Dengan niat dan kemauan yang tulus, serta dengan bantuan terapis, ibu Ana dapat menemukan akar penyebab masalah yang membelenggu dirinya dan anaknya selama ini. Dengan teknik regresi yang sangat terukur dan presisi, ditemukan apa yang menjadi akar penyebab kumparan masalah yang dialami bu Ana dan anaknya, Lala.

Ternyata ibu Ana telah menyimpan rasa kesal yang mendalam sejak Lala masih dalam kandungan, menjelang kelahiran Lala. Dalam memori yang aktif kembali di saat pikiran sangat rileks, terungkap kejadian, di mana ibu Ana merasa sangat marah dan kesal dengan pelayanan yang dialaminya di sebuah rumah sakit swasta yang menangani proses kelahiran bayinya. Ia sangat tidak puas dengan sesuatu yang terjadi pada dirinya di rumah sakit menjelang persalinannya.

Permasalahan itu dalam kenyataannya sudah diselesaikan. Namun emosi marah, kesal, kecewa, dan lain-lainnya masih tersimpan sangat intens di pikiran bawah sadar ibu Ana. Emosi atau perassaan ini yang terus menggelinding, ibarat bola salju, dalam diri ibu Ana sampai saat ini, bahkan akan terus berlanjut kalau tidak segera diatasi. Emosi-emosi negatif yang tersimpan dalam batin ibu Ana inilah yang sangat kuat berpengaruh terhadap batin anaknya Lala, sejak bayi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun