Romanus Remigius CCH
Romanus Remigius CCH

Seorang praktisi Hipnoterapi Klinis, lulusan Adi W Gunawan Institite of Mind Technology, pernah berkecimpung dalam dunia pendidikan lebih dari 18 tahun, memilih menjadi Mind Navigator agar semakin banyak orang mencapai hidup yang lebih sehat, sukses dan bahagia dalam berbagai aspek dan level kehidupannya.

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Boleh Jadi, Ini yang Menyebabkan Anak Ketagihan Bermain Gim

16 Mei 2018   21:11 Diperbarui: 27 Mei 2018   04:57 486 0 0
Boleh Jadi, Ini yang Menyebabkan Anak Ketagihan Bermain Gim
teach-kids-about-safe-online-gaming-5b09d6c2ab12ae2c33088983.jpg

"Saya makin pusing, Pak. Anak saya terlalu banyak main game, sulit untuk dihentikan. Padahal saya sudah teriakin berulang-ulang", kata seorang ibu setengah baya di ruang terapi saya. 

Dengan nada putus asa, ibu dari calon klien saya, mengeluhkan bagaimana repotnya mengatur anaknya yang semata wayang soal bermain game. Ia berharap putranya tidak lagi ketagihan bermain game.Hampir sepanjang waktu setelah pulang sekolah, Dika, bukan nama sebenarnya, selalu bermain game. Handphone yang dibelikan orangtuanya beberapa waktu lalu nyaris tak pernah lepas dari tautan jari-jemarinya. 

Matanya hanya tertuju pada mainan kesukaannya. Dipanggil pun tidak menoleh, bahkan kadang dibentak pun Dika tak mendengar karena saking fokusnya.Sejak memegang handphone beberapa waktu lalu, Dika memang mengalami perubahan drastis. Perhatiannya lebih tertuju pada aneka mainan pada gadgetnya. Terutama mobile legend yang paling disukainya dan menyedot perhatiannya berjam-jam lamanya. 

Daripada belajar atau mengerjakan PR dari sekolah, Dika lebih memilih bermain game. Apalagi harus membantu orangtuanya untuk menyelesaikan pekerjaan di rumah, mustahil rasanya.Akibat buruk bermain game juga terjadi pada prestasi belajarnya. Saat menerima raport baru-baru ini, betapa kaget orangtuanya melihat raport yang hampir separoh jeblok nilainya. 

Dika sebenarnya termasuk anak yang cerdas di sekolahnya. Guru kelasnya pun sudah mengingatkan Dika untuk rajin belajar, agar mempertahankan prestas yang sudah baik. Namun Dika tak peduli dengan semua itu. 

Harapan dan kebanggaan kedua orangtuanya terhadap Dika terasa sangat sulit untuk diwujudkan.Belum lagi perilaku Dika terasa berubah akhir-akhir ini. Beberapa waktu sebelumnya Dika dikenal sebagai anak yang patuh dan rajin belajar. Bahkan juga sering membantu kedua orangtuanya untuk menyelesaikan pekerjaan di rumah. 

Namun kini Dika terlihat berbeda. Sikapnya berubah. Ia cenderung menyendiri dan asyik dengan mainannya. Bertolak belakang dengan apa yang pernah terjadi sebelumnya.Orangtua mana yang tega membiarkan anaknya terus terjerembab dalam ketagihan bermain game. Apalagi sampai berdampak pada perubahan perilaku dan prestasi belajar yang semakin merosot. 

Itulah sebabnya mereka melakukan berbagai upaya untuk mengatasi permasalahan ini. Memberikan nasihat, teguran, bahkan menngiming-imingi dengan hadiah kalau Dika mau berhenti bermain. 

Namun semua usaha itu berakhir dengan kekecewaan. Tak ada perubahan apa pun. Segala upaya menemui jalan buntu.Di saat kedua orangtuanya tengah gundah gulana dan nyaris putus asa dalam mencari solusi, Dika berulah lagi. 

Kali ini ia melakonkan drama yang jauh lebih dahsyat lagi, terasa mengguncang hati dan jiwa orangtuanya. Betapa tidak! Kartu kredit ayahnya jebol, dan ayahnya harus membayar lebih dari duabelas juta rupiah! Dika memanfaatkan kartu kredit ayahnya untuk membeli game online. Ia telah mengintip PIN karti kredit ayahnya dan mengingat angka-angkanya dengan tepat.Betapa kaget ayahnya saat mengetahui hal ini. 

Ada rasa marah yang memuncak, ada rasa sedih, bercampur aduk pula dengan perasan bersalah, kecewa, menyesal, dan seribu satu rasa lain yang sulit dilukiskan. Begitu pula ibunya, perasaan hatinya bagai diiris sembilu. Ini anak satu-satunya, sangat disayangi pula. Rasanya sesak di dada, sulit diungkap dengan kata-kata apapun.Dalam kondisi puncak putus asa, orangtua Dika menghubungi saya. 

Mereka berharap hipnoterapi dapat membantu mengatasi masalah ketagihan main game putranya. Dalam suasana hati yang putus asa dan hilang harapan, saya meyakinkan bahwa berdasarkan pengalaman menjadi hipnoterapis AWGI sejak tahun 2009, masalah ketagihan main game dapat diatasi dengan hipnoterapi. Ada kelegaan, terasa dari suara di ujung telepon. 

Mereka pun memutuskan untuk segera menemui saya untuk menjalani konseling dan terapi. Kami menyepakati waktu yang tepat untuk bertemu.Saat yang dinantikan akhirnya tiba. 

Dalam konseling dengan kedua orangtuanya, saya menggali informasi yang dibutuhkan untuk proses terapi nanti. Hal-hal seputar tumbuh kembangnya Dika sejak dalam kandungan dan bagaimana pola asuh kedua orangtuanya. Soal-soal mengenai kebutuhan dasar psikologis seorang anak dan bahasa kasih yang diterapkan dalam keluarga pun dibahas juga. Dan masih banyak hal lainnya dikupas tuntas dalam pertemuan ini.Selanjutnya saya melakukan wawancara dengan Dika. 

Dengan cara tertentu, saya menggali permasalahannnya. Kemudian membangun motivasinya untuk berubah. Saya juga mempersiapkan pikirannya untuk proses penemuan akar masalah dan sekaligus penyelesaiannya. 

Proses menggali akar masalah ke dalam pikiran bawah sadar Dika pun mulai dilakukan. Diawali dengan proses induksi, yaitu membawa klien ke dalam kondisi rileksasi yang sangat dalam. Kemudian klien dibimbing untuk menemukan momen-momen penting dalam kehidupannya. Tujuannya adalah untuk mengecek peristiwa atau kejadian yang menyebabkan masalah ketagihan main game saat ini.

Sesuai teori yang kemudian dibuktikan dalam pengalaman praktek selama ini, bahwa permasalahan anak atau bahkan orang dewasa sekalipun yang berkaitan dengan masalah emosi dan pikiran tidak terlepas dari pengaruh orang-orang terdekatnya, terutama kedua orangtuanya. Maka hasil temuan dalam terapi terhadap Dika pasti sangat ditunggu-tunggu oleh orangtuanya. 

Hal ini bisa menjadi bahan evaluasi bagi mereka untuk memperbaiki pola asuh selama ini.Proses terapi terus berlangsung dengan lancar. Informasi yang sangat penting terus digali. Dari hasil hypnoanalisa mendalam berdasarkan proses yang dilakukan akhirnya ditemukan akar masalahnya. Sesuatu yang bagi kebanyakan orang merupakan hal biasa atau bahkan sepele. 

Apa akar masalahnya? Kondisi atau peristiwa paling awal yang menjadi penyebab pertama masalah Dika adalah rasa bosan. Dika merasa bosan ketika ditinggal pergi oleh orangtuanya yang bekerja. Hal ini dirasakan sejak Dika berusia empat tahun. 

Dan terus terjadi beberapa kali dalam usia selanjutnya. Bahkan suatu ketika, ia merasa sangat bosan dan malas karena dibiarkan sendirian di sebuah ruangan dari pagi sampai sore. Rasa bosan ini sangat mencekam bagi Dika. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2