Mohon tunggu...
Dewi Intansari
Dewi Intansari Mohon Tunggu...

Manusia penimbun mimpi

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Tiga Kata Keramat

11 Desember 2016   19:58 Diperbarui: 12 Desember 2016   06:56 0 2 1 Mohon Tunggu...

Bedug adzan bertalu-talu ketika ingatan menyeringai dan mendatangi anganku. Dirimu hadir dalam kelebat ruang tanpa nama, membuai aku tanpa harus menyentuh. Dirimu dan genangan mata yang hitam, dalam dan kelam. Dirimu merampas gerak jiwa yang terkungkung dalam gulita, menebar titik cahaya yang mengasuh langkahku menuju terang sorot matamu. Kau setubuhi dinamika pikir ini lebih dari puluhan kali, meski ku yakin kau tak pernah tahu akan hal itu.

Pulpenku masih menari-nari, diatas kertas yang semula hambar menjadi penuh tuangan rasa. Kau pikir apa semua ini? puluhan lembar kertas yang berjubal dalam satu amplop putih yang tak jua kutulisi alamat sang penerima. Kutuang rindu tiap kali ia hendak menetes sebelum tercecer terlalu banyak.

Bagai hari sebelumnya, kali ini linangan kecil tak sanggup ku bendung lagi. Ternyata rindu telah menjadikanku sedemikian lembek, selembek pempek palembang. Inilah surat cinta yang tak mungkin kamu baca, kecuali jika keajaiban hadir dan ternyata engkau jodohku. Biarlah aku berangan sejenak, kawan. Ini indah sekali.

Muncul berbagai kata yang tak pernah kuucap, yang seharusnya terucapkan semenjak bertahun lalu. Hanya ini yang aku punya untukmu, segepok surat cinta yang tak punya nyali untuk ku sampaikan. Kata-kata setengah matang alias tidak gombal tidak pula romantis. Hanya kalimat canggung yang terilhami dari masa-masa yang menyelipkan rindu diantara ruang hati. Liang tempat aku sempat menguburmu dalam.

Apa arti tatapanmu yang dalam itu? Bagai tali tambang yang telah mengikat leherku. Ah! Klise betul kalimat ini. Tapi kamu memang kurang ajar, membiarkanku jatuh cinta selama ini membuatku memutari roda waktu yang itu itu saja.

Namun kutahu tak sepenuhnya ini salahmu jika aku jatuh cinta atas nama tangan semesta, dan itu salahku jika aku tak pernah memiliki nyali yang cukup untuk mengatakan tiga kata keramat yang membayangiku tiga tahun terakhir. Sungguh sinting aku dibuatnya.

Tak pernah kutahu bahwa rasa cemburu yang tak terucap pun begitu melelahkan. Rasanya seperti ingin kentut tapi tidak berani bilang. Hanya ditahan dan kemudain merembes perlahan-lahan. Senyap tanpa suara namun hangat hawanya dan hanya busuk yang silir semilir menusuki lubang pernafasan. Sangat menyiksa. Seperti itulah ketika kutahu dirimu memiliki cinta, cinta yang kenyataannya bukan aku.

Mungkin dirimu tidak mengerti bahwa aku sempat begitu saja menyerah terhadap dirimu. Ya, pengecut. Aku menyerah bahkan sebelum aku mengatakan apa-apa kepadamu. Siapa yang tahu kalau ternyata dirimu menantikan itu? siapa yang tahu kalau dilubuk hatimu sebenarnya kamupun mengharap hal yang sama? aku tak pernah tahu jawaban dari hayalan kurang adab itu. Kenyataanya aku hanya menutupi mataku, telingaku dan mulutku. Menikmati cinta ini sendirian tanpa menilik siapa sang empu cinta itu sendiri: kamu.

Kini segalanya telah berangsur terlalu lama, ibarat tebing ia telah terkikis angin bersilirsilir. Cinta yang pernah tersendat realita dan dalil yang mencipta banyak keraguan. Mempertanyakan dirimukah yang sejati?

Namun kusadari bahwa keraguan tak kan berlaku bagi engkau dan diriku. Sekali langkah tangkas kita melompati garis start selamanya kita akan berlari sekencang badai ditengah samudra atlantik. Setidaknya itulah yang dapat kuprediksikan, atau itu hanya sepotong dari sekian onggok rasa percaya diriku.

Di perjalanan waktu yang sebegini jauh, dirimu tergambar begitu samar dan menggetarkan. Tak pasal engkau menggetarkan atau tidak, namun hampir rontok jantung ini melihat senyuman itu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x