Mohon tunggu...
Roman Rendusara
Roman Rendusara Mohon Tunggu... Memaknai yang Tercecer

Roman Rendusara adalah nama pena. Lahir di Kekandere, Kec.Nangapanda, Ende-Flores, NTT. Pernah meneguk rumitnya filsafat. Lalu jatuh hati pada ilmu ekonomi dengan segala kearifannya. Beberapa kisah tercecer pernah bertengger di media lokal. Memiliki blog pribadi: floreside.wordpress.com. WA 081246874267

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Mengayak Makna WNA dalam Filsafat

20 Januari 2021   12:22 Diperbarui: 20 Januari 2021   19:10 412 73 9 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Mengayak Makna WNA dalam Filsafat
Turis asing di sawah berundak Ubud, Bali (Dok. Biro Komunikasi Publik Kemenparekraf via Kompas.com)

Secara umum, kata 'xenos' (Bahasa Yunani) berarti orang asing. Namun 'xenos' juga berarti tuan rumah dan tamu. Sejauh, baik tuan rumah maupun tamu terikat oleh aturan-aturan keterlibatan tertentu. Mereka terlibat dalam budaya keramahtamahan (xenia) di wilayah dipijak.

Ketidakterlibatan dan ketakterikatan dalam masyarakat dengan segala menaati aturan/hukumnya wilayah tersebut, maka menghasilkan label sosial yang disebut teman (philoi) dan musuh (ekthroi).

Teman (philoi) berarti sesama yang patuh tunduk terhadap aturan-aturan hukum, baik yang disepakati bersama maupun telah diatur. Sesama teman (philoi) menuntut keterlibatan atau partisipatif dalam Polis, komunitas kota/negara.

Sementara musuh (ekthroi) adalah berarti mereka yang mengabaikan seperangkat aturan hukum yang berlaku dalam sebuah komunitas, wilayah dan negara. Musuh (philoi) tidak terlibat dalam kehidupan masyarakat. Mereka, bahkan, tidak mengakui aturan yang disepakati. Mereka melanggar hukum dengan sengaja.

Perdebatan filsuf Thrasymakos versus Plato dan Sokrates menggeser makna 'xenos' (orang asing) sebagai musuh pribadi (ekhtros) dan musuh negara (polemios).

Misalnya, Thrasymakos disebut sebagai orang asing sebab mendefenisikan keadilan sebagai segala tindakan apapun demi kepentingan yang lebih kuat. Keadilan menuntut pembayaran. Dengan kata lain, kekuasaan yang mengatur soal keadilan.

Plato dan Sokrates meradang. Bagi Plato, keadilan adalah panggilan kecakapan, membatasi diri pada kekuasaan. Dan menurut Sokrates, keadilan melaksanakan peran independen, tanpa memedulikan kekuasaan.

Thrasymakos memusuhi Sokrates. Sokrates tetap menawarkan keramahan. Namun, ia tegas dalam prinsip. Meski tawaran keramahan Sokrates mengundang risiko dari tangan 'xenos' atau 'polemios'. Sokrates sabar dan hati-hati. Ia akhirnya mencapai kecakapan dialogis, filosofis, dan demokatis tentang keadilan. Dan Thrasymakos, menjadi 'xenos' yang bimbang (the indecidable foreigner).

Selanjutnya, Sokrates menegaskan, penjaga kota harus seperti anjing yang mampu membedakan teman dan musuh. Teman bisa saja sebagai orang asing, jika tidak terlibat dalam aturan-aturan bersama. Musuh sudah pasti tidak mau partisipasi dalam sebuah komunitas masyarakat.

Sokrates pun mengatakan, polis harus diikat bersama. Disatukan dengan rasa memiliki. Polis sebagai tempat bersama.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN