Mohon tunggu...
Roikan
Roikan Mohon Tunggu... Kartunis yang Belajar Gaya Hidup Ilmiah

Kartunis yang mendalami Antropologi Media dan Budaya Kreatif. Alamat cangkruk warkop ada di https://www.roikansoekartun.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Merasakan Bertani Tanpa Sawah dengan Organic Urban Farming (OUF)

16 Mei 2019   11:21 Diperbarui: 16 Mei 2019   11:38 0 1 0 Mohon Tunggu...
Merasakan Bertani Tanpa Sawah dengan Organic Urban Farming (OUF)
Panen Sayur Sendiri (Dokumentasi Pribadi)


Kalau ke kota esok pagi sampaikan salam rinduku
Katakan padanya padi-padi telah kembang
Ani-ani seluas padang
Roda giling berputar-putar siang malam
Tapi bukan kami punya


Kutipan lagu berjudul Salam dari Desa yang dibawakan oleh Leo Kristi seperti mengingatkan bagi kita yang pernah menghabiskan masa kecil di desa. Ada musim tanam saat semua sibuk menebar benih, musim panen saat semua sibuk menuai hasil usaha keras siang malam. Sektor pertanian menjadi tumpuan harapan dalam upaya menjaga ketahanan pangan, penyediaan kesempatan kerja, sumber pendapatan, penyumbang devisa, dan pertumbuhan ekonomi nasional (Mayrowani, 2012). 

Saya masih ingat saat menyaksikan tayangan televisi ketika masih tinggal di desa pada tahun 90-an, dari pesawat televisi tabung hitam putih ada petani di dalamnya. Peresmian lahan pertanian di daerah baru, panennya Pak Presiden sampai kuis cerdas cermat ala petani yang dikenal dengan klompencapir.

Lirik dari Almarhum Leo Kristi di atas, untuk hari ini hanya dianggap sebagai romantisme petani masa lampau. Itu semua tidak sebanding dengan peluh dan pilu petani yang mengerjakan semua proses sendiri, di tengah berbagai permasalahan yang terjadi karena perubahan jaman. Harga panen yang jatuh, sulitnya regenarasi petani, ancaman alih fungsi lahan pertanian, dan ekspansi pengembang  properti maupun spekulan tanah yang akan membuat perumahan di area pertanian yang berada di kawasan pinggiran kota. 

Pernahkah anda merasakan bagaimana nikmatnya memanen dan menikmati hasil kebun sendiri?. Saya besar di desa dan merasakan sendiri bagaimana proses bertani khusunya padi. Dari proses penanaman benih, perawatan padi, menjaga dari serangan hama sampai terlibat ketika panen. 

Semuanya tidak mudah belum lagi harga komoditi pasca panen yang terkadang kurang bersahabat. Bagi orang kota, hal seperti itu sulit ditemukan. Mereka sampai rela keluar kota mendatangi agrowisata maupun desa wisata yang menyediakan wahana wisata petik. 

Misalnya petik apel atau stroberi di Batu. Ada beberapa desa wisata yang membuat paket wisata dengan tanam padi. Biar orang kota merasakan bagaimana menjadi seorang petani secara menyenangkan walau sehari. Itu tidak sebanding dengan petani di desa yang secara turun temurun berdayausaha dari sawah yang menjadi sumber penghidupan. 

Saat ini tren hidup sehat mendorong masyarakat termasuk yang tinggal di perkotaan untuk menanam bahan makanan sendiri. Sayur mayur mandiri seperti tomat, selada, kol, timur dan cabai ada pula caisin, kangkung dan bayam. Urban farming atau bertani di perkoaan adalah salah satu solusinya. 

Jadi tidak ada halangan orang kota bisa berkebun seperti layaknya orang desa. Saya pernah mendengar sebuah ungkapan salah satu kunci panjang umur adalah rajin berkebun dan selalu tersenyum. Berkebun dengan tersenyum adalah kombinasi menikmati hidup yang paling tepat.

Tanah pekarangan yang dapat ditemukan di desa adalah investasi. Investasi untuk anak cucu di masa mendatang. Tanah pekarang juga representasi dari upaya ketahanan pangan sektor rumah tangga pedesaan berbasis kearifan lokal. Tidak akan dibiarkan terbengkalai namun dimanfaatkan untuk menanam komoditas penopang pangan keluarga seperti sukun, kelapa, pelawija, ketela sampai durian. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
KONTEN MENARIK LAINNYA
x