Mohon tunggu...
R Sugiarti
R Sugiarti Mohon Tunggu... writerpreneure

writerpreneure, freelance writer, communications consultant, yogini

Selanjutnya

Tutup

Analisis Artikel Utama

Gibran Polah Jokowi Kepradah, Menang Ra Kondang Kalah Ngisin-isini

21 Juli 2020   15:00 Diperbarui: 22 Juli 2020   10:20 2939 26 4 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Gibran Polah Jokowi Kepradah, Menang Ra Kondang Kalah Ngisin-isini
Warga membubuhkan tanda tangan dukungan terhadap putra sulung Presiden Jokowi, Gibran Rakabuming Raka maju Pilkada Solo 2020 di Jalan Bhayangkara Solo, Jawa Tengah, Minggu (3/11/2019). (Foto: KOMPAS.com/LABIB ZAMANI)

Filosofi Jawa selalu kental mewarnai segala tindakan dan aktivitas Presiden Joko Widodo (Jokowi), baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam pemerintahan.Karena kentalnya filosofi Jawa itulah maka Jokowi kelihatan genuine, merakyat, bijak, berwibawa dan banyak dicintai masyarakat.

Tak heran jika dukungan kepadanya selalu solid dan kuat tak perduli meskipun banyak serangan kampanye negatif bahkan kampanye hitam menghantamnya.

Secara pribadi figur Jokowi bisa dibilang tangguh dalam pesona sikap-sikap kejawaanya yang secara  spontan selalu mewarnai sebagian besar tindak-tanduknya.

Meskipun kental dengan ajaran dan sikap yang menggambarkan teladan adi luhung filosofi Jawa, namun Jokowi tidak terjebak dalam sikap cauvinis dan lokalistik. Dengan mengadopsi keunggulan budi sikap ksatria Jawa, Jokowi justru bisa dikenal sebagai tokoh yang sangat nasionalis, egaliter dan menghargai keberagaman bangsa Indonesia.

Ketika Jokowi mampu tampil sebagai figur pemimpin beraroma keluhuran budaya dan filosofi Jawa yang mulia, maka tantangan  muncul dari orang-orang yang ada di sekitarnya.

Kapabilitas para pembantunya seperti para menteri dan pejabat-pejabat lainnya harus mampu mengimbangi keteladanan dan semangat yang dimiliki Jokowi. Pun dengan orang-orang dekat seperti  keluarga dan kerabat-kerabat dekat yang ada di sekitarnya.

Sebagai seorang pemimpin, kebaikan dan keburukan para orang dekatnya merupakan tanggung jawabnya juga. Karena itu baik buruknya kinerja, performa dan mentalitas mereka akan menjadi nilai baik dan buruk pemimpinnya juga.

Pun kasus tuduhan membangun dinasti politik yang kini tengah panas dituduhkan kepada Jokowi. Jika dicermati kasus ini bisa dikupas dengan menggunakan  pisau filosofi Jawa yang ada dalam petatah-petitih (peribahasa) yang sudah cukup populer dalam masyarakat.

Pertama yaitu "Ajining Diri Ana Ing Lathi". Filosofi Jawa yang baru-baru ini viral sebagai lagu bertitel " Lathi" hingga dunia internasional ini, memiliki pendalaman makna yang tepat dengan fenomena tuduhan dinasti politik pada Jokowi sekarang.

Benar bahwa kehormatan atau kemuliaan seseorang terletak pada lidah atau ucapannya.

Ketika putra sulung Jokowi, Gibran Rakabuming Raka diketahui berkeinginan maju pada Pilwalkot Solo 2020 sekarang, maka jangan disalahkan jika khalayak maupun media mengungkit kembali perkataan yang pernah diucapkan Gibran maupun Jokowi sendiri.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x