Mohon tunggu...
R Sugiarti
R Sugiarti Mohon Tunggu... Freelancer

freelance writer, communication consultant, yogini

Selanjutnya

Tutup

Kisahuntukramadan Pilihan

Cerpen: Si Mbak Pulang Pertengahan Ramadan

23 Mei 2020   22:36 Diperbarui: 23 Mei 2020   22:35 21 15 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Cerpen: Si Mbak Pulang Pertengahan Ramadan
Ilustrasi kasih saya ibu dan anak lanangnya - Sumber Foto:  August de Richelieu dalam Pexels.com

Hilal telah tampak dengan jelas, jadi tak perlu ada perbedaan pendapat lagi. Para ulama dari segala semua golongan pun sepakat dengan keputusan besok adalah 1 Syawal 1441 H. Itu artinya Idul Fitri telah tiba. Hari kemenangan bagi umat muslim telah tiba. Perayaan lebaran boleh dilaksanakan. 

Terserah bagaimana caranya, yang penting tak boleh melanggar aturan dan protokoler kesehatan yang telah ditetapkan oleh pemerintah.Karena daerah tempat tinggalku termasuk dalam status merah, otomatis tak ada yang bisa dilakukan di luar rumah. 

Sholat id berjamaah di lapangan maupun di masjid tidak diselenggarakan. Silaturahmi dari rumah ke rumah juga dicegah. Pemerintah menghimbau semua warga untuk melakukan gerakan tutup pintu agar tak ada orang yang nekat bertamu. Salam-salaman untuk bermaaf-maafan cukup dilakukan melalui gawai saja.

Duuuh tak terbayangkan lebaran kali ini akan kulewati dengan cara seperti ini. Tapi apa boleh buat. Konon memang harus begitulah caranya untu menyelamatkan sesama manusia. Kita harus ikhlas dan menerima semua dengan lapang dada. Sampai virus corona ini bisa kita kalahkan dan wabah bisa kita redakan.

Aku harus bersyukur karena aku hanya terkurung di rumahku sendiri. Memang ada yang bilang kehidupan ini seperti burung. Dikurung, disemprot, dijemur dan dikurung lagi. 

Namun itu harus disyukuri. Semuanya kita jalani di rumah sendiri. Kita harus belajar menjiwai pepatah-pepatah seperti rumahku istanaku, home sweet home, no place like home, dan banyak kata-kata mutiara tentang rumah lainnya, yang mungkin bisa membuat kita berlapang dada.

...

Usai Adzan Maghrib yang terdengar merdu dari masjid, aku mendengar takbir terus-terusan digemakan oleh sang muadzin. Sayup kudengar suaranya penuh haru. Kali ini ia begitu mendominasi. Tidak seperti lebaran yang lalu-lalu. Dimana biasanya banyak suara-suara jamaah lain yang mengganggu. 

Ada suara anak-anak yang cempreng melengking, ada suara bapak-bapak yang fals dan parau. Kali ini sang muadzin ibarat merilis album solo. Tak koor, tak ada orkestra, tak ada penonton yang memberikan support dan applaus-nya. Hasilnya tentu lebih merdu, namun terasa sendu. Kegembiraan dan kebahagiaan yang biasanya tersampir pada suara takbiran, hanya diwarnai suasana haru.

Sembari mendengarkan suara takbiran, tiba-tiba aku teringat akan Si Mbak. Yaitu si inem yang telah tiga tahun tahun lebih menjadi asisten rumah tangga di rumahku ini. Terbayang di mataku wajahnya yang lugu namun selalu gembira, kali ini harus kehilangan tawa. Dari pesan whatsapp yang kuterima tadi siang, dia benar-benar merasa tak berdaya akan ujian yang diterimanya. Nampaknya virus corona benar-benar telah meluluh lantakkan harapannya.

"Wah mbak, lebaran besok berarti si mbak tetap berlebaran di sini bersama kita dong mbak," ujarku padanya beberapa waktu lalu. Hal ini kukatakan padanya sebelum puasa Ramadan tiba. Saat itu berita di TV memberitakan tentang larangan mudik bagi warga DKI Jakarta untuk menghentikan penyebaran virus corona.

"Oh iya ya bu," jawab Si Mbak sambil manggut-manggut pasrah saja. Memang adat si mbak selalu begitu. Entah dia setuju atau tidak, yang dia lakukan selalu saja menjawab iya selalu mantuk-mantuk (mengangguk-anggukan) kepalanya. Selanjutnya terserah nanti saja.

Setelah itu tak ada lagi pembicaraan antara aku dan si mbak mengenai permasalahan mudik pada lebaran nanti. Terus terang aku merasa tenang. Meskipun nanti lebaran kami sekeluarga terkurung di rumah, tapi aku tak akan kewalahan. Karena si mbak nggak bisa mudik oleh aturan pemerintah, maka justru aku yang diuntungkan. Baru sekali dalam sejarah selama ini, lebaran kali ini si mbak masih ada bersama kami.

Namun betapa kagetnya aku ketika seminggu menjalani puasa Ramadan, tiba-tiba Si Mbak mengatakan bahwa pertengahan Ramadan ini, dirinya minta mudik lebih dini.

"Kalau bisa sih sebelum tanggal 15 Ramadan ini saya sudah bisa jalan pulang njih bu!" pinta Si Mbak menghiba.

"Loh, bukannya semua pemudik yang memaksa pulang ke daerah nantinya akan dikarantina 14 hari dulu mbak? Mbak nggak takut nanti dikurung di sana setengah bulanan," ujarku mengingatkan tentang kebijakan beberapa pemerintah daerah yang akan mengkarantina semua orang yang memaksa pulang kampung, dengan harapan si mbak akan membatalkan niatnya tersebut.

"Nah justru itu bu. Makanya saya memohon bisa pulang sebelum pertengahan Ramadan ini. Jadi jika terpaksa dikarantina dulu selama 14 hari, saya sudah bisa pulang ke rumah pas menjelang hari Idul Fitri," jelas si mbak menjelaskan maksudnya.

"Jadi Si Tole tidak sedih bu. Lebaran nanti dia masih bisa merayakannya bersama saya. Kasihan dia bu. sejak umur satu tahun hingga empat tahun ini, hanya bisa bersama ibunya saat lebaran saja bu. Selebihnya hari-harinya hanya bersama emak saya saja," sambung si mbak yang membuatku haru.

"Trus nanti Si Mbak balik ke sini lagi kapan? Jangan lama-lama ya mbak?" tanyaku sekaligus meminta.
"Ya secepatnya jika kondisi sudah memungkinkan njih bu. Paling seminggu setelah lebaran saya sudah kembali ke sini bu. Seperti selama ini kan saa selalu epa janji bu," jawab si mbak meyakinkan kepercayaanku.

"Ya sudah mbak. Saya tak bisa menghalangi keinginanmu. Yang penting jaga kesehatan ya. Serem lho mbak corona ini," ujarku menyetujui permintaannya.

...

Akhirnya pada puasa hari ke-13 Si Mbak benar-benar berangkat pulang ke kampung halamannya di Bumiayu. "Waduh bukannya 13 itu angka sial?" batinku waktu itu kurang setuju. Tapi apa boleh buat, setelah berupaya keras mencari-cari tiket travel untuk pulang. Ternyata hanya di jadwal itu yang didapat. 

Karena adanya larangan mudik yang diterapkan oleh beberapa daerah di jalur mudik Si Mbak, tak banyak travel yang berani mengambil resiko. Hanya ada beberapa travel yang katanya mengerti jalur-jalur tikus untuk menghindari razia mudik dan pencegatan aparat yang tetap beroperasi dengan jadwal yang berubah-ubah tidak pasti.

Itupun dengan harga yang cukup tinggi. Tiga kali lipat dari biasanya. Jika di hari lebaran normal Si Mbak bisa mendapatkan tiket seharga Rp.150.000,- saja, kali ini dia ditarik Rp.700,000,-. Harga yang sangat tinggi untuk orang-orang sekelas si mbak. Namun karena kasihan dan sebagai balasan atas kerja si mbak yang memuaskan selama ini, biaya itu aku yang tanggung.

"Hati-hati ya mbak. Nitip ini buat hadiah lebaran Si Tole," ujarnya saat melepas Si Mbak berangkat sembari memberikan amplop angpao untuk anaknya.

Mata Si Mbak nampak berkaca-kaca. Tapi sepertika bukan karena duka. Aku melihat Si Mbak menyimpan bahagia. Syukurlah, aku senang bisa membantu Si Mbak bisa mendapatkan kebahagiaan menjelang hari lebaran ini.

"Terima kasih njih bu. Saya pamit. Mohon doa restunya njih bu. Mohon maaf semua kesalahan saya selama ini njih bu. Maturnuwun sanget," pamit Si Mbak seraya segera mengangkat kardus oleh-olehnya ke dalam bagasi travel yang sudah menunggu di jalan depan rumah.

Setelah semua siap, travel pun mulai berangkat meninggalkan jalan depan rumah. Melaju pelan sampai akhirnya menjauh dan hilang ditelan malam. Mengantarkan Si Mbak pulang ke kampung halaman.

...

Benar seperti dugaan. Sesampainya di kampung halaman, Si Mbak diharuskan melaporkan diri ke kelurahan. Kemudian Si Mbak benar-benar harus menjalani karantina mandiri selama 14 hari, di lokasi yang sudah disiapkan di balai desa. Dari whastapp yang dituliskan Si Mbak padaku, ada beberapa orang sepertinya yang juga nekat pulang di masa wabah corona sekarang.

Suasana di karantina menurut Si Mbak, tidaklah terlalu buruk. Fasilitasnya cukup lengkap dan bersih. Logistik juga dijamin oleh desa. Jadi tinggal menjalani hari-hari karantina dengan ikhlas saja. Lucunya menurut cerita Si Mbak, tak ada tes corona terhadap mereka yang di karantina. 

Kata aparat di sana, desa Si Mbak tidak memilikinya. Alat tes itu katanya mahal. Jadi yang penting jalankan karantina saja selama 14 harus sesuai yang arahan pemerintah pusat. Toh semua baik-baik dan sehat-sehat saja.

Namun tragedi memang selalu terjadi tanpa bisa kita hindari. Kira-kira setengah masa karantina telah dijalani, mendadak salah satu peserta karantina jatuh sakit parah. Tiba-tiba orang itu demam tinggi diiringi batuk-batuk tanpa henti. Selanjutnya mendadak sesak napas hingga pingsan di lokasi karantina. 

Petugas karantina desa segera membawanya ke rumah sakit di Kota Kabupaten. Ternyata setelah dilakukan berbagai macam tes, akhirnya diketahui bahwa orang itu positif terinfeksi virus corona Covid-19.

Suasana Kabupaten segera gempar. Segera petugas-petuga medis dari Kabupaten dikerahkan ke lokasi tempat karantina di desa si mbak. Kata Si Mbak melalui whatsappnya kepadaku, suasana sangat genting. Petugas medis segera menyemprot semua sudut tempat karantina dengan desinfektan di sana-sani.

Lokasi karantina segera diamankan dari semua orang kampung yang ada. Orang-orang yang dikarantina ditambah para pegawai yang mengawasi dan membantu lokasi karantina segera di tes infeksi corona. Ternyata total ada 7 orang yang dikarantina dan 4 orang petugas desa dinyatakan positif terinfeksi corona. Si Mbak termasuk salah satunya. Karena itu, mereka semua segera dievakuasi dan dibawa ke lokasi karantina kabupaten yang ada di RSUD Kabupaten.

"Duh... Gusti, berarti Mbak justru tertular virus itu di lokasi karantina desa ya mbak?" tanyaku sedih.

"Iya bu. Karena desa tidak memiliki alat tes. jadi kita yang dikarantina malah bercampur dengan orang yang sudah terkena virus itu bu. Jadinya malah kita tertular virus itu dari situ bu," jawab Si Mbak menjelaskan.

"Waduuuh, trus berapa lama nanti Mbak harus menjalani pengobatan dan isolasi di RSUD mbak?" lanjutku bertanya lagi.

"Tidak tahu bu. Katanya sampai sesembuhnya dan setelah dinyatakan negatif bu. Kata petugasnya sih bisa dua minggu, tiga minggu atau lebih bu," jawab  Si Mbak sambil menambahkan icon sedih.

"Haduh mbak? Berati Mbak nggak bisa merayakan lebaran di rumah ya? Bagaimana dengan Si Tole?" ujarku mencemaskan nasib anaknya.

"Iya bu. Apa boleh buat. Nggak apa kok bu. Yang penting emak sama Si Thole sehat saja. Kasihan kalau mereka tertular juga. Untungnya Si Thole sudah biasa pisah sama saya bu. Kalau harus pisah sama Si Emak baru dia akan bingung bu. Saya dengar dari Emak baju baru buat si Tole sudah dibelikan kok bu. Alhamdulillah saya cukup senang mendengar dari emak Si Tole sudah kegirangan bu. Terima kasih atas sangu dan bantuannya ya bu," kata Si Mbak ikhlas menerima cobaan yang harus diterimanya.

...

Suara muadzin yang lafadkan takbir masih terdengar lantang berkumandang dari toa masjid. Suaranya masih tetap sama sebelum aku terbawa lamunan tentang Si Mbak tadi. Sejenak aku pun turut menggumamkan takbir mengikuti sang muadzin. 

Dalam hati aku berdoa, semoga wabah corona ini segera reda setelah lebaran usai nanti. Semoga Tuhan selalu melindungi orang-orang baik dan ikhlas seperti Si Mbak yang kini harus batal merayakan lebaran bersama anaknya yang dikasihi dan harus menjalani isolasi di rumah sakit sendiri. Aamiin.

...

VIDEO PILIHAN