Mohon tunggu...
R Sugiarti
R Sugiarti Mohon Tunggu... writerpreneure

writerpreneure, freelance writer, communications consultant, yogini

Selanjutnya

Tutup

Tebar Hikmah Ramadan Pilihan

Memaknai Perayaan Waisak dan Purnama Ramadan di Tengah Pandemi, Tolong Cucilah Kerannya Sekalian!

7 Mei 2020   07:22 Diperbarui: 7 Mei 2020   07:31 52 9 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Memaknai Perayaan Waisak dan Purnama Ramadan di Tengah Pandemi, Tolong Cucilah Kerannya Sekalian!
Pesta Lampion Perayaan Waisak Tahun Lalu yang Tahun Ini Kemungkinan Tak Bisa Dilakukan - Sumber Foto: https://www.rancahpost.com/ 

"Individually, we are one drop. Together, we are an ocean." --- Ryunosuke Satoro 

Satu hal yang menyolok terkait terjadinya pandemi Covid-19 sekarang ini adalah revitalisasi budaya cuci tangan sebagai budaya menjaga higienis untuk kesehatan bersama. 

Hal tersebut sesuai dengan rekomendasi dari badan kesehatan dunia (WHO) yang menetapkan cuci tangan sebagai salah satu hal penting yang harus dilakukan khalayak selain menjaga jarak fisik (physical distancing) dan memakai masker untuk mencegah penyebaran virus corona yang sangat cepat.

Kenapa kita harus menunggu rekomendasi dari WHO? Padahal sudah semestinya kita mengetahui bahwa budaya cuci tangan merupakan budaya peninggalan nenek moyang yang sudah ada sejak zaman dulu kala. 

Meski cukup menyedihkan namun tak apa. Sejak sosialisasi pentingnya cuci tangan guna mencegah penyebaran virus corona dilakukan oleh berbagai instansi kesehatan, segera cuci tangan menjadi salah satu ritual penting yang banyak dilakukan oleh orang-orang.

Wastafel permanen maupun portable pun langsung bermunculan di lokasi-lokasi publik yang ada. Seperti di pertokoan, perkantoran, pusat-pusat keramaian, fasilitas publik serta lokasi-lokasi strategis lainnya. Sebagian merupakan keterpaksaan yang harus dilakukan karena peraturan tegas yang diberlakukan, sebagian lagi karena keikhlasan akibat mulai tumbuhnya kesadaran yang diharapkan.

Salah satu contoh gampangnya adalah wastafel yang disediakan oleh mini market-mini market seperti Indomaret, Alfamart, dan lain-lainnya. Mungkin karena aturan yang ditetapkan dari pusat, maka pada sekarang ini pada setiap mini market yang ada, bisa dipastikan selalu menyediakan wastafel untuk cuci tangan. 

Beberapa ada yang langsung membuat wastafel permanen yang nyaman. Namun kebanyakan lainnya hanyalah wastafel portable yang menyerupai dispenser untuk minuman segar.

Tentunya tidak ada masalah dengan keberadaan wastafel permanen yang memang pantas dan layak digunakan untuk cuci tangan. Namun untuk wastafel portabel, ada banyak catatan yang harus ditingkatkan untuk diperbaiki. 

Pertama karena wastafel portable ini harus diisi air secara manual, seringkali saya mendapati wastafel portable airnya habis dan petugas yang bertanggung jawab mengisinya abai untuk memperhatikan hal itu. 

Kedua karena bersifat portable seringkali kelengkapan fasilitas pendukungnya kurang memadai. Misalnya sanitasi untuk penyaluran air buangan seringkali tidak layak. Akibatnya air menjadi tergenang, lokasi menjadi becek dan nampak jorok.

Berdasarkan kenyataan ini maka pengelola usaha ke depannya perlu diperhatikan untuk memasukkan keberadaan fasilitas cuci tangan pada cetak biru pembangunan yang nantinya akan dilakukan. Misalnya bagi pemegang frenchise minimarket, adanya fasilitas cuci tangan sudah seharusnya dijadikan persyaratan standar untuk pembangunan cabang-cabang yang akan didirikan.

Setelah fasilitas wastafel yang layak tersedia, selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah kebiasaan (habit) dari masyarakat penggunanya. Fungsi dari wastafel dalam pencegahan penyebaran virus corona atau virus lainnya adalah dengan menjaga higien atau kebersihan tangan dari kuman sehingga kuman tidak terbawa kemana-mana dan kemungkinan terpindahkan ke obyek lainnya.

Ada banyak hal yang perlu diperhatikan dalam cuci tangan - Sumber Foto: https://www.genpi.co/ 
Ada banyak hal yang perlu diperhatikan dalam cuci tangan - Sumber Foto: https://www.genpi.co/ 
Sayangnya ada keteledoran umum yang seringkali kurang diperhatikan. Yaitu mencuci keran selain mencuci tangan itu sendiri. Rata-rata wastafel yang ada sekarang ini merupakan wastafel manual berkeran. 

Untuk menyalakan air, maka pengguna harus memutar kran air itu sendiri. Kecuali wastafel berkeran otomatis yang hanya ada di tempat-tempat tertentu yang biasanya elit dan mahal.Alat putar tutup buka keran air itulah yang terkadang justru menjadi biang kerok penyebaran kuman karena penggunanya abai untuk membersihkannya sebelum dan sesudah mencuci tangan. 

Virus atau kuman akan berpindah menempel di keran ketika ada orang yang tangannya telah berkuman menyalakan keran. Tanpa mau membersihkan keran orang itu langsung mencuci tangannya. 

Setelah dirasa tanganna bersih iapun kembali menyentuh keran untuk mematikannya. Dus cuci tangan yang dilakukan menjadi sia-sia. Virus atau kuman kembali menempel di tangannya ketika ia mematikan keran.

Pun ketika orang lain lagi turut menggunakan keran itu tanpa mau membersihkannya terlebih dulu.Akibatnya keran cuci tangan yang seharusnya jadi tempat memutus rantai penyebaran virus, justru menjadi pusat penyebaran virus itu sendiri. Karena itu mencuci keran selain mencuci tangan benar-benar perlu dilakukan.

Bukankah nenek moyang dulu tidak mengajarkan untuk mencuci keran? Tentu saja hal itu belum ada pada kearifan lokal yang diwariskan para pendahulu kita. Alat cuci tangan yang dulu disediakan para pendahulu kita adalah padasan atau gentong air yang memiliki pancuran. 

Ketika menuutup pancuran otomatis pengguna biasanya langsung mencuci tutup pancuran itu sendiri. Karena untuk menutupnya maka kayu atau karet penutup tersebut pasti terguyur oleh air yang mengalir itu sendiri. Sangat berbeda dengan fungsi keran yang sekarang.

Karena itu tolong cucilah kerannya sekalian ketika kita menggunakan wastafel untuk cuci tangan. Bukan hanya untuk melindungi dan menyelamatkan diri kita sendiri dari virus, kuman, bakteri maupun penyebar penyakit lainnya tetapi untuk melindungi dan menyelamatnya semua umat yang menggunakan.

Perayaan Waisak tidak digelar di Borobudur -Sumber Foto: https://www.liputan6.com/ 
Perayaan Waisak tidak digelar di Borobudur -Sumber Foto: https://www.liputan6.com/ 
Butuh kesadaran dan kebersamaan agar pandemi Covid-19 ini bisa segera dihentikan. Hal itu sama persis dengan semangat perayaan hari Tri Suci Waisak 2564BE tahun 2020 oleh seluruh umat Budha sedunia. 

Dimana kesadaran untuk mewujudkan kebahagiaan bagi semua makhluk bisa diwujudkan dengan adanya kesadaran dan kebersamaan dalam saling menjaga dan melindungi di antara semua umat manusia yang ada. Semoga perayaan Waisak dan ibadah Ramadan di tengah pandemi ini mampu menjadi perekat persatuan bagi seluruh negeri dan juga seluruh manusia di dunia ini. Tabik.

VIDEO PILIHAN