Pemerintahan Pilihan

Seloroh "Racun Kalajengking" Jokowi

16 Mei 2018   21:16 Diperbarui: 16 Mei 2018   21:26 943 7 5
Seloroh "Racun Kalajengking" Jokowi
Ilustrasi: Shutterstock.com

Entah apa yang mempengaruhi sebagian publik tanah air ini, sehingga selalu saja tergoda dan meradang, seputar apapun yang dilakukan dan dikatakan Presiden Republik Indonesia, Bapak Joko Widodo, selalu saja viral di media massa, terutama di media massa sosial.  

Demikian pula halnya dengan seloroh Jokowi seminggu yang lalu tentang "racun kalajengking" sebagai komoditi bisnis termahal di dunia, melampaui emas, yang harganya mencapai sekitar 145 milyar rupiah, juga tidak kalah hebohnya di media massa sosial.

Seloroh tentang racun kalajengking tersebut, dilontarkan Jokowi dalam forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional (Musrenbangnas) di Hotel Grand Sahid Raya, Jakarta, Senin pagi, 31 April 2018. 

Musrenbangnas ini dihadiri oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla, para Menteri, Gubernur dan Bupati/Walikota serta pimpinan TNI dan Polri. Juga hadir para stakeholders terkait dari seluruh tanah air.

Sebagai peserta dalam forum Musrenbangnas tersebut, saya mempunyai catatan interpretasi sendiri atas seloroh Bapak Presiden Jokowi di atas. Catatan interpretasi saya, mungkin saja berbeda dengan komentar publik politik yang bertaburan dan bertebaran di media massa sosial dengan nada yang cenderung funny

Namun tanpa maksud samasekali untuk memberikan klarifikasi atau apalagi mematahkan komentar publik politik tersebut.

Musrenbangnas Instrumen Resmi

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Musrenbangnas adalah satu-satunya instrumen perencanaan pada tingkat nasional yang diakui secara resmi di negeri ini. Pelaksanaannya bukan sekadar formalitas belaka. 

Tujuannya jelas dan pasti, disamping untuk menyelaraskan keterkaitan atau keterpaduan antara perencanaan pembangunan dari aras pusat sampai daerah, juga untuk memastikan tidak ada atau meminimalisir penyalahgunaan perencanaan sebagai "komoditi bisnis" untuk menampung kepentingan-kepentingan pribadi atau kelompok tertentu, yang menyebabkan inefisiensi dan kebocoran anggaran negara.

Berdasarkan pengalaman selama ini, terjadinya korupsi, karena  sudah direkayasa sedemikian rupa sejak awal melalui perencanaan pembangunan. Dalam dokumen perencanaan, telah dititipkan program/kegiatan/proyek pembangunan yang mudah untuk dikorupsi, seperti yang terjadi dalam Proyek E-KTP yang sudah bermasalah sekarang ini. Perencanaan model beginilah yang tidak diharapkan dan harus dibersihkan.

Kiat Antisipasi Korupsi

Seloroh Jokowi di atas tentang "racun kalajengking", tentu dimaksudkan sebagai kiat antisipasi untuk membersihkan perencanaan nasional kita dari wajah korupsi. Seharusnya seloroh Jokowi itu perlu diberi apresiasi positif dan didukung untuk menghapus wajah buruk negara kita dari korupsi.

Dengan korupsi, memang kita cepat kaya. Tapi hanya bersifat sementara dan semu belaka. Kita pun akan cepat miskin juga, setelah ketahuan. Memangnya masih gampang untuk korupsi di era yang serba terbuka sekarang ini? 

Polisi, jaksa dan KPK ada dimana-mana bung! Belum lagi media massa, NGO dan masyarakat yang akan mengobok-obok. Mau sembunyi dimana? Mau lari dimana? Mau minta tolong kepada siapa? Pasti akan berakhir juga diterali besi bung! Anggaran negara yang dikorupsi pun akan bersih kembali. Miskin lagi bukan?

Daripada hanya kaya semu dengan korupsi, lebih baik bersusah-susah kalau ingin kaya. Jika memang sulit untuk melaksanakan bisnis racun kalajengking, ya kita berusaha untuk bisnis komoditi yang lain saja. Mungkin lambat kita kaya. Mungkin juga kita tidak pernah kaya. Tak apa-apalah, yang penting tidak korupsi dan masuk penjara.  ***

Oleh Rofinus D Kaleka

Pemerhati masalah sosial tinggal di Tambolaka, Sumba Barat Daya