Mohon tunggu...
Rofinus D Kaleka
Rofinus D Kaleka Mohon Tunggu... Insinyur - Orang Sumba. Nusa Sandalwood. Salah 1 dari 33 Pulau Terindah di Dunia. Dinobatkan oleh Majalah Focus Jerman 2018

Orang Sumba, Pulau Terindah di Dunia

Selanjutnya

Tutup

Vox Pop Pilihan

Banjir Jakarta, Bencana Rutin Biasa, dan Apa Solusinya?

24 Februari 2018   11:22 Diperbarui: 24 Februari 2018   11:55 1720
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
megapolitan.kompas.com

Setiap musim hujan, wilayah-wilayah dataran rendah yang ramai,  padat penduduknya dan maju pembangunannya, seringkali dilanda banjir. Salah satu contohnya adalah Provinsi Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta. Tiap tahun pasti sibuk mengurusi banjir.

Banjir ini termasuk dalam salah satu jenis bencana yang disebabkan oleh faktor alam. Artinya, banjir adalah bencana alam. Disebut bencana karena mempunyai potensi dampak yang merusak dan merugikan, baik lingkungan, harta benda, jiwa manusia, dan juga wabah penyakit. 

Sebagai pembanding dapat merujuk pengertian bencana menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Purwadarminta, 2006), Kamadhis UGM (2007) dan teristimewa Undang-Undang Nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Bagaimana kalau banjir yang terjadi tidak merusak, ya bukan banjir namanya, tapi lebih pas disebut genangan di daerah lembah atau cekung.

Banjir di Jakarta itu, sebetulnya adalah bencana rutin biasa. Dapat dipastikan akan terjadi setiap tahun pada bulan-bulan tertentu saat puncak musim hujan. Dan potensi merusaknya pun tidak terlalu ganas, meskipun memang tetap merugikan. Berbeda dengan banjir bandang yang disertai dengan badai dan potensi merusaknya sangat dahsyat. Juga sulit diperkirakan waktu terjadinya. Banjir bandang adalah bencana yang buas.

Apa Penyebab Banjir Jakarta

Masalah bencana banjir di Jakarta itu disebabkan oleh multi faktor. Pertama, kerusakan lingkungan di wilayah-wilayah dataran tinggi di sekitar Jakarta, seperti Puncak dan Bogor. Kawasan hutan di daerah ini sudah makin menipis dari waktu ke waktu. Hutan terdegradasi terus-menerus karena faktor multi kepentingan juga.

Diantaranya adalah penebangan pohon secara liar dan tidak terkendali, pembangunan kawasan pemukiman baru, dan pengembangan daerah destinasi alam yang tidak ramah lingkungan. Akibatnya, penahanan atau pengikatan atau penyerapan air saat musim hujan oleh pohon-pohon dalam kawasan hutan sudah tidak memadai lagi. Sehingga volume air run-off (aliran permukaan) sangat berlebihan yang mengalir menuju dataran rendah di Jakarta.

Kedua, kerusakan daerah aliran sungai (DAS) di sepanjang wilayah Jakarta, mulai dari hulu sampai hilir. Perhatikanlah, jangankan hutan, tidak ada lagi pohon-pohon cukup besar, di sekitar atau bibir DAS. Bahkan DAS telah berubah rupa menjadi pemukiman penduduk, baik resmi maupun liar. Kanal-kanal sungai pun terus mendangkal karena timbunan lumpur dan sampah.

Kondisi DAS dan kanal sungai tersebut, tidak bisa lagi berfungsi dengan baik, baik  sebagai penyerapan air hujan maupun saluran air menuju laut. Run-off air hujan yang volumenya memang sudah berlebihan dari dataran tinggi tadi, tidak mampu lagi ditampung oleh kanal-kanal sungai dan meluber ke luar daerah DAS.

Ketiga, pembangunan sarana fisik atau infrastruktur, baik oleh pemerintah maupun swasta yang tidak peduli terhadap kebutuhan lingkungan atau tidak ramah lingkungan. Perhatikanlah, wilayah-wilayah daratan cekung atau lembah di Jakarta, yang sebelumnya menjadi tempat (akhir) tertampung dan meresapnya air hujan run-off, sudah tidak kelihatan lagi. Telah menjadi dataran rata, ditimbun dan dipadatkan dengan agregat dan tanah, untuk pembangunan infra-struktur baik perumahan, apartemen, mall, hotel, jalan maupun perkantoran.

Perhatikan pula jalan-jalan raya dan halaman-halaman luas serperti  perkantoran dan apartemen, semua dengan konstruksi aspal, yang tidak memungkinkan terjadinya penyerapan air hujan run-off. Perhatikan pula taman-taman kota, sebagai ruang terbuka hijau, semuanya dibuat menjadi sangat rata dan bahkan dibuat lagi prototipe bukit-bukit kecil, sehingga tidak bisa berfungsi sama sekali sebagai penyerap air hujan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Vox Pop Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun