Hijau

Jika Lingkungan Bermasalah, Maka Terjadilah Bencana Kehidupan Manusia

4 Januari 2018   23:57 Diperbarui: 5 Januari 2018   00:02 1369 1 0

SEBAGAIMANA kita tahu bersama bahwa sejak awal penciptaan alam semesta ini,  Allah menyuguhkan sebuah Taman Eden, sebagai lingkungan hidup manusia pertama yang diciptakanNya yaitu Adam dan Hawa. Di Taman Eden, Adam dan Hawa diberi kebebasan untuk hidup dan menikmati hasilnya. Namun juga dilarang supaya tidak mengambil buah dari salah satu pohon di Taman Eden. Mereka melanggarnya dan menyebabkan mereka jatuh dalam dosa.

Taman Eden tersebut adalah kisah religius yang menggambarkan bagaimana sejak awal penciptaan manusia dengan akal budinya diberi kewenangan oleh Allah untuk menguasai alam. Dalam hal ini manusia berinteraksi, berhubungan dan memanfaatkan hasil alam, sebagai lingkungan hidupnya dan sumber seluruh kebutuhan hidupnya. Juga menggambarkan bagaimana sejak awal manusia "merusak atau membahayakan" alam dan sekaligus menimbulkan masalah lingkungan hidup. Inilah awal "bencana" yang menimpa manusia.

Kisah Taman Eden tersebut, juga telah menegaskan bagaimana seharusnya manusia tidak boleh sewenang-wenang dalam berinteraksi, berhubungan dan memperlakukan alam. Artinya, manusia diajarkan etika dalam memanfaatkan alam.

Hidup Bergantung dari Alam  

Sepanjang perjalanan evolusi peradaban manusia sejak Adam dan Hawa, masa purba, sampai sekarang dan seterusnya, kehidupan manusia sangat bergantung dari alam. Seluruh kebutuhan hidup primer jasmani kita manusia mulai dari oksigen, air, makanan, papan, sandang dan sumber daya alam lainnya yang menghasilkan kebutuhan sekunder dan tersier, disediakan dan bersumber dari alam. Kebutuhan tersebut diperoleh dari atmosfer, tumbuhan dan hewan baik di darat maupun air, dan aneka kekayaan yang berada di bawah bumi. Kebutuhan jiwa rohani manusia juga disediakan oleh alam melalui panorama keunikan dan keindahannya seperti pantai, danau, pegunungan dan hutan dengan aneka hayatinya baik flora maupun fauna.

Sementara alam hanya mempunyai kebergantungan yang sedikit sekali dari kita manusia. Misalnya karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan manusia saat bernapas pada siang hari dapat dimanfaatkan oleh tumbuhan untuk proses fotosintesis. Sedangkan sisa ekskresi serta jazad manusia dapat dimanfaatkan oleh tumbuhan sebagai sumber hara dan hewan sebagai sumber makanan. Sehingga wajar juga jika dikatakan bahwa hubungan manusia dengan alam saling ketergantungan dan menguntungkan (simbiosa mutualisme).

Eksploitasi Alam dan Masalah Lingkungan

Sejalan dengan perkembangan peradaban dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai konsekuensi adanya akal budi manusia, alam dieksploitasi (dan dieksplorasi) secara besar-besaran dan terus-menerus dengan tujuan bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup saja tapi juga untuk mewujudkan keinginan duniawi yang sudah mengarah kepada prestise dan hedonisme.

Misalnya, pada jaman purba sampai awal jaman perunggu dan besi, manusia membabat dan membakar hutan untuk membuka ladang atau kebun, dengan tujuan hanya untuk dapat bertahan hidup memenuhi kebutuhan makanan. Setelah jaman itu sampai sekarang, seiring dengan kemajuan teknologi, manusia membalak/merambah/membakar hutan dengan tujuan untuk memperdagangkan hasil-hasilnya, membuka perkebunan-perkebunan dan membangun industri-industri pertambangan. Eksploitasi yang dilakukan ini  untuk memenuhi kepentingan duniawi, baik atas nama negara dan perusahaan swasta maupun perorangan dan kelompok.

Eksploitasi terhadap hutan tersebut, akibat tidak beretika, menimbulkan masalah lingkungan global. Pasokan oksigen ke atmosfer yang berkurang menyebabkan naiknya panas bumi dan polusi udara. Hewan-hewan liar endemik dan dilindungi musnah atau hilang karena melakukan transmigrasi untuk mencari habitat yang baru.

Dampak dari masalah lingkungan akibat perusakan terhadap hutan, sebagai salah satu sumber daya kekayaan alam, telah menimbulkan bencana yang sangat merugikan dan membawa penderitaan bagi kehidupan manusia sendiri. Seperti banjir, tanah longsor, kekeringan dan krisis air, hama dan penyakit, iklim yang tidak menentu dan ekstrim, angin puting beliung, sebagaimana sering terjadi dan dialami oleh masyarakat dunia selama ini, tidak terkecuali Indonesia.

Belum lagi mengungkap resiko dampak bencana dari masalah lingkungan yang lebih dahsyat yang membawa kerugian bagi manusia, seperti polusi air dan udara akibat limbah industri dan pertambangan, limbah pariwisata dan limbah rumah sakit,  pembuangan sampah B3/radioaktif dari negara maju, pembuangan sampah tanpa pemisahan/pengolahan, karbon monooksida dari asap daerah perkotaan, kesuburan lahan pertanian yang makin menurun akibat penggunaan pestisida dosis tinggi, serta  penghancuran biota laut seperti terumbu karang akibat bom ikan.

Etika Lingkungan Hidup

Menyadari sungguh-sungguh bahwa kehidupan manusia sangat bergantung pada alam dan kerusakan alam akan menyebabkan bencana kerugian dan penderitaan bagi kehidupan manusia sendiri, maka diperlukan suatu "Etika Lingkungan Hidup", sebagai suatu kampanye moral global yang bertujuan mengajak dan menggerakkan masyarakat atau umat manusia di seluruh dunia untuk melestarikan keberlangsungan alam, sebagai lingkungan hidupnya.

Artinya, dalam mengelola alam harus mempertimbangkan dengan arif keberlangsungan alam,  supaya kondisi kualitas dan kuantitasnya tetap dipertahankan atau diperbaiki/dipulihkan kembali. Ini sangat penting karena alam semesta ini akan terus berlangsung dan kehidupan manusia selamanya akan bergantung dari lingkungan hidupnya.

Oleh karena itu, sangat diharapkanmasyarakat dunia, termasuk Indonesia dan juga daerah-daerah, baik sebagai institusi penyelenggara negara dan perusahaan swasta,  lembaga-lembaga keagamaan, ormas-ormas, NGO/Pers, perguruan tinggi / sekolah, kelompok dan keluarga, untuk melakukan gerakan-gerakan nyata "peduli lingkungan hidup" yang dapat menggugah kesadaran masyarakat umum dalam rangka menjaga, melindungi, merawat dan melestarikan alam. Misalnya, meluangkan waktu mengunjungi pantai, kawasan taman nasional, sungai, mata air, danau, dan gunung.

Di samping itu, bisa juga menggerakkan masyarakat untuk kerja bakti atau gotong-royong yang selama ini sudah melemah, untuk melakukan penghijauan di lokasi kawasan hutan lindung yang sudah gundul, daerah aliran sungai yang tererosi, daerah pantai yang mengalami abrasi, dan sumber mata air. Jangan lupa juga membersihkan sampah-sampah di daerah lokasi taman kota dan selokan-selokan pembuangan air, yang sangat bermanfaat baik untuk kepentingan keindahan dan menghindari banjir lokal saat terjadi hujan.***

Oleh Rofinus D Kaleka

(Pemerhati sosial politik, tinggal di Pulau Sumba tanpa wa,

Kabupaten Sumba Barat Daya, NTT)

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2