Choirul Huda
Choirul Huda wiraswasta

Penulis di Kompasiana (Kompasianer) yang hobi reportase untuk menulis catatan harian, musik, olahraga, fiksi, dan sebagainya. @roelly87 (www.roelly87.com)

Selanjutnya

Tutup

Otomotif

Sisi Lain Toyota (TMMIN): Tidak Hanya Memproduksi Mobil

11 Juni 2015   09:29 Diperbarui: 17 Juni 2015   06:07 694 2 3

 

 

MENDENGAR kata Toyota, ingatan kita pasti selalu tertuju pada satu hal. Yaitu kendaraan roda empat atau lebih, alias mobil. Ya, bisa dikatakan bahwa Toyota merupakan penguasa mobil di jalan raya. Baik di Indonesia hingga dunia. Bahkan, bagi sebagian besar masyarakat di negeri ini, Toyota kerap menjadi "merek generik" untuk mobil.

Wajar saja mengingat Toyota sudah berada di Indonesia lebih dari 40 tahun. Tepatnya sejak 12 April 1971 dengan nama Toyota-Astra Motor (TAM). Bahkan, salah satu produksi terlaris dari perusahaan asal Jepang ini justru dibuat di Indonesia. Adalah Toyota Kijang yang menjadi salah satu kendaraan legendaris berjulukan "mobil sejuta umat" yang merupakan buah tangan dari pabrik di Karawang.

Namun, Toyota bukan hanya sekadar produsen mobil saja. Banyak aspek lainnya yang membuat mereka menjadi salah satu perusahaan terbesar di dunia. Salah satunya faktor kedekatan dan keterikatan dengan karyawan. Bagi saya, aspek ini sangat menarik karena menjadi bukti korelasi antara perusahaan dan para pekerja dapat terjalin saling menguntungkan. Jadi, tidak ada kesan bahwa karyawan hanya sebatas pekerja saja. Melainkan, Toyota memberi apresiasi kepada para pekerjanya melalui beragam fasilitas yang ada.

Fakta itu bisa terlihat nyata setelah saya yang termasuk dalam rombongan 20 Kompasianer mengikuti Kompasiana Visit ke PT. Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) di pabrik Sunter 1. Ternyata, nyaris lebih dari seperempat abad terlahir ke dunia, saya baru tahu bahwa Toyota di Indonesia itu ada dua. Pertama, TAM yang merupakan distributor sejak empat dekade tidak lalu. Kedua, TMMIN selaku manufaktur dan eksportir kendaraan utuh, mesin, serta berbagai komponen lainnya.

Dalam kunjungan yang berlangsung secara seharian, Rabu (10/6) itu, saya mendapat banyak pengetahuan berharga. Hanya, untuk postingan ini, saya tidak akan mengulas dari segi otomotifnya. Melainkan, dari aspek humanisnya. Yaitu, bagaimana TMMIN begitu menghargai karyawannya. Dalam pabrik 1 yang terletak di Jalan Laksamana Yos Sudarso, Sunter II, Jakarta Utara itu, terlihat betul komitmen TMMIN terhadap karyawannya.

*       *      *

Dari hal yang terkecil saja yang mungkin bagi sebagian orang dianggap remeh seperti toilet. TMMIN mengupayakan agar toilet yang digunakan karwayan di setiap sudut pabrik tetap bersih. Bahkan, kalau boleh saya jujur, kloset dan westafel-nya seperti membuat pengunjung bukan berada di pabrik, melainkan hotel berbintang. Ini merupakan fakta dan bukan sekadar pujian dari saya pribadi. Lantaran saya merasakan betul bagaimana TMMIN mengupayakan agar karyawannya nyaman dalam bekerja. Salah satunya dengan memberi fasilitas yang memadai.

Itu baru toilet. Belum lagi Masjid yang mampu menampung -menurut perkiraan saya- lebih dari seratus orang. Bahkan, pabrik yang selesai direnovasi pada 17 Desember 2012 ini memiliki fasilitas olahraga yang superlengkap! Mulai dari lapangan futsal dengan rumput standar internasional, lapangan bulu tangkis, hingga meja biliar! Terus terang saja, seumur-umur berkunjung ke pabrik, baru kali ini melihat beragam sarana olahraga yang megah tersebut.

Oh ya, dalam kunjungan tersebut, sejatinya kami tidak boleh memotret di ruangan pabrik yang sudah menjadi ketentuan standar TMMIN. Meski begitu, sebagai Kompasianer, saya termasuk menganut paham "no pict = hoax" yang berarti saya harus kritis untuk membuktikan apa yang saya tulis memang berdasarkan pengalaman pribadi dan bukan "apa kata orang". Gunanya, agar artikel saya lebih bernyawa saat dibaca khalayak ramai. Terlebih, dalam kesempatan itu meski saya hadir sebagai Kompasianer -blogger yang menulis di Kompasiana-, namun naluri jurnalistik saya tetap bekerja.

Dengan alasan itu, maka saya pun mencuri-curi kesempatan untuk mengabadikan beberapa gambar. Seperti saat kami makan, tempat merokok, gedung olahraga, hingga di dalam pabriknya! Untuk yang terakhir, tentu saya tidak ingin melanggar peraturan. Ya, biar bagaimanapun, peraturan adalah peraturan yang harus dihormati. Khususnya saya sebagai tamu.

Karena itu, saya tidak memotret suasana saat karyawan sedang bekerja. Melainkan cukup mengabadikan gambar yang tidak ada hubungannya dengan proses produksi. Itu pun dengan meminta izin terlebih dulu kepada beberapa petinggi TMMIN yang mendampingi kami para Kompasianer. Seperti, memotret keberadaan lemari khusus snack yang membuat saya tersenyum dan juga plang berwarna hijau dengan tulisan "Dari Pikiran Yang Baik Menghasilkan Produk Yang Baik".

Alasan saya mengabadikan dua gambar tersebut tidak hanya sekadar unik saja, tapi juga memberi inspirasi. Misalnya, lemari khusus snack yang menurut dua karyawan yang saya tanya (catatan: mereka setuju dan tidak merasa terganggu). Mereka mengatakan bahwa lemari itu tersebar di setiap ruangan pabrik. "Ya, kalo ini buat ngemil mas agar kita ga ngantuk dan tetap fokus. Lagian, ada waktunya juga seperti (pukul) 09.30 dan 14.30," kata salah satu karyawan yang ditimpali rekannya dengan nada guyon, "Maklum mas, bagi kita sebagai karyawan waktu segitu kan jam rawan ."

Pernyataan bernada jujur dan apa adanya itu membuktikan bahwa Toyota, khususnya TMMIN tidak sekadar memproduksi mobil saja. Melainkan, mereka berupaya untuk memanjakan karyawannya agar nyaman dalam bekerja. Sebab, dengan demikian, karyawan akan lebih fokus dan merasa dihargai. Ujung-ujungnya bisa terlihat dengan produk TMMIN mampu diekspor hingga ke-72 negara! Sebuah korelasi antara kerja keras dan kerja cerdas seperti yang tertera dalam kalimat "Dari Pikiran Yang Baik Menghasilkan Produk Yang Baik".*

*       *      *

*       *      *

*       *      *

*       *      *

*       *      *

*       *      *

*       *      *

*       *      *

*       *      *

*       *      *

 

 

Keterangan: Seluruh foto merupakan koleksi pribadi dan sudah meminta izin terlebih dulu untuk memotretnya

*       *      *

- Cikini, 11 Juni 2015