Choirul Huda
Choirul Huda wiraswasta

Penulis di Kompasiana (Kompasianer) yang hobi reportase untuk menulis catatan harian, musik, olahraga, fiksi, dan sebagainya. @roelly87 (www.roelly87.com)

Selanjutnya

Tutup

Olahraga Pilihan

Dari All England 2017 hingga Asian Games 2018

12 Januari 2018   22:11 Diperbarui: 13 Januari 2018   15:04 867 0 0
Dari All England 2017 hingga Asian Games 2018
Presiden Joko Widodo bersiap melakukan panahan sebagai simbolis count down Asian Games 2018

SEBAGAI blogger, bagi saya setiap artikel yang saya tulis merupakan yang terbaik. Apa pun itu temanya atau genre seperti reportase, opini, atau fiksi. Sebab, saya selalu menuliskannya dengan totalitas. Dalam arti, saya berusaha untuk menuangkan segenap ide, pikiran, hati, hingga tenaga demi satu artikel tersebut.

Hingga kini, fiksi merupakan yang paling sulit karena butuh berhari-hari hanya untuk membuat satu artikel. Sementara, opini memakan 1-2 hari karena harus riset dan sebagainya. Paling gampang sejauh ini reportase. Itu karena saya biasa membuat artikel sepanjang 500-1.500 kata tidak lebih dari satu jam. Paling, yang makan waktu lama ketika memilih foto yang tepat. Sebab, saya biasanya memuat lebih dari 10 foto dalam satu artikel.

Kebetulan, setiap hari saya memang bergelut dengan reportase. Pun dengan di blog baik di blog pribadi yang beralamat pada www.roelly87.com atau www.kompasiana.com/roelly87. Sejak 2009 hingga pergantian tahun, saya hitung lebih dari 1.250-an artikel. Mayoritas didominasi reportase yang mencapai 75 persen, diikuti opini (20%), dan fiksi (5%). Termasuk, di Kompasiana berdasarkan data terkini yang ada di halaman profil saya, terdapat 673 artikel.

Sembilan di antaranya pada tahun lalu (6 reportase, 2 opini, dan 1 fiksi). Sepanjang 2017, artikel yang saya buat di Kompasiana terbagi dalam 5 kategori. Olahraga dan gaya hidup sama-sama 3 artikel diikuti masing-masing 1 untuk bola, hiburan, dan cerpen.

Itu mengapa, saya tertarik untuk mengikuti event yang diselenggarakan Kompasiana terkait kurasi artikel sepanjang 2017. Kebetulan, sebelumnya saya sudah beberapa kali membuat kurasi atau tepatnya kompilasi artikel sendiri maupun rekan Kompasianer pada awal-awal bergabung di Kompasiana (2011-2013).

Nah, untuk 2017 ini, saya menekankan pada sektor olahraga. Yaitu, tiga artikel ditambah dua postingan yang berkaitan dari rekan Kompasianer, Yos Mhardikai. Kebetulan, saya tidak asing dengan pemilik akun www.kompasiana.com/cermin ini. 

Sebab, sudah mengenalnya sejak 2011 silam. Kami pun sering liputan atau mengikuti kopi darat (kopdar). Yang istimewanya lagi, kami sama-sama menggemari olahraga, khususnya bulutangkis. Itu bisa terlihat dari banyaknya artikel terkait tepok bulu yang ditulis Yos.

Menghitung Peluang Calon Juara All England 2017

Yos menuliskan prediksi turnamen pembuka seri BWF Super Series tahun lalu itu dengan apik. Terutama, pada sektor ganda putra yang berhasil dimenangkan wakil Indonesia. Itu berkat Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon yang menumbangkan andalan Cina, Li Junhui/Liu Yuchen 21-19, 21-14. 

Kesuksesan di turnamen yang berlangsung pada 7-12 Maret 2017 itu jadi pembuka bagi Kevin/Marcus. Pasalnya, setelah itu, pasangan yang dijuluki Minions ini berhasil merebut enam gelar lagi pada seri Super Series. Termasuk, pada BWF Super Series Finals di Dubai (17/12), dengan menumbangkan Liu Cheng/Zhang Nan 21-16, 21-15.

Sambutan Meriah untuk Juara All England 2017, Terima Kasih Kevin/Marcus!

"Meski hanya satu gelar yang kita raih, namun tradisi ini senantiasa kita pertahankan. Terima kasih, Kevin dan Marcus atas prestasi dalam super series ini. Kalian pahlawan yang keren dan luar biasa," ujar Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi pada 14 Maret lalu. Tepatnya, saat penyambutan Kevin/Marcus di Bandara Soekarno-Hatta usai menjuarai All England 2017.

Ya, Indonesia sukses menyabet satu gelar di turnamen pembuka seri Super Series 2017 tersebut. Kevin/Marcus dengan gagah menyabet trofi yang tahun sebelumnya dimenangkan wakil ganda campuran, Praveen Jordan/Debby Susanto. Sekaligus, melanjutkan tradisi kesuksesan Indonesia di turnamen tertua tersebut dalam enam tahun terakhir minus 2015.

"Capek sih. Tapi kami puas bisa juara," kata Marcus dengan wajah semringah saat ditemui di Terminal 2D Bandara Soekarno Hatta. Maklum, mereka baru saja menempuh perjalanan panjang dari Birmingham, Inggris, sehari sebelumnya.

"Bagi kami, pencapaian ini (juara All England 2017) bukan sebagai puncak prestasi. Banyak yang ingin kami gapai ke depannya. Terima kasih untuk segenap rakyat Indonesia yang telah memberi dukungan," Kevin, berharap yang terbukti jadi kenyataan.

Gelar Juara Kedua India Open Buat Marcus/Kevin

Hanya dua pekan usai mereguk kesuksesan di All England, Kevin/Marcus kembali menorehkan sejarah. Kali ini di India Open dengan menjadi yang terbaik sekaligus gelar beruntun pada 2017. 

Yang menarik, tercipta All-Indonesian Final pada laga pamungkas di Siri Fort Indoor Stadium, New Delhi, 2 April 2017. Tepatnya, setelah Kevin/Marcus mengalahkan rekannya di pelatnas Cipayung,  Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi 21-11, 21-15. Dominasi Kevin/Marcus digambarkan Yos dengan memesona pada artikelnya.

Kevin/Marcus tampil trengginas, hanya membutuhkan waktu 30 menit untuk menaklukkan Angga/Ricky. Pada awal gim pertama, sempat terjadi pertarungan ketat, kedua pasangan silih berganti membuat angka hingga kedudukan sama kuat 5-5. Setelahnya Kevin/Marcus mampu mengendalikan permainan dan terus unggul skor hingga akhirnya memenangkan gim pertama 21-11.

Kompleks GBK Bersolek Sambut Asian Games 2018

Kompleks Gelora Bung Karno (GBK) bersolek menjelang Asian Games 2018. Sejak 2016, kawasan olahraga terbesar di Tanah Air itu memang sudah dirombak besar-besaran. Panitia Nasional Penyelenggara Asian Games XVIII/2018 (INASGOC) bersama berbagai kementerian terkait bekerja keras dan cerdas untuk menyulap kompleks GBK.

Terbukti, 17 bulan jelang pesta olahraga antarnegara Asia tersebut, tepatnya pada 4 Maret 2017, renovasi sudah mencapai 70 persen. Kebetulan, saya turut menghadiri peninjauan yang dilakukan delegasi Olympic Council of Asia (OCA)/ Dewan Olimpiade Asia, South East Asian Games Organizing Committee (INASOC), INASGOC, dan pemangku kepentingan lainnya.

Saya dan segenap media turut mengecek langsung prosesnya di Kompleks GBK. Kebetulan, saat itu kompleks olahraga yang dibangun sejak 1960 itu sudah hampir menyelesaikan berbagai renovasi. Ada empat lokasi yang kami tinjau progresnya, yaitu Stadion Utama GBK, Istana Olahraga (Istora), Stadion Tenis (Indoor dan Outdoor), dan Stadion Kolam Renang.

Meriahnya Count Down Asian Games 2018 di Monas

Pemerintah Indonesia bersama INASGOC melakukan hitung mundur tepat setahun menuju Asian Games 2018. Prosesi countdown tersebut berlangsung di Monumen Nasional, Jakarta Pusat, pada 18 Agustus lalu. 

Ya, Asian Games 2018 merupakan kali kedua bagi Indonesia sebagai tuan rumah setelah 1962 silam. Tak heran jika pemerintah berusaha untuk melakukan yang terbaik. Ada empat kesuksesan yang yang ditekankan Presiden Joko Widodo dalam sambutannya pada hitung mundur tersebut. Itu meliputi sukses prestasi, administrasi, penyelenggaraan, dan ekonomi.

Countdown Asian Games 2018 serentak dilaksanakan di dua kota yang jadi tuan rumah. Yaitu, Jakarta di Monas dengan atraksi 300 drone dan Palembang di Benteng Kuto Besak. Kesuksesan acara hitung mundur ini jadi motivasi pemerintah dan INASGOC terhadap pesta olahraga terbesar kedua di kolong langit setelah olimpiade ini.

"Ini jadi penanda waktu pelaksanaan semakin dekat. INASGOC menyambutnya dengan suka cita dan totalitas dari semua deputi dan departemen demi kelancaran saat Asian Games 2018," kata Ketua INASGOC Erick Thohir.

Yupz, sebagai bagian dari rakyat Indonesia, saya berharap Asian Games 2018 sukses. Tidak hanya sebagai tuan rumah saja, melainkan juga prestasi untuk menembus 10 besar!***