Mohon tunggu...
Choirul Huda
Choirul Huda Mohon Tunggu...

Penulis di Kompasiana (Kompasianer) yang hobi reportase untuk menulis catatan harian, musik, olahraga, fiksi, dan sebagainya. @roelly87 (www.roelly87.com)

Selanjutnya

Tutup

Hiburan

Lima Lagu Legendaris Iwan Fals

4 Desember 2012   21:49 Diperbarui: 24 Juni 2015   20:11 0 21 0 Mohon Tunggu...

Beberapa bulan belakangan , isu publik figur yang terjun ke ranah politik semakin menyeruak hingga menjadi santapan hangat di berbagai media televisi, cetak danonline. Dari mulai sosok musisi legendaris yang ingin menjadi calon Presiden, hingga artis senior yang dipasangkan sebagai calon Wakil Gubernur. Di tengah hingar bingar publik figur yang berpacu ingin meraih jabatan tertentu, saya jadi teringat dengan sosok legendaris yang sudah berkarya sejak dekade 1970-an, Iwan Fals. Ya, pria kelahiran 3 September 1961 ini seakan tidak terpengaruh untuk terjun ke dunia politik, meski beberapa musisi seangkatannya banyak yang sudah menjadi elit beberapa partai politik. Mungkin karena sering mendapat tekanan saat manggung di era 1980-an hingga awal 1990-an, membuat penyanyi kharismatik ini mempunyai stigma negatif dengan yang namanya politik. Padahal, saat pemilu 2004 lalu, konon ada beberapa calon Presiden yang pernah menawarinya untuk duduk sebagai Menteri. Namun, “godaan” itu, tohtetap membuatnya bergeming. Hingga kini, musisi bernama asli Virgiawan Listanto tersebut, tetap asyik dengan dunianya sebagai seniman di bidang musik. Sebagai salah satu penggemarnya, saya pernah memimpikan Iwan Fals untuk menjadi Presiden yang diusung rakyat secara independen. Kendati hal itu hampir mustahil, karena hingga kini belum adanya undang-undang untuk calon Presiden dari perorangan -berbeda dengan calon Gubernur- membuat impian saya tinggal menjadi impian belaka. Sebab, saya yakin pelantun hit Bongkar danBento ini sangat cocok bila suatu hari menjabat sebagai seorang pemimpin. Pasalnya, meski belum ada satupun partai yang mengusungnya, namun pria yang pernah dijadikan cover majalah bergengsi, Time Asia, merupakan musisi dengan penggemar terbanyak di Indonesia. Tidak kurang dari puluhan juta Oi (Orang Indonesia)-julukan untuk penggemarnya- yang tentu akan mendukungnya untuk menduduki kursi nomor satu di Indonesia. Apalagi, jika menilik lagu-lagu yang dinyanyikan beliau, sangat cocok diterapkan dalam pemerintahan…

*      *      *

1. Surat Buat Wakil Rakyat Di kantong safarimu kami titipkan Masa depan kami dan negeri ini Dari Sabang Sampai Merauke Saudara dipilih bukan dilotere Meski kami tak kenal siapa saudara Kami tak sudi memilih para juara Juara diam, juara he’eh, juara ha ha ha… Bagi rakyat Indonesia, hampir seluruhnya mengenal lirik dari album berjudul Wakil Rakyat ini. Lagu yang dirilis tahun 1987 itu, menjadi salah satu “Tembang Wajib” yang dibawakan Iwan Fals di setiap konsernya. Sebenarnya, lagu ini sangat sederhana dibanding beberapa lagu lainnya di album yang meledak jelang pemilu ke-4 di masa orde baru. Namun, dibalik kesederhanaan lagu ini, terdapat lirik yang sangat dalam, bahkan sangat menyayat bagi yang mendengarnya. Terutama di bait terakhir yang mencerminkan bobroknya wakil rakyat kita yang tidak berubah sejak 25 tahun lalu hingga kini…. Untukmu yang duduk sambil diskusi Untukmu yang biasa bersafari Di sana Di gedung DPR Di hati dan lidahmu kami berharap Suara kami tolong dengar lalu sampaikan Jangan ragu jangan takut karang menghadang Bicaralah yang lantang jangan hanya diam Wakil rakyat seharusnya merakyat Jangan tidur waktu sidang soal rakyat Wakil rakyat bukan paduan suara Hanya tahu nyanyian lagu setuju…

*      *      *

2. Tikus-tikus Kantor Kucing-kucing yang kerjanya molor Tak ingat tikus kantor datang menteror Cerdik licik tikus bertingkah tengik Mungkin karena sang kucing pura-pura mendelik Lagu satire yang terdapat dalam album Ethiopia ini, sangat pas menggambarkan buruknya kinerja birokrasi dalam negeri kita. Mereka yang pintar dalam pemerintahan hanya “bisa bekerja” saat didatangi atasannya. Beruntung, di DKI Jakarta, kebobrokan itu sudah mulai menghilang seiring usaha dan kerja keras dari Gubernur Joko Widodo dan Wakil Gubernur Basuki Tjahya. Hanya, usaha duet berinisial JB ini, hanya terbatas dalam lingkup Jakarta, alias belum menyeluruh ke nusantara. Untuk itu, saya dan jutaan rakyat Indonesia lainnya tentu berharap pada 2014 mendatang, ada sosok “teladan” yang bisa membenahi birokrat-birokrat yang sering korupsi di negeri ini seperti yang dituangkan dalam lirik tahun 1986 tersebut.

*      *      *

3. Serdadu Serdadu baktimu kami tunggu Tolong kantongi tampang serammu Serdadu rabalah dada kami Gunakan hati jangan pakai belati Serdadu jangan mau disuap Tanah ini jelas meratap Serdadu jangan lemah syahwat Ibu pertiwi tak sudi melihat Gonjang-ganjing antara aparat Kepolisian dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), kini kembali menghangat setelah era cicak vs Buaya, 2009 silam. Entah siapa yang salah dan benar, kemungkinan keduanya benar meski egonya sama-sama tinggi, membuat rakyat sudah jenuh. Dalam lagu Serdadu yang dimuat di album Sugali, menggambarkan betapa saat itu jutaan rakyat Indonesia sangat berharap peran aparat berwenang mampu mengayomi dan melindungi rakyatnya. Hanya, impian tinggal impian, karena sejak lagu itu keluar tahun 1984 hingga kini, elite penjaga ketertiban masyarakat justru saling bertikai. Umpan bergizi, titah bapak menteri Apakah sudah terbukti Bila saja masih ada buruknya kabar burung Tentang jatah prajurit yang dikentit Lantang suaramu otot kawat tulang besi Susu, telur, kacang ijo, extra gizi Runtuh dan tegaknya keadilan negeri ini Serdadu harus tahun pasti

*      *      *

4. 1910 Belum usai peluit belum habis putaran roda Aku dengar jerit dari Bintaro Satu lagi catatan sejarah Air mata Sembilan belas Oktober Tanah Jakarta berwarna merah Meninggalkan tanya yang tak terjawab Bangkai kereta lemparkan amarah Tahun 2012 ini, rakyat Indonesia kembali dihantui tragedi kecelakaan yang merenggut banyak korban jiwa. Mulai dari pesawat Sukhoi, tabrakan kereta, kapal tenggelam, hingga bus dan angkutan darat lainnya. Ironisnya, beberapa kecelakaan tersebut tidak menyentuh sama sekali dari pihak yang bersangkutan. Seolah, setelah memberi bantuan dan asuransi, masalah menjadi selesai. Keniscayaan ini persis seperti yang disuarakan Iwan Fals di album 1910,  usai terjadi tabrakan kereta di Bintaro, Jakarta Selatan, pada 19 Oktober 1987. Tragedi yang merenggut ratusan jiwa itu, menjadi salah satu peristiwa memilukan bagi rakyat Indonesia. Namun, setelah 24 tahun berlalu, ironisnya ternyata masih banyak tragedi seperti itu yang terulang kembali. Berdarahkan tuan Yang duduk di belakang meja Atau cukup ucapkan bela sungkawa Aku bosan…

*      *      *

5. Gali Gongli Lelaki kecil usia belasan Rokok di tangan depan kedai tuak Di sela gurau tiga temannya Di atas koran asyik main domino Di lokalisasi pinggiran kota Yang nama dosa mungkin tak bicara Neraka poster indah kamar remang Engkau lahir lelaki kecil yang malang Masalah pelik menyangkut kenakalan anak dan remaja, telah disuarakan dengan lantang oleh Iwan Fals dalam lirik Gali Gongli. Lagu yang termuat di album Aku Sayang Kamu, menggambarkan betapa kerasnya kehidupan anak jalanan yang ironisnya harus menjadi tanggungan negara, berdasarkan UUD pasal 34. Hanya, undang-undang tinggalah semboyan belaka. Sebab, jangankan mengurus anak terlantar, bahkan mengurus diri sendiri saja elite pemerintahan masih sulit. Untuk itu, pada tahun 1986, Iwan Fals sudah menyentil pemerintah, betapa pentingnya untuk mengurusi anak dan remaja di jalanan, agar dididik sebagai generasi penerus yang sangat berguna. Gali gongli bocah karbitan Besar dari belaian ribuan bapak Gali gongli anak rembulan Hidup dari bibir yang iklankan tubuh mulus ibunya Lelaki kecil usia belasan Usai berjudi pagi habis subuh Kembali ia ditelan sepi Entah esok apalagi hari depan

*      *      *

Referensi lirik: koleksi pribadi dari majalah, booklet dan berbagai tabloid musik.

*      *      *

- Jakarta, 5 Desember 2012

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x