Mohon tunggu...
Choirul Huda
Choirul Huda Mohon Tunggu... Kompasianer sejak 2010

Penulis di Kompasiana (Kompasianer) yang hobi reportase untuk menulis catatan harian, musik, olahraga, fiksi, dan sebagainya. @roelly87 (www.roelly87.com)

Selanjutnya

Tutup

Catatan

Resensi Buku Pepih Nugraha: Citizen Journalism

12 November 2012   22:37 Diperbarui: 24 Juni 2015   21:32 1844 4 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Resensi Buku Pepih Nugraha: Citizen Journalism
1352748622437735306

[caption id="attachment_208980" align="aligncenter" width="369" caption="Sampul depan Citizen Journalism (dok. pribadi)"][/caption] "Apakah citizen journalism (jurnalisme warga) bermaksud menjadikan semua warga biasa (citizen) menjadi wartawan profesional sebagaimana wartawan yang bekerja di media-media massa arus utama?" - Halaman xi

*     *     *

Di Indonesia, istilah jurnalis warga atau pewarta warga, baru dikenal pada akhir tahun 2004. Adalah peristiwa Tsunami di Aceh pada 26 Desember 2004 yang menjadi latar belakang berkat laporan langsung seorang warga melalui rekaman handycam. Saat itu, hasil rekaman mengenai dahsyatnya tsunami ditayangkan secara berulang-ulang oleh beberapa stasiun televisi nasional. Beberapa tahun kemudian, istilah jurnalis warga bukan lagi sekadar laporan alternatif dari media mainstream. Melainkan menjadi tren, seiring munculnya beberapa situs atau blog keroyokan yang banyak menampung laporan, aspirasi, atau uneg-uneg warga itu sendiri. Hingga menjelang akhir 2012 ini, terdapat berbagai macam pemberitaan yang berasal dari warga biasa menjadi heboh dan menjadi perbincangan di kalangan masyarakat, bahkan sampai ditayangkan di televisi. Beberapa diantaranya, pemberitaan negatif mie instan di Hong Kong, email palsu anggota DPR di Australia, serta fenomena mengenai gaya bicara "sesuatu" dari seorang artis perempuan, Syahrini. Dalam buku Citizen Journalism: Pandangan Pemahaman, dan Pengalaman, yang ditulis oleh Pepih Nugraha, terdapat beberapa pengertian mengenai istilah tersebut. Wartawan Kompas sekaligus pendiri Kompasiana itu, sedikitnya memaparkan berbagai macam persoalan tentang jurnalis warga berdasarkan pengalamannya di media sosial sejak tahun 2005. Sosok yang sering menulis cerpen di majalah remaja Hai dan majalah anak, Bobo, juga menerangkan betapa pentingnya untuk memahami tata cara penulisan bagi seorang warga sebelum langsung melaporkannya melalui tulisan di blog pribadi atau blog keroyokan. Terutama menyangkut rumus baku, 5W+1H, yang tentunya menjadi salah satu bagian terpenting dari rangkaian tulisan itu sendiri.

*     *     *

Pria yang biasa dipanggil Kang Pepih itu, secara mendalam menekankan betapa keharusannya setiap warga untuk menempatkan rumus 5W+1H dalam suatu tulisan. Meski bagi seorang pewarta warga atau kalangan blogger, terkadang penempatan rumus tersebut dianggap sepele, dengan meletakkannya secara bebas atau bahkan tidak sama sekali. Namun, justru itu menjadi bagian penting, agar pembaca yang awam dapat dengan mudah memahaminya. Seperti terdapat pada halaman 96 dari buku ini: "Menjadi seorang pewarta warga di tempat kejadian peristiwa, Anda tetaplah warga biasa yang tidak berpretensi menjadi jurnalis profesional, bukan? Namun, Anda tidak lepas dari unsur-unsur '5W 1 H' (who, what, where, when, why, who)." Sebagai contoh, Kang Pepih memberikan gambaran mengenai rumus tersebut serta uraiannya. "Pembunuhan sadis terjadi di sebuah rumah di Kompleks Satria Jingga, Bogor, Rabu (18/7/2012). Seorang ayah dan anaknya tewas di dalam kamar mandi dengan luka sayat di bagian leher. Menurut polisi, dua korban tewas itu adalah Jordan Raturomon (50) dan anaknya Edward (22). "Mereka berdua ditemukan tewas oleh anak bungsu korban, Kezia Raturomon," kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto. Dia menambahkan, polisi langsung melakukan penyelidikan untuk melacak si pembunduh serta motif pembunuhan itu." Dari kalimat dua paragraf tersebut, dapat diambil kesimpulan yang tentu mudah dicerna pembaca: - Who (siapa) = Jordan Raturomon dan Edward - What (apa) = Pembunuhan - When (kapan) = Bogor - Where (dimana) = Rabu, 28 Juli 2012 - Why (mengapa) = Motif pembunuhan masih diselidiki - How (bagaimana) = Tewas terletak di kamar mandi, luka sayat di leher

*     *     *

[caption id="attachment_208981" align="aligncenter" width="472" caption="Kang Pepih ketika menceritakan proses buku ini kepada Shulhan Rumaru dan Zulfikar Akbar"]

1352756898606622202
1352756898606622202
[/caption] Sekilas Penulis Di Kompasiana, nama Kang Pepih pasti sudah dikenal luas oleh Kompasianer -sebutan penulis di Kompasiana- sebagai pendiri sekaligus admin. Selain aktif menuliskan pandangannya serta beberapa cerpen, pria berusia 48 tahun itu juga dikenal sebagai sosok yang ramah. Namun, saya sendiri waktu pertama kali mengenalnya di acara peluncuran Kompas Tv, 9 September 2011, justru menganggap beliau sebagai sosok yang dingin. Hingga kesan "dingin" tersebut mulai mencair ketika ikut menghadiri Kompasiana Blogshop Jakarta, 29 Oktober 2011. Dalam acara yang turut menghadirkan admin Kompasiana, Iskandar Zulkarnaen dan penulis novel Negeri 5 Menara, Ahmad Fuadi, sebagai pembicara. Kang Pepih menerangkan beberapa tips untuk blogger dan penulis pemula agar mampu membuat tulisan berdasarkan rangkaian cerita utuh, mulai dari plot, karakter, serta alur cerita tersebut. Hal itu berlanjut hingga tepat satu bulan yang lalu (13/10), ketika saya bersama Kompasianer Zulfikar Akbar dan admin Shulhan Ramaru bertemu beliau di kawasan Palmerah, Jakarta Barat. Saat itu, Kang Pepih kembali menjelaskan betapa pentingnya bagi seorang penulis dan blogger, untuk menuangkan pandangan pribadinya atau opini di beberapa blog, termasuk Kompasiana, untuk lebih mengasah kemampuannya. Sosok yang gemar main catur itu juga menceritakan bagaimana proses buku "Citizen Journalism" ini yang telah dicanangkan sejak tahun 1994, sedang dalam tahap cetak. Akhirnya hampir satu bulan kemudian, saya bisa mendapatkan buku bersampul kuning ini setelah mendapat informasi dari Kompasianer Dearmarintan. Meski agak tipis untuk ukuran sebuah buku mengenai jurnalisme warga, namun apa yang disampaikannya sangat bermanfaat, terlebih dengan adanya pengantar dari CEO Kompas Gramedia, Agung Adiprasetyo. Dan, bagi saya pribadi, "buku kuning" ini menjadi referensi menulis, bersanding dengan buku sakti lainnya karya wartawan senior Kompas, Parakitri T. Simbolon.

*     *     *

Judul : Citizen Journalism: Pandangan, Pemahaman, dan Pengalaman Penulis : Pepih Nugraha Penerbit : Penerbit Buku Kompas Tahun Terbit : Oktober 2012 Jumlah Halaman : 192 Genre : Jurnalistik ISBN : 978-979-709-669-4

*     *     *

- Resensi Buku Kompasianer Lainnya

*     *     *

Jakarta, 13 November 2012

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x