Choirul Huda
Choirul Huda wiraswasta

Penulis di Kompasiana (Kompasianer) yang hobi reportase untuk menulis catatan harian, musik, olahraga, fiksi, dan sebagainya. @roelly87 (www.roelly87.com)

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup

Jose Mourinho, Dua Tahun di Kompasiana, dan Kawah Candradimuka...

10 Oktober 2012   21:30 Diperbarui: 29 September 2015   00:46 279 1 0
Jose Mourinho, Dua Tahun di Kompasiana, dan Kawah Candradimuka...
1349903439930781912

[caption id="attachment_203742" align="aligncenter" width="369" caption="Trofi Liga Champions, simbol keberhasilan Mourinho (Dok. pribadi)"][/caption] Pelatih Real Madrid, Jose Mourinho, dikenal sebagai sosok bertangan dingin. Pria berusia 49 tahun itu, adalah satu dari sedikit pelatih yang mampu membawa timnya juara di semua kompetisi. Tujuh gelar liga domestik dan dua trofi Liga Champions, berhasil digenggam pria asal Portugal tersebut. Mourinho sejajar dengan pelatih legendaris di Eropa. Diantara beberapa pelatih yang masih aktif, ia bersanding dengan Sir Alex Ferguson, Carlo Ancelotti, Otmar Hitzfeld, Vincente Del Bosque, serta sang rival di Spanyol, Pep Guardiola. Keenam orang itu, merupakan legenda hidup di kompetisi elit benua biru yang telah meraih dua trofi Liga Champions. Mereka, hanya kalah dari pelatih legendaris Liverpool, Bob Paisley yang telah meraih tiga gelar. "Si Kuping Lebar" -julukan trofi Liga Champions- berhasil diraihnya saat menangani Porto (2004) dan FC Internazionale (2010). Bersama Porto, ia juga meraih trofi Piala UEFA satu tahun sebelumnya (2003) dan dua kali juara liga Portugal (2003 & 2004). Pria yang kerap dipanggil Mou itu, juga dua kali meraih liga Inggris saat menukangi Chelsea (2005 & 2006). Bahkan, di klub asal kota London itu, namanya terpatri dalam sejarah klub, karena berhasil memuaskan dahaga gelar yang terakhir kali diraih tahun 1955. Di Chelsea inilah, Mou menyebut dirinya sebagai "The Special One". Usai berkelana di Portugal dan Inggris, Mou hijrah ke Italia. Di negara yang pernah menjadi kiblat sepak bola di dekade 1990-an itu, Mou kembali membuktikan kehebatannya. Dua scudetto berhasil diraihnya dalam dua musim beruntun pada 2009 dan 2010. Bahkan, ia mengukir prestasi tersendiri saat meraih treble winners dengan menjuarai liga domestik (Seri A), Piala Italia, dan Liga Champions tahun 2010. Torehan itu, membuat Mou menyamai jejak Guardiola (Barcelona 2009) dan Ferguson (Manchester United 1999). Merasa sudah sampai puncaknya saat menukangi Inter, Mou memutuskan pindah ke Spanyol untuk menerima tantangan klub terbaik di dunia, Real Madrid pada 2010. Di klub berjuluk "Los Blancos" itu, Mou membuktikan kapasitasnya dengan meraih gelar La Liga musim lalu. Sebelumnya, di tahun 2011, Mou turut mematahkan kutukan Madrid yang tidak pernah juara Piala Spanyol, sejak 18 tahun silam. Apalagi, kedatangan Mou langsung memupus kedigdayaan Barcelona, hingga Guardiola memutuskan pensiun akibat kalah dalam drama "El Clasico" di bulan April 2012.

*      *      *

Ada korelasi menarik dari raihan prestasi Mou selama melatih empat klub besar di negaranya masing-masing. Ya, Mou tampak superior jika menjalani tahun keduanya menukangi klub tersebut. Saat pertama kali datang ke sebuah klub, prestasi Mou cenderung biasa saja dan tidak terlalu disorot. Namun, ketika memasuki tahun keduanya, maka pria kelahiran Setubal, Portugal itu, bergelimang gelar juara. Hal itu telah dibuktikan dalam empat klub berbeda. Di tahun pertama bersama Porto, Mou hanya mendapatkan juara liga Portugal dan Piala UEFA. Namun di tahun kedua, ia meraih trofi Liga Champions plus liga Portugal. Hal sedikit berbeda terjadi pada Chelsea, Mou menjalani tahun pertama dan kedua dengan gelar yang sama: Liga Inggris. Namun, ketika bersama Inter, Mou melakukan torehan gila-gilaan. Jika di tahun pertama Seri A 2008/09, Mou hanya meraih scudetto. Di tahun keduanya, Mou meraih tripletta major, atau tiga juara berskala mayor, seperti scudetto Seri A 2009/10, Piala Italia, dan Liga Champions 2009/10! Sama halnya dengan di Madrid. Tahun pertama dilalui Mou dengan "hanya" meraih Piala Spanyol 2011. Tapi, di tahun kedua, ia merebut gelar La Liga dengan perbedaan delapan poin dari juara bertahan Barcelona. Pria yang sempat menjadi penerjemah Sir Bobby Robson saat menukangi Barcelona di dekade 1990-an itu, berhasil memutus hagemoni Barcelona yang sebelumnya juara La Liga tiga tahun beruntun (2008-2011). Tak heran, banyak yang mengatakan bahwa pria yang pernah  ke Indonesia pada 13 Juni 2012, bukan tipe pelatih pragmatis, yang mementingkan hasil. Melainkan, Mou teramat mengagulkan sebuah sistem yang bernama proses. Dimana, ia selalu bangkit dari keterpurukan di tahun pertamanya, untuk membawa klubnya berjaya di tahun kedua. Selain itu, Mou selalu menekankan kepada setiap klub yang dilatih agar konsisten dalam permainan di lapangan. Adagium lawas bangsa Eropa, bahwa "menjadi juara itu sulit, namun lebih sulit lagi mempertahankannya" selalu diterapkan pada Porto, Chelsea, Inter dan Madrid. Kendati tidak selalu berhasil, namun setidaknya Mou telah menanamkan tekad pantang menyerah pada pemain yang dilatihnya. [caption id="attachment_203743" align="aligncenter" width="491" caption="Salah satu properti Mourinho saat melatih Inter (Dok. Pribadi)"]

1349903540946248513
1349903540946248513
[/caption]

*      *      *

Dalam media sosial, tepatnya blog keroyokan seperti Kompasiana, salah satu faktor untuk bisa bertahan atau tetap eksis adalah konsistensi. Tidak mudah untuk terus menulis, menulis, dan menulis dalam setiap ada kesempatan. Terkadang, adakalanya rasa  jenuh, bosan, malas, dan sebagainya yang menghantui semangat untuk enggan berkecimpung di salah satu wadah jurnalis warga terbesar di Indonesia. Namun, tanpa disadari hal itu bisa lenyap jika rasa ingin tahu dan ingin belajar dari ratusan tulisan yang berseliweran di Kompasiana ini. Sebab, tidak terasa dua tahun sudah saya -sebagai Kompasianer- menuliskan 417 postingan. Jika dirata-rata, satu bulan saya bisa menulis 17 postingan, dan per minggunya sekitar 4 postingan, baik yang remeh temeh, serius, maupun tulisan alakadarnya. Tentu, rentang waktu dua tahun itu tidak sedikit. Sejak 11 Oktober 2010, saat pertama kali menyasar akibat salah klik di situs Kompas.com, seolah Kompasiana merupakan candu istimewa. Meski tidak setiap hari melongok ke media yang identik dengan semangat berbagi dan saling terhubung ini, tapi ada "sesuatu" yang kurang, bila dalam kurun waktu tertentu tidak login atau sedikitnya melihat beranda situs ini. Ya, bagi saya sendiri, Kompasiana ibarat kawah candradimuka. Di sinilah awalnya mengenal dunia blog. Dari sini, saya pertama kali belajar "bagaimana cara menulis yang benar". Disinilah bermula saya bisa mengerti tentang tulisan 5W+1H. Di sisi lain, sejak mengenal Kompasiana, semakin bertambah kawan yang berasal dari dunia maya hingga ke dunia nyata. Dari sinilah saya bisa merasakan beratnya menjadi sosok tukang tambal ban, letihnya menjadi seorang pedagang asongan keliling, gelisahnya sosok pencipta Unyil yang terkena masalah hak cipta, serta ikutan bersama mantan Presiden ke-3 RI untuk nonton bareng pada bulan Maret lalu. Jika di tahun pertama saya banyak mendapatkan  kenangan, latihan, dan pengalaman, termasuk ketika pertama kali sebuah tulisan jalan-jalan dimuat dalam rubrik Freez pada harian nasional terbesar di Indonesia. Maka, untuk tahun kedua, entah berpuluh kali lipat tambahan manfaat yang saya dapat dari situs yang lahir tahun 2008 ini. Banyak manfaat dan dukungan dari kawan-kawan disini yang tidak dapat disebutkan satu persatu, mulai dari A hingga Z, serta admin, dan lainnya. Ketika tahun pertama mendapat hadiah Freez, maka untuk tahun kedua, "hadiah" yang saya dapat dari bergabung di Kompasiani ini lebih beragam lagi. Termasuk, beberapa kali menang di event tulisan yang diselenggarakan kawan Kompasianer. Juga baru-baru ini saat beberapa tulisan mengenai Narkoba, dimuat dalam media cetak dan situs Badan Narkotika Nasional (BNN). Belum lagi, tiga kiriman persahabatan dari kawan Kompasianer di Timur Tengah, Asia Timur dan Asia Tenggara, yang pastinya sangat berkesan. Masa dua tahun bergabung disini, tentu semakin menarik untuk terus dilanjutkan, dan kalau bisa lebih ditingkatkan dalam segi tulisan, persahabatan serta lainnya dalam menjejaki periode yang ketiga berikutnya. Semoga saja, semangat ala Mourinho dapat saya terapkan untuk menyongsong tahun ketiga di Kompasiana pada 2013 mendatang...

*      *      *

- Jakarta, 11 Oktober 2012