Mohon tunggu...
Choirul Huda
Choirul Huda Mohon Tunggu... Kompasianer sejak 2010

Penulis di Kompasiana (Kompasianer) yang hobi reportase untuk menulis catatan harian, musik, olahraga, fiksi, dan sebagainya. @roelly87 (www.roelly87.com)

Selanjutnya

Tutup

Catatan

Merayakan Idul Fitri Namun Tidak Lebaran

18 Agustus 2012   10:39 Diperbarui: 25 Juni 2015   01:34 1233 3 0 Mohon Tunggu...

Gema takbir terdengar berkumandang melalui para pedagang vcd dan kaset di pinggir pasar Kramat Jati, jalan Raya Bogor, Jakarta Timur. Lancarnya jalanan di ruas utama Ibu kota, bertolak belakang dengan kemacetan yang terjadi di sejumlah jalur mudik seperti jalan Kalimalang yang padat merayap.

Siang tadi (18/8), usai berkunjung ke kediaman sahabat di daerah Ciracas, Jakarta Timur, alunan gema takbir yang terdengar merdu itu, mengingatkan saya pada suasana Idul Fitri tiga tahun silam. Ketika itu, tahun 1999 untuk pertama kalinya merasakan suasana Lebaran, jauh dari keluarga.

Begitu trenyuh dan sepi, saat harus melewati malam takbiran di tengah kesunyian hutan. Biasanya, jika di rumah saat berkumpul dengan keluarga di Jakarta, kami melaksanakan malam takbiran dengan berkumpul bersama atau saling bertakbir ke Musholla. Namun, karena harus melaksanakan tugas di luar kota, membuat saya terpisah jauh dengan hanya mendengar lolongan Anjing di kejauhan hutan belantara.

Apalagi waktu pagi harinya, saat sebagian besar umat muslim melaksanakan ibadah sunnah Sholat Ied, saya dan beberapa kawan yang kebetulan tinggal di tambang pedalaman Sumatera, hanya bisa membayangkan saja. Tidak ada bedug, tidak ada ketupat, tidak ada opor ayam, dan tidak ada nastar terlezat di dunia bikinan Ibu tercinta. Yang ada hanyalah rerimbunan pohon yang tertata rapi di Bukit Barisan, dan saling bersalaman dengan rekan kerja yang tidak lebih dari lima orang.

Mengalami hal seperti itu dalam suasana Ramadhan dan Idul Fitri, sebenarnya tidak ingin dirasakan oleh kita. Karena, hanya dalam waktu setahun sekali, di Hari Raya Idul Fitri, hampir seluruh keluarga pada berkumpul bersama untuk saling bersilaturahmi dan berkunjung ke makam bila ada keluarga yang telah meninggal.

Tetapi tidak hanya saya sendiri yang mempunyai pengalaman seperti itu, banyak diantara kita yang juga punya kenangan khusus mengenai suka dan duka malam takbiran dan Idul Fitri, jauh dari keluarga tercinta. Beberapa kawan yang sering tidak mengalami suasana Lebaran, akibat tanggung jawabnya dalam pekerjaan, mengatakan bahwa awalnya memang sulit. Namun bila sudah terbiasa, maka perasaan akan kangen pada ketupat, dan lainnya menjadi tidak begitu terasa:

- Penjaga Mercusuar

Berbeda dengan saya yang meski pernah mengalami suasana Idul Fitri di pedalaman hutan, seorang kawan yang saat itu di tahun 2009, bekerja sebagai penjaga Mercusuar, pernah menyebutkan bahwa suasana yang dialaminya jauh lebih sedih. Sebab, jika di hutan, meski jauh dari kota namun jika bosan bisa berjalan kaki meski harus menempuh jarak puluhan kilometer.

Tetapi, kawan saya yang saat itu bertugas di sebuah pulau terpencil yang terletak di Balai Salasa, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, di Hari Raya Idul Fitri, hanya bisa membayangkan suasana nikmatnya berkumpul dengan keluarga dan saling bersalaman keliling kampung.

Pasalnya, saat itu (2009) belum ada satupun sinyal operator seluler yang menjangkau pulau terpencil itu. Jalan satu-satunya untuk melepas rasa kangen dan mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri pada Ibu, Ayah, Adik, dan keluarga lainnya, adalah dengan melakukan panggilan melalui telepon satelit. Kendati biayanya hampir mencapai sepertiga gaji bulanannya, namun tidak menghalangi niatnya. "Yang terpenting saya bisa meminta maaf pada Ibu, Ayah, dan keluarga lainnya di Bandung. Masalah mahal, itu urusan belakangan," ucapnya.

- Polisi

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x