Choirul Huda
Choirul Huda wiraswasta

Penulis di Kompasiana (Kompasianer) yang hobi reportase untuk menulis catatan harian, musik, olahraga, fiksi, dan sebagainya. @roelly87 (www.roelly87.com)

Selanjutnya

Tutup

Catatan

Angkie Yudistia, Mengubah Keterbatasan Menjadi Kesuksesan

22 Mei 2012   20:33 Diperbarui: 25 Juni 2015   04:57 2878 3 1
Angkie Yudistia, Mengubah Keterbatasan Menjadi Kesuksesan
13376689971550961445

[caption id="attachment_178395" align="aligncenter" width="583" caption="Angkie Yudistia dalam presentasi di sebuah kegiatan (Dok. AY)"][/caption] Sosok perempuan tangguh? Bagi saya, Ibu adalah sosok paling tangguh di dunia. Betapa tidak,  sembilan bulan susah payah mengandung lalu membesarkan anaknya hingga dewasa. Perjuangan dari seorang Ibu, sama sekali tidak mengenal kata lelah, mulai dari bangun tengah malam buta saat menyusui. Lalu menyiapkan makanan untuk keluarga, dan keperluan sampai sang anak sudah merasa mampu untuk mandiri... Di Kompasiana, salah satu sosok perempuan tangguh yang saya kenal adalah Ibu Aulia Gurdi dan Ibu Christie Damayanti yang berjuang demi keluarga dan juga kehidupan dirinya. Kemudian ada beberapa sahabat Kompasianer yang saat ini bekerja sebagai TKI di luar negeri, namun tetap aktif menyuarakan aspirasinya. Mereka ini adalah sosok perempuan nan tangguh yang tidak hanya berjuang demi masa depannya saja, melainkan untuk keluarga di tanah air. Selain itu ada beberapa nama lagi yang setidaknya, menurut saya pribadi adalah sosok perempuan tangguh dan sangat menginspirasi. Salah satunya adalah Angkie Yudistia, seorang perempuan yang menderita kekurangan pendengaran saat masih kecil, usia 10 tahun. Namun, justru dengan kekurangan tersebut membuat ia semakin percaya diri, hingga mengubahnya menjadi sebuah kelebihan. Saat keterbatasan tidak menjadikan sebuah belenggu. Beruntunglah bagi kita, mempunyai kelengkapan fisik yang terdiri dari lima indera: Penglihatan (mata), penciuman (hidung), pengecap (lidah), peraba (kulit) dan pendengaran (telinga). Angkie, sapaan akrab dari Angkie Yudistia, karena terlalu sering mengkonsumsi obat-obatan sejak kecil untuk mengatasi gangguan penyakit seperti flu, batuk dan demam. Lalu untuk mengobatinya oleh dokter di pedalaman sering diberikan obat antibiotik secara rutin hingga penyakitnya hilang. Jika kambuh, antibiotik menjadi obat yang ampuh dan mujarab untuk dirinya. Hingga akhirnya, obat-obatan tersebut sangat berpengaruh negatif untuk dirinya. Terutama pada bagian telinga, yang membuat Angkie di vonis oleh dokter tidak dapat mendengar...

*     *     *

" Keep your face to the sunshine and you cannot see the shadow ..." - Helen Keller (1880-1968) Bagi saya Angkie mirip seorang tokoh perempuan tangguh terkemuka yang lahir pada abad 19, Helen Keller. Perempuan yang hanya mempunyai tiga indera sepanjang hidupnya. Sementara penglihatan dan pendengarannya sama sekali tidak dapat berfungsi. Namun, dengan hanya mengandalkan dua indera yang merupakan suatu anugerah dari sang Pencipta. Ia dapat meraih impiannya dengan sukses. Helen Keller dikenal sebagai peraih gelar sarjana pertama yang tidak dapat melihat dan mendengar. Tetapi dibalik itu, semua kalangan dapat menyatakan bahwa senses disability atau keterbatasan panca indera sama sekali tidak membatasi kehidupan seseorang, apalagi membatasi kesuksesannya.

*     *     *

Jalan hidup Angkie yang getir sedari kecil, tidak menghalangi niatnya untuk terus berusaha, berusaha dan berusaha. Malahan, ejekan seperti "Alien" dari kawan-kawan dan sebagainya hanya dibalas dengan senyum manis walau terkadang geregetan. Lambat laun, Angkie mulai bisa menerima kehidupan dirinya yang mempunyai kekurangan. Karena, justru dari kekurangan itu membuat Angkie semakin termotivasi untuk berhasil dan menjadi seorang yang sukses, walau memiliki keterbatasan. Lulus dari kuliahnya di London School of Public Relations, dengan ipk yang tinggi 3,5. Menjadikan Angkie untuk terus maju dan tidak minder dengan kawan-kawan lainnya. Pengalaman jatuh bangun saat mulai mencari pekerjaan hingga sekarang memegang peranan penting dalam perusahaan, dijadikan Angkie sebagai ujian hidup yang memang harus dijalani. Angkie sendiri berujar, bahwa ia sendiri tidak malu mengakui bahwa dirinya adalah tuna rungu di dalam setiap melamar pekerjaan. "Kenapa mesti malu? Kalau mereka tidak mau menerima saya, pasti ada kesempatan lainnya." Begitu pula saat ia menerima panggilan interview, Angkie selalu memperhatikan penampilannya. Sebab baginya penampilan adalah yang utama, mau sepintar dan secantik apapun kalau penampilan tidak menunjang justru akan terkesan tidak baik bagi sang pewawancara. Sampai ia berhasil, dan mimpi masa kecil mulai menghampirinya. Kini, di usianya yang masih muda, 25 tahun. Angkie telah menjabat sebagai Chief Executive Officer (CEO) Thisable Enterprise. Sebuah perusahaan yang didirikan bersama kawan-kawannya untuk melakukan misi sosial, dengan membantu orang yang memiliki keterbatasan fisik agar tetap memandang cerah masa depan mereka. Selain itu, Angkie juga pernah menjadi finalis Abang None yang mewakili Jakarta Barat pada tahun 2008. Serta terpilih sebagai Miss Congeniality dari sebuah program di Natur-e, dan The Most Fearless Female Cosmopolitan di tahun yang sama. Usai mendapatkan gelar S2, Angkie mewakili Indonesia dalam ajang Asia-Pacific Development Center of Disability di Bangkok, Thailand. Angkie pun turut untuk terjun langsung ke lapangan, dengan aktif di berbagai kegiatan sosial untuk memberikan motivasi terutama dari kalangan yang memiliki kekurangan fisik. Seiring waktu, ia pune mengeluarkan buku perdananya yang berjudul "Perempuan Tuna Rungu Menembus Batas". Angkie mendedikasikan kepada orang yang memiliki keterbatasan seperti dirinya. Agar mereka juga bangkit, dan tidak hanya pasrah menerima keadaan yang ada. [caption id="attachment_178399" align="aligncenter" width="583" caption="Angkie Yudista dalam kegiatan bersama anak-anak penderita cacat"]

13376696161187026557
13376696161187026557
[/caption]

*     *     *

[caption id="attachment_178400" align="aligncenter" width="401" caption="Inilah Aku!!"]

1337669804787964316
1337669804787964316
[/caption]

*     *     *

[caption id="attachment_178401" align="aligncenter" width="401" caption="Saat launching buku "]

1337670081668199261
1337670081668199261
[/caption]

*     *     *

"Ingat! Ini hidup kita. Jadi mulailah melakukan apa yang kita sukai dan jangan terlalu memikirkan apa kata orang lain. Meski memiliki keterbatasan, kita itu punya kesempatan yang sama besar dalam meraih mimpi..."

- Angkie Yudistia, 5 Juni 1987

*     *     *

[caption id="attachment_178397" align="aligncenter" width="583" caption="Angkie dalam rutinitas sehari-hari"]

13376692181323180970
13376692181323180970
[/caption]

*     *     *

Sumber Foto: Atas seizin dari Angkie Yudistia Referensi: Angkie Yudistia, Helen Keller, Abang None Tentang Angkie Yudistia - Perempuan Tuna Rungu Menembus Batas, Kisah Inspiratif dari Angkie Yudistia - Belajar dari Angkie Yudistia, Perempuan Tuna Rungu yang Pantang Menyerah - Yuk, Ikutan Menulis Buku Antologi Sambil Beramal

*     *     *

Jakarta, 23 Mei 2012