Mohon tunggu...
Choirul Huda
Choirul Huda Mohon Tunggu... Wiraswasta - Kompasianer sejak 2010

Pencinta wayang, Juventini, Blogger. @roelly87 (www.roelly87.com)

Selanjutnya

Tutup

Catatan

Idul Fitri, Sepenggal Catatan di Bulan Puasa

3 September 2011   01:24 Diperbarui: 26 Juni 2015   02:16 416
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption id="attachment_127964" align="aligncenter" width="420" caption="sebuah catatan untuk Ramadhan tahun depan..."][/caption] Selama bulan Ramadhan kemarin, adalah saat-saat yang begitu mengesankan bagi pribadi saya sendiri. Bukan hanya ditilik dari materi saja, namun juga karena ada suatu perasaan yang lain dari pada lainnya. Khusus untuk Ramadhan tahun ini, kami Sekeluarga dapat merasakan kumpul bareng. Ya, akhirnya Ibu, Ayah, Adik dan Saya dapat merasakan suasana Puasa bareng dirumah. Setelah beberapa tahun kami jarang berkumpul (Biasanya, paling hanya tiga hari menjelang Idul Fitri dan sesudahnya) akibat kesibukan kerja masing-masing. Dan kalau dihitung-hitung, sudah genap lima kali Ramadhan kami jarang berada bersama-sama saat menunggu bedug maghrib atau detik-detik imsak. Kini dari awal Ramadhan saya dan keluarga dapat menikmati suasana kekeluargaan, mulai dari Taraweh (saya bolong-bolong), Sahur bareng, sampai Buka bersama. Bahkan hingga kemarin, Idul Fitri. Kami sekeluarga plus saudara sepupu pergi barengan ke makam Almarhum Kakek di TPU Karet Tengsin, Tanah Abang dan juga bersilaturahmi kepada Nenek di Bandung. tahun 2006 - saya pertama kali merantau, mudik hanya lima hari menjelang Lebaran tahun 2007 - saya merasakan Puasa di Kalimantan tahun 2008 - saya merasakan Puasa di Bandung dan Cirebon tahun 2009 - saya merasakan Puasa di Sumatera Barat (Padang, Dharmasraya dan Pesisir Selatan) tahun 2010 - sekalinya saya kembali ke Jakarta, eh Adik malah bekerja di Bandung tahun 2011 - Alhamdullilah, Kami sekeluarga Kumpul Bareng

*  *  *

Banyak suka dan duka yang kami alami kemarin, selama sebulan penuh. Mulai dari puasa saya yang bolong-bolong (kalau Sholat Taraweh, apalagi!), beberapa kali kami telat bangun sahur, Ketupat bikinan Ibu hampir Basi, tidak dapat rental mobil untuk mudik ke bandung, dan yang terakhir saat ngabuburit bareng keluarga di Kota Tua. Saat itu, rencananya kami hanya sekadar cuci mata saja, beserta beberapa Saudara sepupu untuk naik sepeda Onthel dan foto-foto didepan Museum Wayang. Entah kenapa mata kami tertuju pada penjaja tukar uang kertas baru didepan stasiun. Akhirnya kepikiran untuk menukar uang, yang niatnya dibagikan pada saudara saya yang masih kecil serta anak-anak tetangga yang usianya masih kecil. Saat itu kami imenukar uang sebesar 300 ribu rupiah, (pecahan 2.000 = 50 lembar, pecahan 5.000 = 20 lembar, dan pecahan 1.000 = 100 lembar). Dengan telaten kami menghitung uang baru itu dengan seksama, bukannya pelit atau tidak percaya. Namun tahun kemarin kami mempunyai pengalaman buruk, menukar uang pecahan seratus ribu, ternyata yang ada dalam plastik hanya sembilan puluh ribu. Mana sudah membayar "uang jasa" sebesar rp 10.000. Ga tahunya malah ketipu, rugi dua puluh ribu! Ketika saya mau bayar, eh pas merogoh saku belakang ternyata dompet saya tidak ada. Rupanya tertinggal dirumah, Akhirnya saya minta tolong sama Ayah untuk "ditalangi" sebentar, sampai rumah saya ganti. Rupanya Ayah juga tidak bawa dompet, beliau hanya bawa stnk dan sim yang menyantel di kunci mobil. Terus saya juga tanya ke Ibu, ga taunya sama saja. Begitu juga dengan adik dan sepupu lainnya, mereka semua rata-rata tidak bawa uang banyak. Hanya sekadar untuk foto-foto saat naik sepeda saja. Kemudian, setelah berembuk, terkumpul juga uang sebesar 130.000 ribu. Tapi uang segitu hanya cukup untuk ditukarkan dengan satu plastik pecahan dua ribu yang berjumlah lima puluh lembar.Dan juga bayar "uang jasa" 10.000, sisanya hanya ada 20.000.- Karena kesal sudah menunggu lama, lalu Ibu penjual jasa penukaran uang itu marah-marah. Ia bilang, sudah capek-capek nunggu dihitung uangnya, malah cuma dapet cepe. Dengan muka memerah, kami hanya bisa mengucapkan kalimat Maaf, yang berulang kali. Sampai Ibu itu ngeloyor pergi, dengan raut muka masam. (Maklum sudah nunggu uangnya dihitung lama-lama, eh kami malah cuma nukar seratus ribu. Maaf ya Bu :) Berhubung uang yang terkumpul hanya sekitar dua puluh ribuan, terpaksa deh acara foto-foto di sepeda Onthel batal. Hanya melihat keramaian sebentar di kota tua, kami memutuskan untuk pulang kerumah. Padahal masih jam empatan lewat, masih jauh ke Maghrib. Diperjalanan kami semua pada membicarakan tentang penukaran uang baru itu, Kadang kalau kami mengingatnya jadi malu sendiri, puasa-puasa kok bikin orang marah…!

*  *  *

Dibulan Ramadhan ini juga, waktu terasa sangat singkat. Rutinitas sehari-hari sepertinya berjalan sangat cepat, baru saja tidur eh sudah harus bangun sahur lagi. Terus setelah Subuh tidur sejenak, eh jam enam pagi harus memulai aktivitas kembali. Tapi agak sedikit berlainan kalau siang hari, justru disaat itu waktu terasa lama... Apalagi kalau sedang di kerjaan. Dari jam sembilan pagi ke jam tiga siang rasanya seperti menunggu berhari-hari lamanya. Tapi enaknya kalau sudah Ashar lewat, nunggu bedug Maghrib paling sekitar dua jam lebih. Dan itu justru yang paling ditunggu-tunggu. Buka puasa memang enak kalau dengan yang manis, asal jangan terlewat manis! Seperti di awal Ramadhan kemarin, saya buka puasa dengan rakusnya (dendam!), yaitu dengan dua gelas es ketimun suri, semangkok kolak pisang, kwetiauw beserta gorengan bakwan. Sempat rehat sejenak untuk diselingi sebatang rokok Djarum, melihat sirup cap ACB, saya langsung hajar segelas, lalu ditambah lagi Ibu bikin goreng Kroket (mirip Risol/ risolis) lagi-lagi dipindah tangankan dari piring kedalam perut saya. Hingga akhirnya, saya kekenyangan dan melupakan Sholat Maghrib, bahkan sampe Sholat Taraweh masih ga kuat bangun... Sampai-sampai, saking kemaruk atau rakusnya saat buka puasa. Adik saya berseloroh bahwa saya itu bukan niat puasa, tapi puasa dendam! Tetapi giliran waktu makan sahur, sangat sedikit yang dapat saya makan. Mungkin karena makan diwaktu malam, kurang begitu enak. Dan juga saya enggan untuk minum es apalagi sirup, takutnya ntar malah tambah kehausan.

Jadi kalau kata orang, puasa itu bikin kurus;

Saya justru sebaliknya, malah tambah gemuk...!

Selain itu di bulan puasa, aktivitas merokok saya pun malah meningkat drastis. Kalau siang puasa, malamnya malah kesetanan untuk terus merokok, melepus tiada henti. Dari waktu maghrib, jeda Sholat Taraweh ke Sholat Witir (biasanya ada Tausyiah/ ceramah, saya malah memilih di pinggiran Musholla untuk merokok satu batang) hingga ke detik-detik menjelang Imsak... [caption id="attachment_127965" align="aligncenter" width="400" caption="Ilustrasi kami saat Sungkeman Idul Fitri (http://anakkusayang.com)"][/caption]

*  *  *

Selain itu, berkat bulan Ramadhan saya jadi belajar banyak sabar, sabar, dan sabar. Seperti saat motor diserempet, saya tidak marah (entah kalau hari biasa), bangun tidur lebih teratur, sering ke Musholla, antusias dalam melirik jam, hingga kuat menjauhkan diri dari "godaan" duniawi. Dan, tahun depan semoga saja kami sekeluarga dapat berkumpul bersama lagi untuk menghadapi bulan Ramadhan 1433 H... ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬Selamat Hari Raya IDUL FITRI 1432 H Mohon Maaf Lahir & Batin ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬

*  *  *

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Catatan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun