Mohon tunggu...
Choirul Huda
Choirul Huda Mohon Tunggu... Kompasianer sejak 2010

Penulis di Kompasiana (Kompasianer) yang hobi reportase untuk menulis catatan harian, musik, olahraga, fiksi, dan sebagainya. @roelly87 (www.roelly87.com)

Selanjutnya

Tutup

Catatan Artikel Utama

Resensi Buku Jelajah Negeri Sendiri: Bertualang ala Reporter Warga

13 April 2014   10:19 Diperbarui: 17 Mei 2016   16:02 151 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Resensi Buku Jelajah Negeri Sendiri: Bertualang ala Reporter Warga
1397351741455238779

Satu lagi artikel yang dituliskan Kompasianer -sebutan untuk blogger di Kompasiana- berhasil dikumpulkan menjadi buku. Setelah September lalu Kompasiana merilis dua buku hasil karya Kompasianer berjudul Jokowi (Bukan) untuk Presiden dan Cinta Indonesia Setengah Hati. Awal April lalu menyusul buku Jelajah Negeri Sendiri: Catatan Perjalanan Merawat Nasionalisme yang diterbitkan Bentang Pustaka.

Bagi saya, Jelajah Negeri Sendiri ini sangat menarik untuk dibaca. Buku setebal 278 halaman ini seolah menjadi kawan dalam rutinitas saya sehari-hari. Sebab, Jelajah Negeri Sendiri ditulis langsung berdasarkan pengalaman dari Kompasianer itu sendiri yang bisa dijadikan sebagai referensi. Total, ada 30 Kompasianer yang turut berpartisipasi menuangkan pengalamannya berkeliling Indonesia ke dalam 57 artikel.

Itu terbagi dalam beberapa tema. Mulai dari berpetualang di alam bebas seperti pantai, pegunungan, hingga hutan belantara. Lalu, mengunjungi kawasan wisata daerah yang masih "perawan", alias belum terjamah oleh pemerintah baik itu pusat maupun daerah. Atau, napak tilas ke beberapa tempat bersejarah seperti candi, situs, maupun monumen yang ada di pelosok nusantara.

Tiga hari sudah saya melahap Jelajah Negeri Sendiri sebagai pengobat lelah disela-sela aktivitas menulis, baik di kantor maupun di blog (Kompasiana) yang bertema narkoba. Saya sangat terkesan dengan buku yang kata pengantarnya ditulis oleh pendiri Kompasiana, Pepih Nugraha. Sebab, banyak kisah menarik mengenai wisata di Indonesia yang diulas dengan gaya yang khas dari Kompasianer itu sendiri.

[caption id="attachment_303198" align="aligncenter" width="266" caption="Jelajah Negeri Sendiri (www.kompasiana.com/roelly87)"]

1397333261641694908
1397333261641694908
[/caption]

*     *     *

Mulai dari kisah menegangkan yang dialami Kompasianer Mas Ukik dalam artikel Badai Pasir Gunung Bromo. Tulisan tersebut mengenai perjuangannya untuk selamat dari semburan Gunung Bromo saat menjadi relawan untuk memberikan bantuan 26 ribu masker kepada masyarakat suku Tengger. Meski dalam bahaya, Kompasianer itu melukiskan pengalamannya dengan berbagai warna.

Terutama karena mereka bisa bersosialiasi dengan rakyat di pedalaman yang belum tersentuh teknologi. Bahkan, setelah  kejadian itu, Mas Uki dan keluarganya tetap tak lupa untuk mengabadikannya untuk kemudian dituliskan di Kompasiana sebagai reportase warga. Ya, reportase warga menjadi keunggulan Jelajah Negeri Sendiri yang tidak ada dalam buku bertema wisata lainnya.

Bagaimana rasanya melaksanakan Salat Ied di puncak gunung? Itu yang dialami Kompasianer Carrabiner saat mendaki Gunung Bawakaraeng yang terdapat di provinsi Sulewesi Selatan dalam tulisan Menyaksikan Salat Id di Puncak Bawakaraeng. Bagi masyarakat setempat, salat di gunung setinggi 2.829 itu sama artinya dengan naik haji sesungguhnya di tanah suci Makah. Dengan gaya tulisan yang memesona, Carrabiner mampu mengajak pembaca untuk tergugah. Apakah benar, salat di puncak gunung sama dengan di Makah?

Ada yang tahu Sungai Citarum? Sungai yang memiliki aliran sepanjang 300 kilometer ini merupakan kebanggaan masyarakat Jawa Barat. Sebab, sejak dulu banyak warga yang memanfaatkan sungai itu untuk sarana sehari-hari. Hanya, itu dulu. Sekarang sungai yang membelah kota Bandung itu bisa dikatakan sebagai septic tank terpanjang di dunia saking banyaknya sampah. Bahkan, hingga disorot media internasional.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x