Mohon tunggu...
Robi Firnando
Robi Firnando Mohon Tunggu... Penulis - Man Jadda Wajada

Tidak ada balasan kebaikan selain kebaikan pula (Ar-Rahman: 60)

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Semut Merah di Dinding Sekolah

18 Juli 2022   08:00 Diperbarui: 18 Juli 2022   08:05 311 5 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Foto bahagia X Broadcasting-Dokumen pribadi

     Hai, perkenalkan nama ku Aldo, tapi kesehariannya biasa di panggil Al. Dulu aku pernah menjadi seorang siswa yang cukup dikenal dengan keramahanya, sekedar informasi saja kalau aku orangnya juga cukup ganteng dengan memiliki wajah yang sejuk dipandang dan yah kurang lebih beda-beda tipislah dengan Rizky Aditya, bukannya sombong, tapi memang saat itu aku cukup jadi idaman bagi beberapa kalangan wanita disekolah, ya sebut saja mereka-mereka yang mengidolakan ku itu namanya bunga, mawar, angrek dan masih banyak lagi nama samaran mereka lainnya.

     Semasa sekolah aku tidak terlalu pintar dan juga tidak terlalu bodoh, walaupun awal-awal dulu aku pernah salah ketika diminta menulis kedepan oleh salah satu guruku yang mana kala itu aku diminta untuk menulis angka nominal satu juta rupiah, bodohnya aku angka yang ditulis nol nya kurang, aku tak ingat pasti berapa banyak nol nya yang kurang, tapi yang pasti dihadapan teman-temanku yang kurang lebih jumlah satu kelasnya ada sekitaran tiga puluhan orang dan alhasil tak terhelakan tawaan dan ejekan dari mereka termasuk guru ku yang hanya tersenyum saat menyaksikan kebagongan ku saat itu. Wkwkwk.

Melihat tingkah ku yang cukup polos, spotan guruku langsung bertanya.

“Kamu tidak bisa nulis angka sejuta ya?”. Ucap guruku.

Maklum saja aku ini anak yang berasal dari desa pergi merantau ke kota untuk mengeyam pendidikan yang lebih baik demi membanggakan orangtua dan keluarga serta mewujudkan mimpi dan cita-cita mulia.

Lalu kemudian dengan polosnya juga aku menjawab.

“Maaf pak, belum pernah pegang duit segitu”. Ucapku sambil senyum dan tertunduk malu sekali.

Suana kelas kembali riuh dan gemuruh, serasa berada dalam stadion megah saja saat itu. Sayangnya bila di stadion riuh gemuruhnya ialah untuk mendukung, tapi riuh gemuruh yang saat itu ku rasakan ialah ejekan dan candaan yang bila diambil hati bisa-bisa aku jadi down, tapi untungnya aku legowo dan mengakui kalau aku memang salah dan memang harus banyak belajar lagi, namanya juga kalau mau sukses memang harus gagal dahulu. Hihi

     Oh iya kembali ke awal cerita, kini posisi ku berada di sekolah yang mana aku dulu pernah jadi siswanya. Tapi bedanya, kehadiran ku kini statusnya bukan sebagai siswa, tapi sebagai orang tua. Yah sebut saja aku guru Agama. Jangan tanyakan kenapa aku bisa jadi guru, karena sungguh ini jauh dari prediksiku. Tapi dari kejadian ini, aku sadar bahwa sebagai manusia biasa aku hanya bisa merencanakan, hasilnya Tuhan yang tentukan. Menarik bukan? Begitulah hidup ini, kadang kita meminta sesuai dengan apa yang kita inginkan, padahal Tuhan yang Maha mengatur. Tuhan tahu apa yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan. So sweattt.

     Terhitung sejak tanggal tiga belas Juli dua ribu dua puluh sampai dengan sekarang aku berstatus aktif mengajar di sekolah, sekolah yang lain tidak bukan ialah sekolah ku dahulu yang mana sekolah ini cukup banyak cerita suka maupun duka yang memang pantas untuk ku ceritakan. Kini aku merasakan bahwa untuk menjadi seorang yang pantas di gugu dan di tiru tidaklah semudah membalikan telapak tangan atau semudah mengucapkan kata-kata indah. No! Everything must be done sincerely and without expacting a favor.

    Tepat di bulan Juli dua ribu dua puluh satu, aku diamanahkan untuk menjadi wali kelas. Kalian tahu apa saja tugas-tugas sebagai seorang wali kelas? Baik, aku akan coba ceritakan sedikit apa saja tugas-tugasnya. Oh iya, jangan lupa aku menyarankan untuk siapkan kopi atau minuman beserta cemilan kesukaan kalian ya, karena cerita yang akan ku bagikan ini, cukup menarik dan rumit, namun maaf tidak serumit cerita antara kamu dan dia, yang sampai dengan saat ini belum jelas mau dibawa kemana sih ceritanya. Eh, maaf lupa kalau ini bacaan publik. Hihihi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan