Mohon tunggu...
Roby Mohamad
Roby Mohamad Mohon Tunggu... pelajar/mahasiswa -

Hanya tidur, bermimpi, bangun, melamun, dan satu lagi: jarang mandi! :P

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Kehidupan Penulis Safinah, Syekh Salim bin Sumair

4 Februari 2016   10:24 Diperbarui: 11 Februari 2016   03:28 4372 2 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Dari Bumi Hadlramaut menuju Tanah Abang-Batavia

[POS KMNU-IIUM#2]

Sangat disayagkan bila kita telah menikmati sebuah karya, namun tak mengetahui siapa yang menulisnya. Terasa ada yang kurang, dan bisa jadi berkah ilmu kita bakal minus. Sebaliknya, mengenali sang penulis akan menjalin hubungan batin, sehingga cahaya ilmu yang tertransfer mampu menerangi relung hati pembaca.  Dalam konteks sekarang, kita telah menyaksikan betapa manfaatnya kitab Safinah. Tidakkah terbenak dalam hati kita; siapa, sih, sang penulis kitab tersebut?

Rahasia di balik kedahsyatan Safinah tentu, antara lain, terletak pada sosok penulisnya. Beliau adalah Syekh Salim bin ‘Abdillah bin Sumair. Seorang maha guru yang tak hanya bergulat dalam dunia pendidikan, tapi juga seorang qadli’ nan ahli politik, penasehat Sultan, sekaligus memiliki keahlian dalam bidang militer.

            Sang Mu’allim

Syekh Salim dilahirkan di desa Dzi Ashbuh, sebuah wilayah yang berada dalam lembah Hadlramaut dan di bawah kekuasaan Kerajaan Al-Katsiry (781-1387 H/1379-1967 M). Bin Sumair, yang sekarang di Indonesia -seperti di Solo- lebih dikenal dengan Bin Semir, merupakan keluarga yang melahirkan banyak tokoh ulama besar, panutan masyarakat sekitar Hadlramaut, tak terkecuali ayah Syekh Salim. Dengan bimbingan sang ayah, Syekh Salim telah menguasai Al-Qur`an Al-Karim di usianya yang masih belia. Beliaupun dipercaya sebagai pengajar Al-Qur`an, hingga diberi title “Mu’allim”, sebuah gelar kehormatan di wilayah Hadlramaut untuk seorang yang tekun mengajarkan Al-Quran. Dalam pengamatan Sayyid Umar bin Hamid Al-Jaylani hafidzahuLlah, gelar “Mu’allim” ini terinspirasi dari sebuah hadits riwayat Sahabat ‘Utsman bin ‘Affan ra;

“Sebaik-baiknya kalian adalah sesiapa yang belajar Al-Quran dan mengajarkannya.”  (HR. Al-Bukhari, no. 5027)

Meski telah menjadi “guru ngaji”, api semangat belajar Syekh Salim tidak pernah padam. Kepada sang ayah dan beberapa ulama besar Hadlramaut abad 13 H, beliau menimba pelbagai ilmu Syariat. Berkat kesungguhan, kecerdasan, dan tekun, Syekh Salim mendapat kepercayaan untuk ikut mengajarkan berbagai ilmu bersama para gurunya. Dalam waktu yang tak lama, namanya terkenal bagai mentari hingga mendapat pujian yang membanggakan dari kalangan guru-guru beliau sendiri, seperti Syekh Al-‘Allamah Abdullah bin Ahmad Basaudan (1178-1266 H).

Kemelut Katsiri-Yafi: Ahli Militer, Juru Damai dan Penasihat Sultan

Tidak berhenti pada prestasi intelektual saja, Syekh Salim juga dikenal sebagai sosok politikus yang diperhitungkan. Karena keahliannya di bidang militer, beliau diutus Kerajaan Katsiry ke India untuk mencari senjata perang tercanggih saat itu. Ini menunjukkan bahwa pada zaman beliau kondisi politik kerajaan sedang tidak stabil, dan diliputi kemelut peperangan serta perebutan kuasa.

Atas mandat sultan Katsiry tersebut, Syekh Salim akhirnya bisa mengenal “dunia luar” dan memulai pengembaraan pertamanya.  Setelah mengarungi lautan samudera dan melacak berbagai peralatan perang di berbagai wilayah India dan sekitarnya, beliau menemukan peralatan militer tercanggih justru di Singapura. Beliau langsung membeli dan mengirimkannya ke Hadlramaut.

Selain ahli strategi militer, beliau juga dikenal sebagai juru damai antar penguasa. Sebagaimana tercatat dalam sejarah, Kerajaan Al-Katsiry memiliki konflik politik berkepanjangan dengan suku Yafi` sejak tahun 926 H. Sepanjang tiga abad lebih sebelum Syekh Salim lahir, kedua penguasa ini saling berperang demi “rebutan kuasa” di berbagai wilayah Hadlramaut. Kemelut ini semakin memanas pada era Syekh Salim. Kisaran tahun 1264 H, daerah kelahiran Syekh Salim, Dzi Ashbuh dan sekitarnya menjadi saksi bisu pertumpahan darah merah antara pasukan Katsiry dengan Yafi`.

Demi kemaslahatan rakyat yang menjadi korban kekuasaan, Syekh Salim memainkan peran besar dalam rekonsiliasi perdamaian antara Yafi’ dan Kerajaan Al-Katsiry. Di akhir Rabi’ul Awwal tahun 1265, serangan 800 pasukan Yafi’ untuk menguasai kota Seyyun mengalami kegagalan telak. Kerajaan Katsiry menang dan menawan banyak prajurit Yafi’. Akhirnya, rekonsiliasi antar pimpinan mereka pun terjadi. Hasil mufakat memutuskan agar suku Yafi’ harus “diusir-balik” ke daerah asalnya, timur laut Teluk Aden[1], tidak boleh bergerilya lagi di wilayah Hadlramaut[2].

Berkat jasa dan manuver politiknya, Syekh Salim diangkat sebagai penasihat pribadi Sultan Abdullah bin Muhsin Al-Katsiry[3]. Di awal karier, sang sultan sangat patuh dan tunduk dengan segala arahan dan nasehat Syekh Salim. Namun, seiring berjalannya waktu dan saratnya kepentingan, ia enggan mendengar petuah Syekh Salim, bahkan cenderung meremehkannya. Ini yang menjadikan hati Syekh Salim terluka, hingga mendorongnya untuk hijrah meninggalkan tanah air menuju India, kemudian menetap di Batavia sebagai akhir pengembaraan kedua sekaligus terakhir.

Dari Bumi Hadlramaut, Berdakwah di Batavia

Kami belum menemukan tahun berapa Syekh Salim hijrah dan tiba di Batavia. Data sejarah yang kami dapat hanya menjelaskan bahwa setelah tinggal di Batavia, sebagai seorang tokoh terpandang, kabar hijrah ini tersebar luas. Masyarakat pun datang berduyun-duyun untuk menimba ilmu dan memohon doa keberkahan kepada beliau. Karena antusias masyarakat setempat, Syekh Salim mendirikan berbagai majelis ilmu dan dakwah. Dalam berdakwah dan membumikan syariat Islam di Batavia, Syekh Salim bin Sumair dikenal sangat tegas menegakkan kebenaran, apapun resikonya. Beliau menyayangkan para ulama yang mendekat, bergaul, apalagi menjadi “budak” para pejabat Kolonial Belanda yang menguasai Batavia sejak tahun 1621 M. Tidak jarang beliau memberi nasihat dan kritik tajam kepada para ulama-kiai yang gemar mondar-mandir kepada pemerintahan Belanda.

Dongeng Martin van: Seteru Syekh Salim dengan Mufti Betawi Sayyid Utsman

Namun, perlu kami tegaskan disini ketidaktepatan Martin van Bruinessen. Dalam bukunya, Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat, ia mengungkapkan konflik Syekh Salim bin Sumair terhapad pendirian Sayyid Utsman bin Yahya (1238-1331 H/1822-1913 M) yang sudi menjabat Mufti Betawi. Kritikan dan konflik ini tidak pernah terjadi, sebab Syekh Salim telah wafat tahun 1271 H/1855 M terdahulu sebelum Sayyid Utsman bin Yahya memulai dakwahnya di Batavia sekitar tahun 1862 M/1279 H. Kemungkinan yang bertemu dengan Syekh Salim saat itu adalah Mufti Betawi sebelum Sayyid Ustman, yaitu Syekh Abdul Ghani (1801-1933 H). Wallahu a’lam

Terlepas dari “dongeng” Martin van Bruinessen, Syekh Salim memang dikenal sangat zuhud, dan anti dengan pemerintah lalim. Ini sudah terbukti dengan tekad hijrahnya dari Kerajaan Katsiry yang sudah tidak pro-rakyat, apalagi saat di Batavia yang pemerintahannya adalah penjajah kolonial Protestan Belanda yang anti-Islam.

Kepribadian dan Akhir Hayat Syekh Salim di Tanah Abang

Selain keteguhan prinsip, Syekh Salim bin Sumair adalah tipikal ulama Akhirat yang tak pernah luput berdzikir dan sangat istiqamah melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran. Dikisahkan oleh Syekh Ahmad Al-Hadlrawi, bahwa Syekh Salim senantiasa mengkhatamkan Al-Quran saat beliau thawaf, mengelilingi Kakbah. Figur ulama yang perlu kita teladani dan hidupkan kembali spiritnya dalam keseharian kita.

Beliau menghabiskan akhir hayatnya di Batavia dengan mujahadah dan dakwah. Hingga kini, kami belum melacak kehidupan pribadi Syekh Salim selama di Batavia; apakah beliau menikah dengan penduduk setempat dan memiliki keturunan? Apakah marga Bin Semir, yang tinggal di Jakarta, Solo dan lainnya merupakan keturunan Syekh Salim ini? Masih teka-teki yang belum terungkap.

Akhir sejarah Syekh Salim yang terekam mewartakan kepada kita bahwa pada tahun 1271 H/1855 M, Syekh Salim bin Sumair terpanggil ke rahmat Allah Swt, dan meninggalkan beberapa karya ilmiah untuk kita telaah dan amalkan. Diantara warisan ilmu beliau adalah kitab Safinatun Najah yang akan menjadi topik pengajian online kita ini, insya Allah, dan kitab Al-Fawa`id Al-Jaliyyah fiz Zajr ‘an Ta’athil Hiyalir Ribawiyah (Hikmah-hikmah Jeli di Balik Larangan Saling Memberi melalui Trik-trik Tipudaya Ribawi).

Makam beliau tidak semasyhur kitabnya, Safinah, padahal sangat mudah untuk kita jangkau. Jasad beliau dikebumikan di bawah Mihrab Masjid Al-Ma’mur, Tanah Abang, Jakarta-Indonesia. Semoga kita dapat menziarihinya, dan Allah memberi kita kekuatan untuk mengikuti prinsip perjuangan Syekh Salim bin Sumair, yang senantiasa Allah rahmati.

Lima Soalan Historis

Mengakhiri biografi Syekh Salim, kita perlu mawas diri bahwa perhatian kita kepada sejarah Syekh Salim masihlah minim. Belum ditemukan kajian historis secara holistik tentang peran Syekh Salim sebagai tokoh besar selama di Hadlramaut, dan juga saat bermukim di Tanah Abang, Batavia. Data yang kita dapat sekarang hanya sedikit memotret serpihan-serpihan jejak hidup beliau secara singkat, bagaikan puzzle yang perlu dipecahkan. Akhirnya, penulis merasa masih banyak misteri yang masih perlu digali lagi. Meninggalkan lima pertanyaan yang belum bisa terjawab;

1) Siapa yang mengajarkan beliau keahlian militer

2) Tahun berapa Syekh Salim pertama kali menuju India dan Singapura untuk mencari peralatan perang tercanggih

3) Kebijakan Sultan Katsiri seperti apa yang menyulut “amarah” Syekh Salim, hingga rela meninggalkan tanah air tercintanya, bagaimana kronologisnya

4) Kapan lagi beliau sampai di India untuk kedua kalinya, dan kapan pula tiba di Batavia

5) Kapan beliau menuliskan Safinah Najah dan apa yang melatarbelakanginya

Setidaknya, dengan menjawab lima pertanyaan historis ini, kita akan sedikit banyak menguak puzzle tersebut, dan semakin mampu menelusuri jejak-jejak hikmahnya di balik tirai kehidupan beliau yang sangat menarik. Sebab, pada abad tiga belas Hijriah hingga sekarang, sangat jarang ditemukan seorang álim ulama “multi-talenta”: ahli militer, pakar politik hingga menjadi penasihat Sultan, namun secara misterius meninggalkan seluruh jabatan duniawi tersebut, lalu berhijrah ke bumi asing nan jauh dari tanah airnya.

Sebagai penutup, mari kita sama-sama membaca al-fatihah yang dihadiahkan untuk Syekh Al-‘Allamah Al-Qadli Al-Khabir As-Siyasi Salim bin Abdlillah bin Sumair, semoga amal kebajikan beliau Allah lipatgandakan balasannya, ruhnya senantiasa diliputi rahmat rabbaniyyah, dan kita bisa melanjutkan api perjuangan dakwah beliau di bumi pertiwi. Amiin, ya Rabbal ‘alamin.

Rabu Senja di Ampang-Kuala Lumpur, 03 Februari 2016

___________

Sumber utama dari Pengantar Sayyid Umar bin Hamid Al-Jaylani hafidzahullah atas Kitab Ad-Durratul Yatimah syarhus  Subhatust Tsaminah nadzmus Safinah, hal. 18-20.

[1] Lihat: Wikipedia
[2] Lebih lengkap, baca: situs samaaden
[3] Dalam pengantar Syarh Ad-Durratul Yatimah, Sayyid ‘Umar bin Hamid Al-Jaylani hafidzahuLllah menuturkan nama Sultan Abdullah bin Muhsin Al-Katsiry, yang otomatis berkuasa pada tahun 1265-an. Namun, setelah kami lacak dalam sejarah Kerajaan Al-Katsiry, Sultan Katsiry saat itu adalah Sultan Ghalib bin Muhsin Al-Katsiry dengan masa kekuasaan sejak tahun 1261 H/1845 M hingga wafat pada 1287 H/1870 M. Versi lain menyatakan tahun wafatnya 1853 M di Arafat saat menunaikan ibadah Haji.

Jadi, siapa sultan Katsiry yang menjadikan Syekh Salim bin Sumair sebagai penasihatnya? Wallahu a’lam. Ini memerlukan kajian lebih teliti dan referensi yang lebih. Semoga ke depan ada yang menelitinya lebih jeli. Amin.

*) Ditulis untuk pengantar kedua Pengajian Online Safinah (POS) KMNU IIUM dan Kalam Ulama

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan