Mohon tunggu...
Robert Dacing
Robert Dacing Mohon Tunggu... Jurnalis - Menjahit Kebenaran

Jurnalis Terbaik Bukannya Tanpa Salah, Tapi Mengoreksi Tanpa Lelah

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

"Aman Lambung", Momen Kesempatan dalam Kesempitan

25 November 2020   22:59 Diperbarui: 25 November 2020   23:19 99
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
via lifestyle.bisnis.com

Aman lambung, begitulah sebuah istilah yang digunakan oleh remaja daerah Manggarai belakangan ini. Berbicara tentang Manggarai kita harus ligat peta dahulu, soalnya Manggarai itu lebih dari satu. Yang saya sebutkan ini adalah Manggarai yang berada di pulau Flores, provinsi NTT. Serta merupakan salah satu kabupaten di provinsi NTT. 

Kiranya dari sanalah istilah "Aman Lambung" ini berasal. Tepatnya diciptakan dan dipopulerkan oleh anak remaja yang sering bertemu di area tongkrongan. 

Sebagaimana diketahui, lambung adalah organ dalam tubuh manusia yang berfungsi untuk menampung makanan setelah dikunyah mulut manusia. Selain itu lambung juga adalah organ tubuh lainnya sebelum usus yang mencerna makanan dalam tubuh manusia.Ketika kelebihan makanan dalam tubuh manusia entah makanan itu enak atau memiliki kandungan zat asam berlebih maka manusia akan terkendala sebuah gejala penyakit lain seperti "Asam Lambung".

Saya tidak sedang menyoal fungsi lambung, cuman menyesali posisi lambung sebagai dalih atau alasan lain  kenapa istilah aman lambung ini begitu dominan dimulut orang yang mengucapkannya hingga menyebar sebagai istilah populer.

Katanya, penggunaan istilah aman lambung ini dipakai sebagai perinsip nyeleneh alias candaan berbau parodi. Banyak hal kenapa harus dan harus istilah ini dipakai. Berpacu pada konteks istilah ini diciptakan ketika situasi kepepet soal pangan di kala pagebluk menyerang. 

Selain pagebluk masalah sakit dompet atau penyakit ekonomi seperti gejala kanker (Kantong Kering) datang menghampiri. Jika ditelaah, menyoal ini cukup tidak berfaedah bagi sesama manusia yang tidak pusing dengan maksud saya menyampaikan ini. 

Tidak masalah, jika tidak penting untuk dibahas atau disoalkan, toh kita juga harus legowo kalau sudah sering menjadi pelaku mengamankan lambung ini. Maafkan jika keberatan untuk saya bahas.Tolong maafkan! sebab ini demi keselamatan anggaran orang lain dari kita yang mencerna makanan dari bantuan orang tanpa peduli terhadap kualitas isi otak.

Dalam beberapa kesempatan ada-ada saja ulah para master pengaman lambung ini. Kita bisa temukan di berbagai hajatan, seperti; acara pesta, arisan, kondangan dan lain-lain. 

Celakanya orientasi yang digaungkan hanyalah isi perut sebagaimana fungsi lambung, bukan pada bagaimana makna yang diambil setiap perjumpaan. 

Perhatikan kerumunan saat kampanye politik yang terjadi, di situlah para rombongan acara itu berulah demi elektabilitas lambungnya walaupun tinggal tebar janji sana-sini atau memakan hak rakyatnya. Tidak cuma melibatkan para rombongan pendusta sejati itu, sebagian besar yang ikutan nimbrung cuman hadir tanpa tahu bagaimana role model sebuah visi-misinya kandidat. Baik dan benar intinya "Aman Lambung".

Parahnya, soal aman lambung ini sering terjadi pada beberapa orang yang mengaku sebagai intelektual. Ingat yah, katanya sih kaum intelektual. Sesering mungkin mereka menjelma sebagai ahli-ahli dari berbagai mazhab pengetahuan. Selalu dan selalu ingin tampil beda dengan karakter elegan untuk menjadi tokoh, entah itu tokoh baju ataukah apapun sejenisnya. Mereka menjadi pelaku penyintas sebuah gerakan politik musim kampanye demi urusan perut sebagaimana dimaksud dalam arti aman lambung itu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun