Mohon tunggu...
Robbi Gandamana
Robbi Gandamana Mohon Tunggu... ilustrator

Tidak ada tulisan yang istimewa. Yang ada hanyalah nasib baik.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Cerpen | Romantisasi Segala Bidang (Mencari April)

12 Februari 2019   10:13 Diperbarui: 12 Februari 2019   16:24 0 11 7 Mohon Tunggu...


"Apa yang anda pikirkan, Imron?" Pertanyaan yang menyebalkan itu menyambutku saat iseng-iseng kubuka akun fesbukku pagi itu. Mikirno ndasmu Mbul.

Ternyata banyak teman yang tag aku di postingan-postingan politik recehan. Bongkeng nge-tagg aku di postingannya soal prestasi presiden Jokowi. Aku juga di-tagg di postingan Tarno Superpell (office boy kantor) soal dukungan pada Capres Prabowo. Ada juga yang menjebloskan aku di group #2019GantiWakilPresiden.

Opo-opoan se rek. Padahal aku sudah berkoar-koar sejak lama kalau aku seorang apolitis. Tapi masih saja dilibatkan dan dijebloskan di grup-grup pendukung Capres. Asli buang-buang waktu dan energi saja.

Tahun politik yang menyebalkan. Baliho, poster dan spanduk kandidat Capres terpasang di mana-mana. Hari-hari dipenuhi orang yang sibuk menyanjung tinggi jagoannya. Di warung, di pangkalan ojek, di terminal, di toilet umum, bahkan di rumah ibadah. Apalagi kalau sudah kampanye via pawai motor,  suara knalpotnya sungguh merusak gendang telinga. Obat kopok larang Mbul.

Tapi di medsoslah yang paling "berdarah-darah". Lha wong soal memilih Capres kok disamakan kondisinya seperti Perang Salib. Yang satu dianggap Capres pro Islam, yang satunya dituduh Capres  pro kafir. Gembloeng.

Aku nggak tahu kenapa orang-orang itu begitu berapi-api menyanjung tinggi jagoannya. Bahkan rela mati demi membela seseorang yang sama sekali tidak dikenalnya. Yang tidak akan membela bila ditagih debt collector motor Onda. Aku nggak tahu kenapa. Mungkin karena kehidupan seksnya menyebalkan. Who knows lah.

Lahir nama-nama beken bermunculan di panggung politik. Sebut saja Roki Kentrung, Ratna Sarungterompet, dan banyak lagi. Yang lain ramai memuja mereka, yang lainnya lagi menghujat habis-habisan.  Dan aku di sini menggelar tikar menikmati tontonan absurd tapi sangat menjual itu.

Aku sama sekali tidak tertarik dengan isapan jempol politik praktis. Di samping karena nggak paham politik juga karena aku sedang jatuh cinta (oalaaa, pantatsss). Pada seorang bidadari SNI--> Aprilia Dewi Pertiwi. Seorang akhwat Salafi.

Sebenarnya aku sudah berusaha keras melupakan  dia sejak "kejadian yang mengecewakan" kemarin. Tapi kenyataannya aku nggak bisa. Aku seperti seseorang yang berlayar menjauhi pantai, tapi setelah jauh di tengah samudera aku diseret oleh angin kembali ke pantai.

Aku jenis lelaki yang sulit melupakan perempuan, tapi kalau disakiti, aku tidak mudah untuk kembali. Dia sama sekali tidak pernah menyakiti perasaanku. Walau pernah mengekecewakanku sedikit. Tapi it's oke, nggak prinsip. Aku menjauh karena merasa tidak layak (bermimpi) memilikinya. Sekarang pun masih sama: tidak berharap memilikinya.

Aku hanya ingin memulainya kembali dari awal. Aku nggak tahu kenapa aku ingin melakukan itu. Aku ini aneh, tidak berharap tapi ingin remidi. Apakah karena aku belum "nembak" dia? Nggak ah, konyol. Aku nggak butuh diterima atau ditolak. Justru malah takut kalau cintaku diterima. Jangankan membayangkan, bermimpi pun aku tidak berani kalau hal itu terjadi.

Hubungan yang serius dengan perempuan Salafi nggak cukup hanya mengandalkan cinta saja Mbul. Aku nggak mau cinta model "Poninya Andika Kangen Band" (sudah tahu nggak cocok tetap dicocok-cocokan).

Aku jelas jauh dari kriteria calon "imamnya". Bahkan sama sekali nggak masuk kriteria. Aku suka dan bermain musik, aku hobi menggambar mahkluk bernyawa, aku pakai celana jins ketat yang menutupi mata kaki, aku tidak berjenggot, dahiku tidak gosong (overdosis sujud), aku melakukan semua yang diharamkan oleh manhaj Salafi.

Ngomong soal gambar, intermezo sebentar, memang ada hadits yang menyinggung pelarangan menggambar mahkluk bernyawa. Yang menyebutkan bahwa siksaan yang paling pedih di neraka adalah tukang gambar. Di neraka mereka dipaksa meniupkan ruh pada karya gambarnya.

Hukum atau pelarangan soal gambar itu lahir di saat bangsa Arab Jahiliyah masih menggunakan patung, gambar atau lukisan sebagai berhala atau media ibadah menyembah selain Allah. Jadi sekarang hukum itu sudah batal, karena zaman sekarang orang menggambar tidak untuk dijadikan berhala atau sesembahan. Ingat, hukum itu berlaku kondisional.

Tuhan itu Maha Perupa dan manusia adalah pengenjawantahan dari diri Tuhan, kok manusia tidak boleh menggambar. Menggambar atau melukis itu bukan untuk menandingi Tuhan. Tapi itu salah satu bentuk ekpresi atas kekaguman manusia pada keindahan ciptaan Tuhan.

Menggambar itu cuman alat yang bisa jadi sarana menambah kecintaan kita pada Allah atau malah melupakanNya. Jadi bukan menggambarnya yang dilarang, tapi apa dan untuk apa kita menggambar. Semua tergantung niat, konsep dan tujuannya.

Oke, kembali ke soal April.

Kuamat-amati (diam-diam aku mengawasinya dari jauh) April yang sekarang sudah semakin Salafi saja. Mungkin sebentar lagi dia akan pakai cadar. Semoga tidak. Kalau itu terjadi, nggak tahu apakah aku akan tetap jatuh hati padanya atau tidak. Yang jelas aku akan merindukan senyumnya yang indah, giginya yang sedikit abu-abu dan jerawat kecil di pipinya yang menurutku sexy. Ojok ngomong sopo-sopo.

Dia terlalu "istimewa" untukku, aku nggak bakalan bisa memilikinya. Tidak di kehidupan ini, mungkin di kehidupan yang lain. Semoga kami dipertemukan di surgaNya. Dan aku akan meminangnya di sana. Tapi aku nggak ingin cepat-cepat pergi ke sana sih.

Di surga kita nggak jadi makhluk sosial, semua sibuk dengan kesenangannya sendiri. Di sana nggak ada tantangan, semua sudah tersedia, tinggal minta.  Yang jelas di sana nggak ada rokenrol. Apa asyiknya.

Makanya orang yang kedalaman ilmu agamanya mumpuni lebih mengharapkan Allah daripada surga. Karena kalau dapat Allah, otomatis dapat surga. Karena tauhid itu sejatinya menyatukan diri dengan Allah, bukan dengan surga. Surga itu nggak penting! Fokuskan dirimu hanya pada Allah.

****
"Kamu kelihatan lain hari ini, " celetukku saat aku melangkah bareng di tangga kantor menuju ruang kerja. Setelah sama-sama absen di mesin fingerspot.  Sebuah kesempatan yang langka bisa ngobrol berdua (perlu disuaka).

"Lain apa mas, kayaknya tiap hari aku seperti ini.." tanya April heran. Senyumnya pun mengembang. Senyuman terindah yang belum pernah kutemui, yang mungkin bisa meredakan darah tinggi, stroke dan serangan jantung. Aku jadi paham kenapa  tersenyum itu termasuk sedekah.

"Tumben, rokmu bermotif. Biasanya polosan. Kalau nggak hitam, abu-abu, magenta atau biru dongker saja..." jawabku. Saat itulah obrolan kami terputus karena seorang teman perempuannya yang berjalan di depan kami menyapa April. Dan April pun menyusul temannya dan meninggalkanku sendirian di belakangnya. Asem, adegan ngobrol di tangga menuju ruang kantor pun di-cut.

Tapi memang April nggak ingin ngobrol denganku, pria yang  bukan mahramnya. Aku tahu itu, tapi aku nekad mendekatinya. Makanya saat aku sudah dekat dia dan menyapanya, dia langsung mempercepat langkah. Walau itu nggak berhasil karena aku tetap bisa mengimbangi langkahnya. Dan akhirnya terjadilah obrolan tadi. Kapok koen.

Thank you so muachh ya Alloh, aku bahagia banget pagi  itu. Pertama, karena April nggak benar-benar mengacuhkan aku. Kedua, aku dapat kesempatan bisa ngobrol dengan dia. Jiwaku seperti mendapat siraman rohani berember-ember. Basaahh.

Alhamdulillah, walau cuman ngobrol semenit, tapi efeknya seharian. Semangat kerjaku meningkat dahsyat. Kerjaan yang seharusnya tiga hari kelar, dalam sehari beres. Aku menjelma Hulk. Pekerjaan kantor yang sebelumnya terasa berat jadi sangat terasa ringan. Ayo sini kasih aku order gambar lagi, akan kusikat habis! (Lambemu Mbul).

Dan sekarang aku sangat merindukan obrolan-obrolan singkat seperti itu. Asem.

****
Orang-orang masih sibuk ngomong politik dan menyanjung tinggi pilihan Capresnya, sementara hari-hariku penuh imajinasi tentang indahnya April. Bagi lelaki lain, April mungkin perempuan yang biasa saja. Tapi bagiku luar biasa.

Mereka terbiasa menilai perempuan dengan bodi terbuka. Sedangkan aku menilai dari kesantunannya, pribadinya, dan kealimannya. Tentu saja dari parasnya juga.

Nggak tahu kenapa seleraku pada perempuan berbeda dari yang  sudah-sudah. Aku jadi nggak suka perempuan yang pamer belahan dada.

Mungkin maqam-ku sedang naik kelas. Semoga. Ingat, semakin tinggi tingkat spiritualitas seseorang, semakin memahami betapa cantiknya wanita. Kecantikan yang akan tampak tanpa perlu berbusana terbuka, tanpa perlu pamer lekukan dan tonjolan dada.

Sialan, ternyata aku masih belum "sembuh" benar dari penyakit kasmaran. Bahkan tambah parah. Kupikir aku sudah mulai melupakan April, tapi ternyata malah jadi fan die hard number one-nya. Ajur Jum.

Orang-orang  berdebat panjang soal visi dan misi masing-masing Capres. Sedangkan aku sama sekali nggak perduli. Aku hanya perduli apapun yang menyangkut soal April. Urusan percintaan lebih penting daripada urusan Capres.

Jangan pernah kalian libatkan aku dalam debat politik. Aku sudah neg bicara politik. Persetan dengan visi misi kalian. Aku punya visi dan misiku sendiri. Visi dan misi dari seorang lelaki yang sedang jatuh cinta. Pokoknya nothing but love.

Visi dan misiku cuman satu: romantisasi segala bidang. Apa pun yang kulakukan harus mencerminkan cinta dan keindahan. Jalan depan kost akan kugambari bunga dengan  cat warna-warna pastel yang lembut. Di pingir jalan akan kutanami segala macam tanaman berbunga. Apa pun yang bisa kulakukan yang bermuara pada keindahan akan kulakukan. Dan itu semua kudedikasikan hanya untuk April.

Pokoknya bagaimana caranya hidup hanya bicara cinta dan cinta. Nggak punya apa-apa tapi banyak cinta. Semua terasa mewah kalau kita menyikapinya dengan cinta. Itulah alasan kenapa aku terus mengekalkan budaya jatuh cinta.

April mungkin tidak akan pernah menjadi milikku. No problem, Itu sama sekali nggak merisaukanku. Seperti kata seorang penyair sufi Umbu landu Paranggi, "Cinta itu bukan fisik dan juga bukan materi. Maka cinta yang sejati adalah yang tidak menikahi."

(Bersambung)

- Robbi Gandamana, Solo 12 Februari 2019-

* Cerita Sebelumnya




KONTEN MENARIK LAINNYA
x