Robbi Gandamana
Robbi Gandamana swasta

tak perduli..jika dengan menulis ini tak menjadikanku apa-apa...tapi setidaknya aku sudah memberi warna pada dunia

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Rocker Salafi (Mencari April-3)

3 Januari 2019   14:27 Diperbarui: 3 Januari 2019   16:51 938 11 5


"Ali Imron, dipanggil bos!" teriak Admin kantor padaku pagi itu yang cukup membuatku ndlahom. Tumben bos pagi-pagi begini sudah manggil-manggil. Edan ya'e.

---Nama lengkapku memang Ali Imron, tapi aku lebih suka dipanggil Imron. Kalau pakai nama Ali takut dikira penganut Syiah dan diteriaki "sesat!". Repot. Muslim sekarang itu sensitif banget dan sukanya mensesat-sesatkan orang---

Ternyata si bos cuman ngasih briefing soal orderan buku baru untuk anak PAUD. Dia meminta aku sebagai ilustrator agar gambarnya nanti dibedakan karakter wajah dan tubuh antara anak PAUD, TK dan SD. Aku mengiyakan saja omongannya, sakarepmu bos. Kalau berani nginterupsi, urusan jadi panjang dan berlarut-larut sampai larut malam.

Kalau soal kerjaan, si bos ini tahan ngomong dua hari dua malam nonstop. Apalagi kalau sebelumnya makan ulat Hongkong. Kayak burung Murai aja.

Eh, aku khan mau meneruskan kisah kasihku dengan April. Lha kok malah cerita soal kantor.
 
Jujur saja, aku malas meneruskan kisah ini karena aku nggak pandai mengkisahkan roman picisan cinta-cintaan. Aku lebih bisa bicara soal seni atau rokenrol. Aku nggak paham cinta. What!? Cintahhh!?? Ada yang bilang  cinta itu kayak poninya Andika Kangen Band. Sudah tahu nggak cocok, tetap dicocok-cocokan.

Tapi sayang kalau romancinta bertiga eh, romantika bercinta ini tidak dikisahkan. Anggap saja ini sebagai biografi singkat  tentang kisah cintaku yang konyol. Karena mengharapkan seseorang yang sangat jauh dari jangkauanku. Yo wis lah, nggak papa konyol. Karena konyol itu indah. Asal tidak hina.  

Kamu tahu, April itu bukan jenis  perempuan yang asyik untuk dikejar-kejar, diajak pacaran. Perempuan jenis ini inginnya langsung dilamar. Itu tantangan luar biasa bagiku.

Dan itu membuat aku merasa nggak akan bisa meneruskannya. Aku nggak cocok dengan dengan cara ini. Menjalin hubungan serius tapi tanpa penjajakan itu gambling. Seperti kembali ke zaman sepur kluthuk saja. Aku nggak pernah akur dengan isapan jempol soal perjodohan. Sori.

Sebulan lebih aku menunggu. Basa-basi di inbox kemarin dan tawaran pertemanan belum mendapat tanggapan. Dan itu menguatkanku, bahwa aku benar-benar nggak bisa meneruskan ini. Pada perempuan yang moderat saja aku kesulitan dalam melakukan pendekatan, apalagi yang Salafi.

Payah, belum apa-apa sudah menyerah.

Bulan Desember telah tiba
Hujan yang dinanti datanglah sudah
Kubuka lebar pintu jendela
Menikmati aroma tanah basah

Tapi ini gundah masih saja meraja
Karena harapku padamu terasa sia-sia
terlalu lama terbuai ekspektasi
mantra sakti jadi basa-basi

Tiap malam aku bunuh diri
Tiap pagi aku lahir kembali
Tiap hari aku membunuh masa lalu
Tapi tak cukup bisa melupakanmu


****
Pagi itu  aku berpapasan lagi dengan April di depan mesin absen fingerspot. Setelah cap jempol dan mesin berbunyi "tengkiyu", aku langsung berusaha membarengi langkah April menuju ruang kerja di lantai 3. Yang hanya berjarak 30 detik dari lantai 1 dengan jalan kaki naik tangga. Dan itu seolah-olah menjadi 30 detik yang menentukan hidup matiku.

Setelah say hello dan memuji penampilannya, aku pun berbasa-basi mencoba mengakrabkan diri. Sok akrab banget, babah wis. Pokoknya kali ini harus lebih baik dari kemarin. Aku memberanikan diri menyinggung soal pesanku di inbox-nya kemarin yang belum juga dibalas olehnya.

"Kamu punya akun fesbuk khan?"
"Iya, kenapa mas?"
"Kamu jarang online ya?"
"Nggak juga sih.."
"Aku kemarin inbox kamu. Sampai sekarang kok nggak di bales sih? Sengaja yaaa?"
Dengan wajah polos plus senyum nyengir, April bilang, "Ooh itu panjenengan to mas. Maaf mas, saya hanya mau bales message pada orang yang sudah kenal."
"Uasemm. Ya sudah, sekarang sudah kenal khan? awas kalau besok nggak dibales lagi," ancamku bercanda sebelum akhirnya kami pisah ke meja kerja masing-masing.

Siangnya aku cek inbox fesbuk. Dan pesanku sudah dibalas dengan singkat, padat dan..salah : "oke mas Imron, boleh." (Masih ingat pesan inbox-ku dulu khan? Kalau belum, baca "Mencari April bagian 2").

Baiklah.

Itulah awal aku dan dia inbox-inbox-an ngobrol ngalur ngidul di fesbuk. Hampir tiap hari aku kirim pesan ke dia. Ada kalanya langsung dijawab, ada kalanya sampai berhari-hari baru dijawab. Menunggu jawaban membuatku lesu jaya. Seperti seorang korban Tsunami yang menunggu bantuan dari pemerintah.

Sampai 2 bulan lamanya sejak pertama kali aku inbox dia, aku belum berani ngasih sinyal kalau aku punya rasa sama dia. Aku takut dia semaput, shock, nggak siap menerima. Perempuan kalau sudah begitu biasanya langsung menghilang dari peredaran. Kalau itu terjadi, aku akan memulainya dari nol lagi, atau tidak sama sekali alias tamat.

Jadi lebih baik aku tunggu sampai saat yang benar-benar tepat sambil menikmati prosesnya. Tapi kalau dia  peka, harusnya tahu apa yang sedang terjadi. Cukup dengan merasakan aura, gelagat dari kata-kataku yang tercipta saat  ngobrol dengannya di inbok fesbuk. Coba saja rasakan aura obrolannya :
 
"Kamu aslinya dari mana sih?"
"Boyolali mas. Memangnya kenapa?"
"Oh enggak, saya kira dari kayangan."
"Kok bisa???"
"Kukira kamu itu titisan Ainul Mardhiah, bidadari surga."
"Pretttt...guomballl."

*****
Hari-hari berganti, bulan demi bulan kulalui  terasa lebih berwarna. Walau hubunganku dengan April tidak pernah meningkat ke level igra 4 (memangnya belajar ngaji). Dan memang hubungan via inbox ini cukup membuatku mati gaya. Pedekate ke perempuan Salafi kadang menyebalkan. Tapi No Pain No Gain, nggak ada pengorbanan, nggak mungkin ada hasil.

Ingin rasanya melanjutkan ke level yang sangat serius---> melamar dia (What!? Ciyus? Enelan?? (diam loe!)). Hanya itu senjata pamungkas menaklukan perempuan Salafi. Tapi nggak mungkin aku jadi salafi. Karena juga nggak akan pernah ada yang namanya Rocker Salafi.

Salafi itu madzhab  Islam tingkat tinggi. Mereka memurnikan Islam seperti Islam di zaman Rasulullah. Aku nggak bisa seperti itu. Menurut pemahamanku, zaman Rasulullah beda banget dengan zaman kita sekarang. Di zaman Rasul, kehidupan sosial budaya masyarakatnya jahiliyah. Hukum Islam lahir karena keadaan itu. Jauh beda dengan budaya dan karakter bangsa kita sekarang.

Agama diturunan di masyarakat yang akhlaknya tidak tertolong. Bukan karena bangsa Arab lebih baik dan unggul. Ingat, Tuhan tidak rasis.

Harusnya hukum itu berlaku kontekstual dan kondisional. Artinya hukum itu harus menyesuaikan keadaan. Nggak tekstual, cuman dibaca doang. Pelajari ada apa di balik ayat.  Tapi maaf, aku tidak bermaksud mendiskreditkan Salafi. Silakan saja anut madzhab yang paling masuk nalar dan logikamu. Aku gak ngurus. Aku menghormati perbedaan.

Ngomong agama nggak akan pernah ada habisnya.

Akhirnya kebuntuan menghantuiku lagi. Kemampuanku hanya sampai di level inbox fesbuk. Mungkin dia hanya cocok jadi kekasih virtualku, atau aku memang lelaki pengecut. Beraninya via inbox. "Datangi rumahnya, lamar dia, " kata hatiku mencemooh. Ah sudahlah, aku sudah cukup bahagia dengan pencapaian ini. Seandainya ini cuman mimpi pun aku sudah bahagia. So what!?


-Robbi Gandamana-

Bagi yang belum baca kisah sebelumnya, klik di bawah ini : 

Bagian satu, Bagian dua.