Mohon tunggu...
Rizky Kurniawan
Rizky Kurniawan Mohon Tunggu... Pribadi

Ilmu Komunikasi di Universitas Islam Syekh-Yusuf Tangerang

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen | Tikus yang Dibiarkan Mati di Jalan

18 Maret 2018   11:47 Diperbarui: 18 Maret 2018   23:16 0 4 3 Mohon Tunggu...
Cerpen | Tikus yang Dibiarkan Mati di Jalan
Freepik.com

Seminggu sudah aku dibawa Wahid ke pabrik tempatnya bekerja. Aku mulai hafal jalan mana yang kami lalui. Lurus, ikuti jalan, pertigaan pertama belok kiri; ikuti jalan lagi sampai ketemu lampu merah di perempatan pasar, belok kiri lagi; ikuti jalan sampai ketemu perempatan pasar berikutnya, kali ini belok kanan; susuri terus jalan yang kanannya berjajar pabrik, dan kirinya mengikuti sungai besar nan keruh lagi bau, serta di seberangnya berdiri kokoh perumahan cukup mewah.

SUMPAH. Beneran aku, tak salah sebut. Perumahan itu dibatasi sungai yang bau minta ampun. Anehnya---mungkin sudah biasa berdekatan dengan bau menyengat sampah atau malah limbah pabrik yang dibuang seenak udel---kulihat banyak orang berjalan biasa saja dengan aroma busuk semacan itu. Hanya satu-dua orang terlihat menutup hidung dan mengenakan masker.

Aku bersama kendaraan lain berjejal mengisi jalan dengan tujuan masing-masing. Hampir dipastikan pemilik dari mereka adalah pegawai pabrik. Lihat di depan, motor bebek yang suaranya mirip kaleng yang diikat dengan benang lalu ditarik di aspal, sudah berbelok ke gerbang pabrik bertuliskan No. 8. Satu lagi, motor matic jumbo keluaran terbaru yang masih mengilat juga berbelok di pabrik sebelahnya, No. 88. Ada lagi, Ninja 4 Tak, berban tipis dan bersuara nyaring berbelok sembarangan ke pabrik sebelahnya lagi, No. 8 A.

Jangan heran, awalnya aku pun kebingungan, kenapa hampir semua pabrik bernomor 8? Tapi kemudian tak kuambil pusing, mungkin saja semua pengusaha di sini meyakini bahwa angka tersebut adalah hoki, angka keberuntungan.

Aku bersama Wahid berbelok di depan pabrik yang dari gerbang sampai bangunannya bercat biru. Nomornya, tentu saja 8. Aku cukup suka dengan aroma pabrik ini, bau jelly yang tengah dimasak. Tentu saja, ini memang pabrik jelly kemasan yang cukup terkenal di pasaran.

Setelah Wahid melepas jaket dan memasukkannya ke dalam bagasi, dia mengecek sebentar perlengkapan kerjanya, memastikan juga bahwa bekal makan siang yang dibuat ibunya tak lupa dia masukkan. Kemudian berangkatlah dia ke area gedung tempatnya bekerja. Setelahnya aku tak tahu bagaimana dia bekerja, bekerja sebagai apa dia di dalam, dan bersama siapa saja dia bekerja? Ya, aku ditinggalnya di tempat parkir bersama motor dan mobil milik pegawai pabrik lainnya, dari yang mentereng sampai dengan yang rombeng, menunggu hingga pukul lima sore datang. Begitu seminggu ini berlangsung.

**

Perkenalkan, aku Evo. Motor bebek 110 cc keluaran tahun 2011, berwarna merah dan hitam dengan tangki bensin yang muat hampir 4 liter, serta tidak berpelek racing yang masih bugar sampai hari ini.

Wahid, pemuda 21 tahun itu adalah pemilik keduaku setelah Pak Faisal yang merupakan guru di Banjar Sari, Lebak, Banten. Aku dibawa dari Lebak ke Tangerang menggunakan mobil bak terbuka. Tak pernah tahu aku, kapan Pak Faisal bertemu wahid untuk membicarakan penjualanku? Yang kuingat adalah saat Pak Faisal mengelus jok, lalu memegang kemudiku dan berucap pelan, "Terima Kasih." Malamnya aku dibawa ke Tangerang.

Menginjakkan roda pertama kali di Tangerang, aku merasa berbeda sekali. Tidak sejuk, cenderung panas, ramai dengan kendaraan dari yang mewah sampai yang asap kenalpotnya ngebul, dari yang berjalan santai sampai dengan yang berlari ugal-ugalan. Aku merasa takut sekaligus takjub. Kurasa memang begitulah hidup sebagai motor, dilaju-kencangkan sampai titik maksimal.

Dulu, Pak Faisal tidak pernah memerlakukanku begitu. Paling-paling dia menarik gas sampai jarum spidometer naik ke angka 40. Tak pernah lebih. Maka ketika Wahid untuk kali pertama mengemudikanku, kutaruh harapan dan hasrat sebagai motor pada kekuatan tangannya. Dan BOOM! Hanya 60 Km/jam kecepatan maksimal yang dia inginkan sejak kali pertama mengemudikanku sampai sekarang. Hanya 20 km lebih cepat dari Pak Faisal. Tak pernah kutahu apa alasannya. Apakah dia takut ada bagian dariku yang akan lepas jika ditariknya gas hingga kecepatan maksimal? Hei, aku tak setua yang kau kira. Masih GRESSS!

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x