Mohon tunggu...
Faris Saputra Dewa
Faris Saputra Dewa Mohon Tunggu...

orang yang mau berbagi adalah orang yang mulia, meski hanya berbagi pemikiran dan segala hal lewat tulisan

Selanjutnya

Tutup

Politik

Soal GMBI, Premanisme Masa Kini, dan Revolusi Mental

15 Januari 2017   04:13 Diperbarui: 15 Januari 2017   09:27 1400 1 0 Mohon Tunggu...

Beberapa hari terakhir, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (GMBI) menjadi sorotan karena aksi anarkis yang dilakukan oleh anggota GMBI terhadap anggota Front Pembela Islam (FPI).

Keberadaan LSM atau Ormas yang mengatasnamakan rakyat seringkali meresahkan karena terdiri dari sekumpulan orang-orang (mayoritas anggota aktifnya adalah laki-laki dewasa) yang tidak memiliki pekerjaan tetap, dan tidak jarang menawarkan jasa pengamanan kepada mereka yang membutuhkan dan yang sanggup bayar, tentunya.

Organisasi ini biasanya eksis di daerah yang sedang berkembang, para anggotanya cenderung angkuh ketika sedang bertugas dan mengenakan seragam kebesaran organisasinya. Mereka yang menggunakan jasa organisasi ini merasa lebih nyaman menggunakan jasanya untuk pengamanan ketimbang meminta bantuan pihak kepolisian, karena perusuh lebih takut jika harus berurusan dengan preman ketimbang aparat.

Karena dianggap menjanjikan dan dapat menghasilkan uang, organisasi ini semakin banyak jumlahnya. Pengurus organisasi yang tak kunjung naik jabatan, memilih untuk berdiri sendiri bersama rekan-rekannya yang juga inginkan hal yang sama. Tidak jarang terjadi duel antar organisasi, hanya karena berebut lahan kekuasaan. Mereka berperang menggunakan senjata tajam, saling baku hantam, dan tidak jarang memakan korban jiwa. Saking brutalnya duel yang terjadi, tidak ada satupun pihak yang berani melerai (termasuk mereka yang berwenang).

Mereka yang menang dalam pertempuran akan menguasai daerah yang diperebutkan, biasanya organisasi ini akan kuasai lahan parkir dan keamanan di pasar dan kios. Setiap harinya akan ada pengurus yang menarik iuran dari pedagang dengan dalih 'uang keamanan'. Jika ada yang menolak untuk membayar, maka organisasi itu akan mengusik keamanan si pedagang.

Pada dasarnya, LSM dan Ormas itu memiliki tujuan yang mulia, yaitu sebagai wadah untuk mempersatukan warga, menjaga semangat gotong royong yang dulu jadi identitas bangsa ini. Makanya saya lebih tertarik menyebut LSM yang anarkis sebagai Organisasi preman, karena mereka hanya membawa kepentingan kelompok, bukan kepentingan masyarakat.

Sudah lebih dari dua tahun semenjak Presiden Joko Widodo dilantik sebagai RI-1, nampaknya Revolusi Mental hanya sekedar wacana saja. Banyak dari mereka yang tertarik untuk gabung organisasi preman karena lebih menghasilkan, juga sebagai tambahan karena pekerjaan mereka yang serabutan.

Untuk menghindari agar organisasi preman ini tidak terus tumbuh dan meresahkan, harus ada perubahan pola pikir masyarakat, bahwa kekerasan bukan solusi untuk tetap bisa bertahan hidup. Pemerintah juga sebaiknya mendukung usaha kecil dan menengah agar bisa berkembang dan menyerap tenaga kerja yang lebih banyak lagi.

Intinya saya tidak mau menyalahkan siapapun terkait maraknya organisasi preman saat ini. Karena eksistensi mereka didasari oleh kondisi hidup yang semakin sulit. Kalau memang pemerintah peduli terhadap rakyat kecil, sudah saatnya mereka dibina dan diarahkan. Semakin banyak pemuda yang tidak memiliki pekerjaan yang jelas, akan semakin banyak juga yang bergabung dengan organisasi preman.

Sebagai catatan saja, diluar sana masih ada LSM atau Ormas yang tidak menjadi preman dan meresahkan. Jika anda memperhatikan dengan seksama, anda akan bisa membedakannya tanpa harus terlibat didalamnya.

VIDEO PILIHAN