Mohon tunggu...
Rizqah Fauzani F
Rizqah Fauzani F Mohon Tunggu... Pelayan

Cita-cita boleh tinggi tapi, pandanglah realitas yang sekarang. untuk memulainya dari hal yang kecil.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Mareso, Budaya Palli-Palli ala Bugis

24 Oktober 2020   14:21 Diperbarui: 24 Oktober 2020   14:33 36 6 1 Mohon Tunggu...

Tulisan ini sepertinya akan tertuju bagi adik-adik remaja, sepantaranku, dan kakak-kakak saya yang sudah terkontraksi akan dunia Oppa-oppa. Seperti peralihan kiblat music, fashion, hingga jagad hiburan dari Hollywood ke dunia K-Pop yang menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi masyarakat wilayah Asia (wah, ini suatu prestasi). 

Ada banyak informasi yang terlalu sering kita dilewatkan. Selain fokus pada kegantengan Oppa-oppa dari negri ginseng ini, juga keunggulan dalam dunia intertaimen mereka, ternyata tidak luput dari kesadaran kepemerintahan yang mengakomodir sumber daya tersebut yang mengakibatkan potensi perekonomian negaranya meningkat.


Tenang sahabat, tulisan ini ngak akan membahas perihal Sistem Kapitalisme ataupun Hubungan Multilateral negara Kor-Sel (Soalnya berat tau hehe).Melainkan menyinggung budaya dan kebiasaan positif mereka yang dapat menjadi sebuah contoh tauladan bagi kita. 

Tampaknya, kebudayaan yang mereka punya itu telah dimiliki oleh masyarakat nusantara di negri kita sendiri lho, jauh dari abad-abad yang lalu.
Sebelum itu, Apakah kalian pernah mengetahui atau mendengar tentang budaya "Palli-palli" di negara K-Pop ? (semoga aja belum yah, biar pembahasanku tidak garing hehe. tapi, bagus juga kalau ada yang sudah tahu ^_^).

Jadi sahabat-sahabatku, Budaya "Palli-palli" ini memiliki makna bahasa yang berarti "Cepat-cepat"atau kebiasaan warga Korea Selatan dalam melakukan suatu pekerjaan dengan gercap. 

Mengapa bisa seperti itu ?, sebenarnya ada banyak sebab yang membuat mental dan karakter orang di negara tersebut. Sehingga menjadikan Palli-palli ini sebagai sebuah prinsip dalam berkehidupan. Baik dalam menjalani sosial masyarakat sampai pada etos kerja dalam sebuah perusahaan Industri.


Salah satu penyebabnya adalah latar belakang sejarah orang Korea Selatan yang telah dijajah oleh negara Jepang sejak tahun 1905 hingga akhir Perang Dunia II dan membelah korea menjadi Korea Selatan dan Korea Utara. Hal itu menyisakan sebuah trauma Psikologis masyarakat Kor-Sel untuk lebih memacu negara mereka agar dapat melewati kemajuan negara yang telah menjajahnya.


Yah, lebih kepada pengamalan laku dan pengaturan waktu. Bagaimana mereka benar-benar menjadikan waktu adalah sebuah hal yang dapat berpengaruh terhadap dompet pribadi dan kebutuhan keluarga masing-masing. Meski yang terbangun dikalangan masyarakatnya lebih condong indivilualis karena perihal paham kapital itu (eh, sorry, tadi saya udah janji tidak menyinggung hal-hal yang berat hehe).


Selain itu, pandangan orang yang berada di negri Oppa-oppa menanamkan "Palli-palli" sebagai filosofi kehidupan untuk membangun kemajuan negara mereka dari keterperosokan setelah terjadinya penjajahan terhadap mereka oleh Jepang. Bukan kah hal ini adalah keteladanan yang perlu diperhatikan dan dihayati bagi kita sebagai masyarakat yang sudah terkontaminasi oleh pengaruh budaya Oppa-oppa ?.

Ternyata, kita memiliki budaya yang jauh lebih lama adanya dan melekat pada tradisi kebudayaan orang lokalitas nusantara. Seperti budaya yang telah dimiliki masyarakat suku bugis. Jika di Korea Selatan disebut dengan Budaya Palli-palli, maka dalam masyarakat suku bugis memiliki budaya Mareso'. Budaya ini sudah melekat erat pada orang-orang suku bugis yang memahami tentang pentingnya semangat kerja dengan menghargai waktu.


Sekedar berbagi untuk sahabat-sahabatku, Mareso' atau kata yang berasal dari Reso' yang mempunyai arti "Usaha" merupakan salah satu bentuk prinsip masyarakat bugis dari wujud nilai Siri' (konsep menjaga harga diri dari pelanggaran adat atau rasa malu yang tinggi) yang mempunyai makna mendalam bahwa "bekerjalah sekeras mungkin", "berusahalah sampai kau mendapatkannya".


Kita tentunya sering kali mendengarkan cerita-cerita orang tua dulu perihal tentang bagaimana mereka dan masyarakat bugis di kampung telah mengatur waktu untuk disiplin dalam melakukan pekerjaan. Dimana dulu sampai kini, budaya untuk bekerja secara bersungguh-sungguh diawali dengan bangun subuh. 

Karena dominan masyarakat bugis menganut agama Islam, maka bangun subuh , melaksanakan sholat subuh, dan berangkat kerja pada waktu subuh merupakan gambaran generasi yang berkualitas bagi mereka (sepertinya, hal ini bukan hanya ada pada orang-orang bugis tapi, suku lainnya  juga hehe) .

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x